Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Pendustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur pada 2021 tumbuh 4%. Langkah tersebut, ungkapnya, dapat terwujud dengan program vaksinasi yang lancar.
"Dimulainya vaksinasi bisa menjadi kunci pendorong dalam pemulihan industri di tanah air," ujar Menperin dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (14/1).
Agus menuturkan, program vaksinasi tersebut akan ditopang oleh serangkaian kebijakan yang telah berjalan sejak pertengahan tahun lalu. Melalui berbagai program dan kebijakan, Menperin optimistis, industri manufaktur di tanah air bakal tumbuh positif mendekati 4% pada 2021. Sebelumnya, di triwulan III 2020, pertumbuhan industri manufaktur mengalami kontraksi 4,31% dan pada triwulan II 2020 juga terkontraksi 6,19%.
"Industri manufaktur pada 2021 diperkirakan kembali pada titik positif. Seluruh sub sektor manufaktur akan kembali bergairah, dengan asumsi pandemi sudah bisa dikendalikan dan aktivitas ekonomi kembali pulih. Kami proyeksikan pertumbuhan industri manufaktur pada 2021 tumbuh hampir 4%," jelas Politikus Golkar itu.
Menurut Agus, optimisme tersebut juga didasarkan pada data perbaikan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dikatakan berada di level ekspansif. Pada Desember 2020, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 51,3 atau naik dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang berada di posisi 50,6.
Angka indeks di atas 50 ini, ungkapnya, diartikan mengalami ekspansi, sedangkan di bawah 50 berarti kontraksi.
"Selama dua bulan berturut-turut (di akhir 2020) PMI Manufaktur Indonesia masuk ke fase ekspansif. Tentu ini ada beberapa alasan, salah satunya keyakinan dari pelaku industri bahwa dari data-data yang ada sudah mulai adanya reborn dari konsumsi domestik, juga adanya sinyal bahwa vaksin akan hadir," terang Agus.
Menurutnya, alasan tersebut yang menumbuhkan rasa kepercayaan tinggi dari pelaku industri untuk mendorong proses produksi. Di samping itu, Bank Indonesia mencatat kegiatan usaha di industri pengolahan mulai menunjukkan sinyal ekspansi. Kinerja industri ini diprediksi terus membaik pada kuartal I-2021. Geliat ekspansi itu tecermin dalam Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) pada kuartal IV-2020 yang mencapai 47,29% Capaian itu jauh lebih tinggi dari dua kuartal sebelumnya yang menyentuh angka 45,64% dan 44,91%.
baca juga: Efek Vaksin, Rupiah dan IHSG Kompak Menguat
Dari sisi nilai investasi, lanjut Menperin, investasi di sektor industri periode Januari-September lalu juga meningkat 37% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.
“Selain itu ekspor produk manufaktur juga mengalami peningkatan signifikan. Kondisi inilah yang membawa harapan bagi pemulihan ekonomi pada 2021,” pungkasnya. (OL-3)
DI sektor petrokimia, pengelolaan air tidak hanya berfokus pada pemenuhan baku mutu lingkungan, tetapi juga menjadi faktor kunci dalam menjaga kontinuitas operasi industri.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Terdapat 1.236 perusahaan industri yang menyelesaikan tahap pembangunan pada 2025 dan siap mulai berproduksi untuk pertama kali pada 2026.
Hal itu disampaikan Indra dalam Talkshow Perburuhan Nasional bertema 'Babak Baru Ketenagakerjaan Indonesia' yang digelar di Kantor DPTP PKS, Jakarta, Jumat (30/1).
Yulina memimpin bisnis yang memiliki lebih dari 500 kantor perwakilan, 3.700 gerai, dan lebih dari 6.000 karyawan di seluruh Nusantara.
Wamen UMKM Helvi Moraza menegaskan pentingnya penguatan ekosistem usaha, konektivitas rantai pasok, serta digitalisasi layanan agar UMKM
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp911,16 miliar untuk memberikan diskon transportasi selama periode mudik Lebaran 2026.
Indef menilai outlook negatif Moody’s mencerminkan kenaikan persepsi risiko, bukan pelemahan fundamental, sehingga menekan kepercayaan investor.
TRANSFORMASI sektor manufaktur, khususnya manufaktur padat karya, menjadi kunci utama untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dari sisi pengeluaran, perekonomian Jakarta masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 62,80%, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 33,79%.
Secara tahunan, ekonomi DIY tumbuh sebesar 5,94% (year-on-year/yoy) dibandingkan triwulan IV-2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved