Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDEMI Covid-19 mempengaruhi hampir semua sektor bisnis hingga produktifitas yang menurun. Untuk itu, perlu trik-trik khusus untuk menghadapi situasi ini agar bisnis tetap dapat berjalan.
“Hal yang perlu diperhatikan sebagai pengusaha bagaimana mengindetifikasi dampak, melakukan antisipasi dan merancang mitigasi resiko dan siap berevolusi demi keberlangsungan bisnis, dan memperkuat resiliensi agar tantangan dapat dipetakan dalam mengambil keputusan,” tutur Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur H.M. Supriyadi, Selasa (12/5).
Baca juga: Pemerintah Perlu Prioritaskan UMKM dan Pekerja Informal
Supriyadi menilai tidak semua sektor bisnis mengalami kelesuan, beberapa justru memberikan peluang. Misalnya seperti sektor kesehatan, pengadaan pangan, ritel, digital atau teknologi informasi. Dalam situasi saat ini pengembangan elastic digital workspace secara komprehensif dapat mendatangkan keuntungan.
“Setidaknya ada 6 hal yang harus dipertimbangkan pengusaha agar mampu bertahan di masa Covid-19, yaitu melihat dampak pada tempat kerja, leadership, suppy change, potensi pelanggan, pola transaksi (revenue), dan lingkungan,” ujarnya.
Ia menekankan leadership memainkan peran penting agar mampu beradaptasi di segala situasi. Pemimpin mesti meningkatkan sensitivitas dan proaktif menghitung kebutuhan perusahaannya, termasuk tim dan pekerjanya.
Perubahan suplai sangat berpengaruh, sehingga upaya pemenuhan kebutuhan pelanggan sebaiknya didukung dengan alur proses cepat, aman dan terjamin serta tetap menjaga protokol kesehatan.
Pengusaha membutuhkan ketepatan analisa, termasuk soal pendapatan yang memperkirakan seberapa jauh bisnis dapat bertahan tanpa menggorbankan para pegawainya. Ia menyarankan agar dapat dilakukan peralihan konsep penjualan. Aspek lingkungan juga mempengaruhi sikap manusia, mulai dari kebiasaan, ataupun potensi pasar yang mengubah secara drastis alur bisnis.
“Kanal transaksi dapat diubah dengan memanfaatkan ruang digital, sebab transaksi tatap muka sudah tidak kompatibel lagi saat ini,” ujarnya
Selain itu, Supriyadi juga menawarkan 5 langkah taktis dalam menghadapi Covid-19 dalam berbisnis. Pertama, memprioritaskan keamanan manusia dan merumuskan hubungan berkelanjutan. Kedua, mempertajam strategi bisnis untuk bertahan.
Baca juga: BUMD Diminta Alihkan Dana THR Untuk Covid-19
Ketiga, menerapkan komunikasi efektif dan mengukur perhitungan pada seluruh stakeholder dalam bisnis. Keempat, memanfaatkan secara maksimal program insentif yang ada, terlebih dari pemerintah. Kelima, membangun kekuatan dan resilien untuk menghadapi tantangan ke depan.
“Sebagai pengusaha, kita harus mempersiapkan dinamika perubahan dalam bisnis, apapun kondisinya tantangan mesti dihadapi,” tutur Supriyadi. (OL-6)
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved