Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) pada Juni 2021 berada di level 103,59 atau naik 0,19% dari posisi Mei 2021 yang berada di angka 103,39. Naiknya NTP itu lantaran terjadi peningkatan di tiga subsektor.
"NTP pada Juni 103,59. NTP naik 0,19% dibandingkan bulan lalu, karena indeks yang diterima naik 0,01%, sedangkan yang dibayar turun 0,18%," ujar Kepala BPS Margo Yuwono saat menyampaikan rilis secara virtual, Kamis (1/7).
NTP merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks yang dibayar petani. Bila angka NTP berada di atas 100, dapat dikatakan terjadi peningkatan harga yang diterima petani.
Margo memerinci, peningkatan NTP terjadi karena kenaikan indeks pada subsektor tanaman pangan dari 96,85 pada Mei 2021 menjadi 97,27 pada Juni 2021 atau naik 0,43%. Lalu terjadi peningkatan pula pada subsektor tanaman perkebunan rakyat dari 118,41 pada Mei 2021 menjadi 119,25 pada Juni 2021, naik 0,71%.
Subsektor lain yang mengalami kenaikan yakni peternakan. Pada Mei 2021 indeks peternakan berada di angka 99,84 dan mengalami kenaikan sebesar 0,33% sehingga pada Juni 2021 indeks peternakan berada di level 100,16. Sedangkan subsektor hortikultura tercatat mengalami penurunan 2,41% dari 101,42 pada Mei 2021 menjadi 98,98 di Juni 2021.
Naiknya NTP tak iikuti dengan indeks nilai tukar usaha petani (NTUP). BPS mencatat NTUP pada Juni 2021 berada di posisi 103,88 atau turun 0,16% dari Mei 2021 yang berada di level 104,04. Sama dengan NTP, NTUP memiliki empat subsektor yang memengaruhi indeks secara keseluruhan.
NTUP merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks yang dibayar petani untuk produksi dan penambahan barang modal. Dari empat indeks subsektor tersebut, dua di antaranya mengalami peningkatan dan dua lainnya mengalami penurunan.
Indeks tanaman pangan tercatat mengalami peningkatan 0,05% dari posisi Mei 2021 di angka 97,47 menjadi 97,52 pada Juni 2021. Lalu subsektor tanaman perkebunan rakyat tercatat naik 0,32% dari 119,73 pada Medi 2021 menjadi 120,11 pada Juni 2021.
Sedangkan subsektor hortikultura mengalami penurunan sebesar 2,62% dari posisi Mei 2021 di angka 101,87 menjadi 99,20 pada Juni 2021. Lalu subsektor peternakan juga tercatat mengalami penurunan sebesar 0,01% tapi tak mengubah indeksnya dari posisi Mei di angka 99,61. (OL-14)
Selain mahasiswa Polstat STIS yang terdiri dari 227 mahasiswa dan 283 mahasiswi, BPS juga mengerahkan 50 pegawai BPS Pusat, serta pegawai BPS di kabupaten/kota terdampak.
AKHIR 2025 publik dikejutkan hasil tes kemampuan akademik (TKA) jenjang SMA yang menunjukkan rata-rata nilai mata pelajaran wajib berada pada level yang relatif rendah.
Harga cabai rawit yang sempat membubung hingga Rp75.000 per kg, sekarang Rp38.000 per kg. Pun, cabai besar merah harga jual di pedagang Rp40.000 per kg.
BPS mencatat inflasi Desember 2025 sebesar 0,64 persen (mtm). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau, khususnya cabai rawit dan daging ayam, menjadi penyumbang terbesar.
KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman memberikan pandangan terkait angka inflasi Desember 2025.
Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi kelompok provinsi dengan tingkat inflasi bulanan tertinggi pada Desember 2025.
SERANGAN organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama tikus yang semakin masif di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memaksa para petani mengambil langkah ekstrem.
Mak Comblang Project, sebuah inisiatif yang bertujuan mempertemukan langsung petani dengan dapur MBG.
Kehadiran personel TNI dan dukungan pemerintah provinsi memberikan suntikan semangat baru bagi petani serta pemerintah daerah, terutama di tengah tantangan keterbatasan fiskal.
Kementan memulai tahap rehabilitasi lahan sawah pascabencana di sejumlah wilayah Sumatra.
KENAIKAN Nilai Tukar Petani (NTP) periode 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dinilai tidak langsung cerminkan petani semakin sejahtera.
Pupuk bersubsidi kini lebih murah dan mudah ditebus. HET turun 20%, petani Garut sudah bisa tebus pupuk sejak awal 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved