Selasa 20 April 2021, 17:05 WIB

Pengembangan Ekonomi Hijau Tekan Impor dan Jaga Lingkungan

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Pengembangan Ekonomi Hijau Tekan Impor dan Jaga Lingkungan

Antara
Rumah warga yang berada di sekitar PLTB wilayah Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

 

PRESIDEN Joko Widodo menginstruksikan seluruh jajaran menteri untuk mengakselerasi penerapan ekonomi hijau. 

Upaya tersebut harus dilakukan untuk memaksimalkan seluruh potensi di Tanah Air. Sehingga, bisa menekan laju impor dan mengurangi risiko kerusakan lingkungan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyebut salah satu cara yang dinilai ampuh untuk masuk ke ekonomi hijau adalah mengembangkan pemakaian energi baru terbarukan (EBT).

"Tadi kami sampaikan kepada Bapak Presiden, dalam upaya pengurangan emisi, Indonesia perlu mendorong sumber EBT sebagai bauran energi nasional," ujar Arifin seusai mengikuti rapat paripurna di Istana Negara, Selasa (20/4).

Baca juga: Pemerintah Dorong Pembangunan Industri Berkelanjutan

Saat ini, lanjut dia, pemanfaatan EBT di Tanah Air baru sebesar 10,5 giga watt (GW) atau hanya 2,5% dari total potensi. Pada 2025, pemerintah menargetkan penggunaan EBT bisa dimaksimalkan hingga 24 ribu GW atau sekitar 28%.

"Untuk mencapai target itu, backbone-nya tentu dari pembangkit listrik tenaga surya. Kita berharap dalam perkembangannya, pembangkit tersebut bisa semakin makin ekonomis," imbuh Arifin.

Hilirisasi batu bara juga masuk ke dalam rancangan kerja yang mendukung ekonomi hijau. Diketahui, Indonesia merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di dunia.

Sayangnya, produk tersebut kerap diekspor dalam jumlah besar secara mentah, tanpa menghasilkan nilai tambah. Padahal, batu bara bisa diolah menjadi berbagai produk, seperti metalurgi batu bara, batu bara kokas dan gas, yang ironisnya selama ini masih diimpor.

Baca juga: Potensi Capai 417 GW, Energi Terbarukan Terus Diupayakan

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menekankan bahwa pemerintah berupaya mengembangkan bahan bakar solar dengan bauran minyak kelapa sawit hingga 100%.

"Idenya, kita bisa menghasilkan bensin, diesel maupun avtur 100% dari bahan baku kelapa sawit. Saat ini, dengan menggunakan katalis dari ITB, kita sudah uji coba di kilang minyak Pertamina. Harapannya, bisa masuk skala produksi," jelas Bambang.

Kemenristek juga tengah mengembangkan biogas yang memanfaatkan limbah sisa sawit, untuk kemudian digunakan sebagai tenaga pemasok listrik di perkebunan sawit. Hal yang tidak kalah penting ialah pengembangan baterai lithium yang diharapkan menjadi pengganti BBM pada kendaraan bermotor.

"Semua upaya pengembangan EBT ini sejatinya memiliki tujuan yang jelas, yakni mengurangi impor dan menjaga kelestarian lingkungan," tutupnya.(OL-11)

 

Baca Juga

Dok.BNI

BNI Gandeng JRB Fasilitasi Pinjaman Yen ke Ichii Industries Indonesia

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 15:32 WIB
BNI berupaya proaktif dalam menjalankan peran sebagai agen pembangunan yang memfasilitasi masuknya investasi ke Tanah...
ANTARA FOTO/Fauzan

AirAsia Resmi Kembali Terbangkan Rute Bali-Perth

👤Fetry Wuryasti 🕔Senin 16 Mei 2022, 14:44 WIB
Penumpang penerbangan QZ537 dari Perth ke Bali membawa 142 penumpang yang mayoritas adalah Warga Negara...
Foto/Courtesy Youtube

Survei Ungkap 56,4% Responden Masih Sulit Dapatkan Minyak Goreng

👤Fetry Wuryasti 🕔Senin 16 Mei 2022, 14:16 WIB
Hasil survei Lembaga Indikator Politik Indonesia menunjukkan  tingkat kesulitan mendapatkan minyak goreng menurun menjadi 56,4% pada...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya