Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

PLN dan Borneo Indobara Perkuat Energi Bersih lewat Pembelian 23.040 REC

Naufal Zuhdi
12/2/2026 05:23
PLN dan Borneo Indobara Perkuat Energi Bersih lewat Pembelian 23.040 REC
ilustrasi(PLN)

Akselerasi transisi energi bersih di sektor pertambangan Indonesia terus menunjukkan kemajuan. PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menjalin kerja sama strategis dengan PT Borneo Indobara (BIB) melalui penandatanganan perjanjian jual beli Renewable Energy Certificate (REC). Dalam kesepakatan yang berlangsung di Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Minggu (8/2), BIB resmi menambah pembelian 23.040 unit REC yang merepresentasikan pemanfaatan listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) setara 40.000 MVA.

Kerja sama ini menegaskan komitmen kedua pihak dalam mendorong praktik pertambangan ramah lingkungan atau green mining, sekaligus memperkuat upaya pengurangan emisi gas rumah kaca di sektor industri berat.

REC sendiri merupakan sertifikat digital yang merepresentasikan atribut lingkungan dari setiap satu megawatt hour listrik yang dihasilkan dari sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, air, maupun panas bumi. Melalui skema ini, pelanggan dapat mengklaim penggunaan energi hijau tanpa harus membangun pembangkit EBT secara mandiri, karena listrik disalurkan melalui jaringan PLN yang telah dilengkapi mekanisme verifikasi berbasis sistem pelacakan elektronik.

Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menyatakan bahwa layanan REC menjadi salah satu instrumen utama PLN dalam mendukung transformasi energi industri nasional.

“PLN berkomitmen menyediakan solusi listrik hijau yang andal dan kompetitif. Melalui REC, pelanggan industri dapat menggunakan listrik berbasis EBT secara penuh sebagai bagian dari strategi keberlanjutan mereka,” ujar Adi.

Di sisi lain, Chief Operating Officer PT Borneo Indobara, Raden Utoro, menilai kolaborasi ini sebagai langkah krusial bagi kelangsungan operasional tambang yang semakin bergantung pada pasokan energi bersih dan stabil.

“Keandalan listrik menjadi kebutuhan utama karena gangguan pasokan bisa menghentikan seluruh aktivitas tambang. Dukungan PLN sangat penting bagi realisasi program green mining kami,” kata Raden.

Raden menjelaskan, kebutuhan daya BIB diproyeksikan terus meningkat seiring pengembangan operasional, dengan estimasi beban puncak mencapai 200-240 MVA pada 2028. Dalam roadmap perusahaan, elektrifikasi alat berat ditargetkan mencapai 25 persen pada 2026, meningkat menjadi 75 persen pada 2028, hingga menuju target nol emisi pada 2028-2029.

Dari perspektif nasional, permintaan terhadap REC menunjukkan tren pertumbuhan signifikan. Sepanjang 2024, jumlah pengguna REC meningkat lebih dari 117% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total konsumsi energi hijau melampaui 10,9 terawatt hour (TWh). Tren ini mencerminkan meningkatnya kesadaran industri terhadap tuntutan dekarbonisasi global dan komitmen keberlanjutan.

General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, menyebut penjualan 23.040 unit REC kepada BIB sebagai capaian terbesar di wilayah Kalimantan.

“Kami mengapresiasi kepercayaan PT Borneo Indobara. Kolaborasi ini diharapkan menjadi rujukan bagi pelaku industri lain dalam memanfaatkan energi bersih secara berkelanjutan,” tutur Iwan.

Sinergi PLN dan BIB memperlihatkan bahwa transisi menuju energi bersih di sektor pertambangan bukan sekadar wacana, melainkan langkah konkret yang selaras dengan agenda nasional dan global. Melalui kolaborasi strategis lintas sektor, Indonesia semakin mendekati praktik pertambangan modern yang efisien, rendah emisi, dan berdaya saing tinggi di tingkat internasional. (E-30



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya