Kamis 26 November 2020, 20:15 WIB

Manfaatkan Regional Value Chains RCEP Untuk Pengembangan Industri

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Manfaatkan Regional Value Chains RCEP Untuk Pengembangan Industri

ANTARA/Sigid Kurniawan
NERACA PERDAGANGAN SEPTEMBER SURPLUS: Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (15/10/2020).

 

SENIOR Fellow Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Donna Gultom mengingatkan perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang telah ditandatangani beberapa waktu yang lalu memberi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun pada saat yang bersamaan juga bisa meningkatkan defisit perdagangan Indonesia dengan negara anggota RCEP lainnya.

"Untuk itu, Indonesia perlu menyiapkan strategi berupa structural/policy adjustment untuk menggalakkan berkembangnya industri manufaktur, yang tidak hanya memasok kebutuhan pasar domestik tetapi lebih luas lagi yaitu pasar negara-negara anggota RCEP dan non- RCEP," kata Donna melalui rilis yang diterima, Kamis (26/11).

Menurut Donna, fakta bahwa sebanyak 6.050 pos tarif (barang dagang) Indonesia memiliki keterkaitan kuat dalam hal ekspor dan impor dari dan ke kawasan RCEP, merupakan kekuatan penting untuk Indonesia melangkah lebih maju lagi dalam memanfaatkan regional value chains (RVC) atau rantai nilai regional kawasan.

Berbagai kajian telah dilakukan untuk memperkirakan dampak RCEP bagi Indonesia. Pada 2016, saat RCEP masih dalam proses perundingan, kajian yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan, mengindikasikan bahwa meski RCEP mampu meningkatkan kesejahteraan Indonesia sebesar US$1,52 miliar atau Rp21,43 triliun (kurs 14.100), konsekuensinya adalah terjadinya peningkatan defisit perdagangan sebesar US$491,46 juta atau Rp6,93 triliun.

Lebih lanjut, kata Donna, kajian yang dilakukan pada 2019 oleh Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa dampak RCEP bagi perekonomian (pertumbuhan ekonomi) Indonesia tidak terlalu signifikan (0,05%).

Namun jika Indonesia tidak bergabung, dampaknya juga tidak baik karena justru negatif (-0,07%) bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kajian yang dilakukan oleh Ekonom UNCTAD Rashmi Banga (menggunakan SMART Simulations in World Integrated Trade Solutions by World Bank and UNCTAD model), menunjukkan bahwa dampak RCEP tidak signifikan bagi ASEAN. Tambahan manfaat bagi negara anggota ASEAN hanyalah dari pemanfaatan RVC yang tentu akan terhubung dengan global value chains (GVC).

"Tantangannya adalah bagaimana negara-negara ASEAN mampu membangun produsen dan eksportir yang efisien yang dapat mengimbangi efisiensi yang dimiliki oleh Tiongkok," kata Donna.

Kajian terbaru yang dilakukan oleh Peneliti CIPS Ira Aprilianti (menggunakan a stochastic gravity model) menunjukkan bahwa RCEP mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,67%, serta berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia sebesar 7,2%, yang dihasilkan dari spill-over effect dari free trade agreement (FTA) yang dimiliki anggota RCEP dengan negara non-RCEP.

Kajian ini juga menunjukkan bahwa dalam lima tahun setelah implementasi, akan terjadi peningkatan investasi sebesar 18%–22% serta peningkatan ekspor bisa mencapai 8%-11% melalui perluasan peran Indonesia dalam global supply chain.

"Isu trade deficit memang selalu menghantui Indonesia karena ada anggapan kalau nilai impor meningkat berarti industri dalam negeri terancam dan tidak baik bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Padahal meningkatnya impor tidak selalu berarti buruk bagi perekonomian suatu negara," kata Ira.

Apabila impor dilakukan untuk mendorong produktivitas industri dalam rangka peningkatan nilai tambah di dalam negeri, itu dipastikan akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Karena itu, strategi Indonesia ke depan adalah memastikan impor menghasilkan nilai tambah melalui industri yang berkembang di Indonesia.

"Termasuk mendorong berkembangnya industri yang akan memasok produk antara (intermediate goods) yang pasti akan diserap  industri manufaktur lanjutannya, baik di dalam maupun di luar negeri (ekspor). Strategi seperti ini diharapkan akan mendorong Indonesia semakin memasuki pasar regional (RVC) RCEP dan pasar global (GVC)," jelas Ira. (E-2)

Baca Juga

Antara/Hafidz Mubarak A

Erick Diharapkan Bawa Ekonomi Syariah Hingga Skala UMKM

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 23:44 WIB
Masyarakat umum akhirnya bisa melihat dan merasakan manfaat pembiayaan dari perekonomian syariah...
Dok.. Pribadi

Lebak Bulus Masih Jadi Magnet Kembangkan Hunian Sehat

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 23:41 WIB
"Kualitas udara di Lebak Bulus bahkan cenderung seperti di Bogor, karena masih banyaknya pepohonan yang sangat membantu menurunkan...
Ist

Musim Hujan, Ini Cara Atasi Dinding Rembes

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 23:25 WIB
Banyak kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukan di rumah. Salah satunya, mengecek kembali bagian-bagian rumah dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya