Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PERDAGANGAN saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berlangsung dinamis pada Jumat (19/6/2020) tiba-tiba dihebohkan dengan adanya transaksi yang tidak biasanya.
Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang sedang diantre jual oleh para investor mendekati dua juta lot tiba-tiba dikagetkan aksi beli sebanyak 914 ribu lot di harga Rp2.280 per lembar sahamnya. Transaksi senilai Rp208 miliar itu pun terjadi hanya hitungan detik pada pukul 10.14 WIB. Dan, itu dilakukan broker asing.
Sontak para trader dan investor saham yang sudah mulai mengalihkan pandangannya dari monitor bergairah kembali. Apakah ini tandanya saham PTBA akan kembali bangkit dan lepas dari batas jual bawah (auto reject) yang terjadi sejak menit pertama perdagangan saham dibuka.
Maklum, hari itu ialah hari pertama pasca-cum date atau tanggal pencatatan daftar pemegang saham yang bisa menerima dividen tahunan Rp326 per lembar saham. Bila dihitung dari harga saham PTBA sekitar Rp2.450, dividen sebesar itu memberikan yield setara 13,3%.
Jadi wajar, meskipun harga saham PTBA pekan lalu ditarik turun hingga batas penurunan 7%, para pemegang saham PTBA masih bisa memperoleh keuntungan 6,3% bila sahamnya terjual di harga Rp2.280.
Namun, ternyata transaksi superkilat itu tidak berulang kembali. Malah sore harinya investor dikejutkan adanya transaksi jual sebesar Rp118 miliar di saham PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) yang dilakukan pada waktu jam perdagangan reguler bursa telah berakhir dan mekanisme market maker bekerja. Transaksi itu pun dilakukan broker yang sama dengan yang membeli saham PTBA pada pagi harinya.
Spekulasi merebak bahwa dua transaksi itu berhubungan. Ada yang menduga bahwa investor yang membeli saham PTBA harus membayar transaksinya dengan melepas saham miliknya di ITMG.
Lebih seru lagi, ada anggapan bahwa transaksi pembelian saham PTBA senilai Rp208 miliar ialah karena salah pencet alias human error. Perintah yang harusnya menjual (sell) jadi malah membeli (buy) karena lupa mengubah posisi buy ke sell.
Persoalan salah pencet itu sebenarnya umum terjadi di kalangan investor ritel. Apalagi, saat ini investor bisa bertransaksi dengan menggunakan tools online trading.
Namun, menjadi tidak masuk akal bila melibatkan jumlah yang besar. Angka Rp208 miliar tentu bukanlah angka kaleng-kaleng. *Oleh karena itu, ada yang beranggapan bahwa transaksi saham PTBA merupakan hal yang wajar dan menandakan besarnya minat asing.
Lepas dari kehebohan yang menyertai perdagangan saham PTBA pekan lalu, ada satu pelajaran yang bisa dipetik.
Kesalahan dalam mengambil atau menjalankan sebuah keputusan bisa menimbulkan ongkos yang amat mahal. Oleh karena itu, teliti kembali sebelum melakukan eksekusi. (E-2)
Pada perdagangan pagi ini, Jumat (23/1), IHSG anjlok 0,79% atau minus 70,86 poin ke level 8.921.
Memasuki awal 2026, lanskap ekonomi global menunjukkan tanda-tanda stabilisasi yang lebih nyata dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
IHSG hari ini 22 Januari 2026 dibuka menguat 0,46% ke level 9.052,17. Simak data pembukaan pasar, sentimen global Trump-Greenland, dan kurs Rupiah.
Bursa kembali memperketat pengawasan pasar. Pada perdagangan Rabu (21/1), sebanyak enam saham emiten resmi masuk daftar papan pemantauan khusus
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus terhenti sejenak pada pembukaan perdagangan Rabu, 21 Januari 2026.
IHSG hari ini 20 Januari 2026 cetak rekor baru di 9.169 sebelum berfluktuasi. Cek saham top gainers ZATA, ELIT & analisis dampak Rupiah Rp17.000.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved