Jumat 26 Maret 2021, 19:54 WIB

Kisah Sukses Kartu Prakerja, Bangkit Lewat Tren Busana Tie Dye

Ghani Nurcahyadi | Ekonomi
Kisah Sukses Kartu Prakerja, Bangkit Lewat Tren Busana Tie Dye

Dok. Pintaria
Agusta dan kain tie dye buatannya

 

PANDEMI yang memaksa sebagian besar kalangan untuk diam di rumah membuat industri fesyen beradaptasi. Kondisi ini membuka peluang bagi munculnya pakaian santai yang tetap fashionable saat dipakai Work From Home atau WFH. 

Pelaku usaha pakaian kemudian ramai-ramai memunculkan kembali tren motif jumputan atau tie dye dengan corak dan warna yang beragam, di atas kain rayon yang ringan dan nyaman digunakan.

Lihat saja dalam sebuah platform e-commerce, ketika diketik ‘tie dye set’ hampir 44 ribu item bisa dipilih. Belum lagi kata kunci serupa yang berhubungan dengan pakaian WFH, pakaian santai, atau piyama tie dye dan semacamnya. 

Harpers Bazaar melansir tren tie dye masih akan terus eksis di tahun ini. Bahkan banyak desainer fesyen dunia membuat koleksi tie dye untuk koleksi musim semi 2021. Sebut saja Christoper Kane, Tom Ford hingga Christian Dior. 

Keunikan motif tie dye ada pada coraknya yang tidak akan sama satu sama lain, karena proses pembuatannya sangatlah bergantung pada cat dan ikatan pada kain yang melibatkan kreativitas pembuatnya.

Tren tie dye di Indonesia menarik banyak pelaku usaha kecil dan menengah. Tak terkecuali bagi Agusta. Perempuan yang sebelumnya berjualan minuman di sebuah kampus di Semarang ini tak bisa lagi melakukan kegiatannya sejak perkuliahan dilakukan secara online. 

Baca juga : UU Cipta Kerja Bisa Tingkatkan Investasi Filipina di Indonesia

Agusta mencari cara untuk tetap mendapatkan pendapatan dengan berjualan masker melalui platform e-commerce. Seiring waktu, Agusta melihat potensi kain motif tie dye menjadi tren yang banyak dicari. 

“Saya ikuti apa yang sedang tren, soalnya kalau gak begitu saya gak ada pemasukan,” ujarnya. 

Berbekal keinginan untuk belajar, Agusta menemukan kursus membuat tie dye yang bersertifikat di Pintaria, sebuah platform kursus online yang juga merupakan mitra Kartu Prakerja. Agusta beruntung karena dirinya bisa memenuhi syarat mendaftar sebagai penerima kartu Prakerja dan lolos di gelombang ke-14. 

Ia menggunakan saldo Kartu Prakerja di Pintaria untuk belajar membuat kain tie dye. Kini, Agusta tak hanya berjualan masker di platform e-commerce, tapi juga kain tie dye yang ia akui cukup laris. Kain tie dye ia jual rata-rata seharga Rp100 ribu.

CEO Pintaria Novistiar Rustandi mengatakan apresiasinya kepada para peserta Prakerja yang membuka usaha kreatif di bidang fesyen. 

"Kami senang jika kursus yang kami tawarkan bisa meningkatkan jumlah pelaku usaha kreatif di Indonesia. Pintaria memiliki kelas yang beragam bagi peserta yang ingin membuka usaha kreatif di bidang fashion, diantaranya membuat kain shibori, tie dye, dan membuat masker kain,” tutupnya. (RO/OL-7)

Baca Juga

dok.mi

Subsidi BBM Perlu Dialihkan untuk Tujuan yang Produktif

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 September 2022, 16:35 WIB
ANGGARAN Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang selama ini digunakan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM), dinilai perlu dialihkan...
KKP

KKP Gandeng Rusia Perkuat Kerja Sama Perikanan

👤M Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 25 September 2022, 16:11 WIB
Ishartini mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Rusia menjadi salah satu pasar potensial...
Setpres

Jokowi Wujudkan Pemerataan Pembangunan Lewat Infrastruktur Perbatasan

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 September 2022, 15:44 WIB
Hingga saat ini, total pembangunan tol telah mencapai 2.042 km, sedangkan pembangunan non-tol mencapai 5.515...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya