Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAMBATAN konsumsi rumah tangga dan investasi di triwulan I 2020 tercatat cukup dalam. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik, tercatat konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 2,84% lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh 5,02%. Pun demikian dengan investasi yang hanya tumbuh 1,70%, melambat dari periode yang sama di 2019 yakni sebesar 5,03%.
Meski dampak pandemi covid-19 baru terasa menyeluruh pada Maret 2020, akan tetapi tak bisa dielakkan ada beberapa sektor yang terdampak lebih dulu karena adanya disrupsi rantai pasok dari Tiongkok sejak Februari 2020. Bahkan sektor pariwisata menjadi yang paling dulu menelan pahit sejak Januari 2020.
Staf khusus Menteri Keuangan bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi Masyita Crystallin melalui keterangan tertulisnya kepada Media Indonesia, Selasa (5/5) menuturkan, pelambatan pada sisi konsumsi rumah tangga merupakan buah dari kontraksi di industri pakaian dan alas kaki, serta transportsi dan restoran.
Curamnya kontraksi tersebut sejalan dengan berkurangnya aktivitas masyarakat karena adanya imbauan physical distancing kala itu
"Konsumsi di tiga komponen tersebut akan makin dalam di kuartal II dengan mulai diterapkannya PSBB. Sedangkan konsumsi kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman di luar restoran masih cukup terjaga tumbuh di atas 5%, sektor kesehatan justru menunjukkan peningkatan," ujar Masyita.
Baca juga : Pemerintah Bersiap Hadapi Keadaan Normal Baru di Bidang Ekonomi
Karena pandemi pula, dia bilang, pola konsumsi berubah. Masyarakat akan berfokus membelanjakan uang yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan pokok dan menekan belanja yang bukan prioritas.
Artinya, konsumsi yang masih dapat terjaga adalah makanan dan minuman selain restoran serta jasa kesehatan, yang proporsinya mencapai 44% dari konsumsi rumah tangga.
Pelambatan pada investasi juga akan tercermin dari melambatnya investasi swasta dan investasi pemerintah lantaran anggaran proyek infrastruktur non-prioritas dialihkan untuk penanganan pandemi covid-19. Bahkan tiga sektor yang dapat menyerap tenaga kerja tertinggi seperti sektor pertanian, sektor perdagangan dan sektor industri juga mengalami tekanan.
"Dalam estimasi pemerintah, jika pertumbuhan ekonomi di tahun ini berada pada skenario sangat berat di -0.4%, tambahan pengangguran dapat mencapai 5,23 juta orang," jelas Masyita.
Ia menerangkan, pemerintah sejauh ini telah mengeluarkan kebijakan untuk mempertahankan daya beli melalui bantuan sosial yang akan diimplementasikan pada kuartal II, mengikuti kondisi yang dihadapi.
Baca juga : Pertumbuhan Anjlok, Airlangga: Kita Siapkan Exit Strategy
Kebijakan pemerintah tetap diarahkan untuk membantu masyarakat terdampak agar dapat menjaga pemenuhan kebutuhan pokok dalam kondisi yang sangat sulit ini.
"Dengan lemahnya pertumbuhan ekonomi, pemerintah akan terus menyiapkan stimulus untuk mengurangi dampak pandemi, tidak hanya terhadap konsumsi masyarakat tetapi juga untuk memberi cushion pada perlambatan sektor riil dengan program Penyelamatan Ekonomi Nasional (PEN)," ujar Masyita.
Program PEN sendiri saat ini sedang disiapkan pemerintah. Diharapkan melalui program tersebut beban pelaku usaha dapat diringankan. Tak bisa menampik, Masyita mengakui pelemahan ekonomi iakan lebih dalam di kuartal II dengan semakin meluasnya PSBB dan physical distancing.
"Akan tetapi diharapkan dapat efektif untuk mengurangi tingkat penyebaran wabah covid-19 sehingga ekonomi dapat mulai membaik di kuartal IV. Akan tetapi prediksi ini tentu sangat tergantung pada seberapa lama dan seberapa luasnya penyebaran wabah covid-19 ini," tutupnya.
Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2020 hanya 2,79%, lebih lambat dibanding periode yang sama di 2019 sebesar 5,07%. Pertumbuhan itu juga lebih rendah ketimbang prediksi Kementerian Keuangan yang menyebut ekonomi akan tumbuh dikisaran 4,5%-4,7% pada triwulan I. (OL-7)
Ketidakpastian global akibat meningkatnya risiko geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia masih menjadi tantangan utama pada 2026.
Allianz Global Investors (AllianzGI) menilai perekonomian global memasuki 2026 dalam kondisi yang masih tertekan, namun menunjukkan ketahanan yang relatif solid.
GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan berdasar kajian kondisi perekonomian sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan berada pada kisaran 4,7%-5,5%.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk meninggalkan sikap wait and see atau bereaksi menunggu terhadap dinamika pasar.
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah positif bagi penguatan kebijakan ekonomi nasional.
KSPSI menekankan pentingnya standar hubungan industrial yang setara dan berkeadilan di sektor perkebunan kelapa sawit.
PT Astra Agro Lestari Tbk menegaskan konsistensinya dalam menjalankan kebijakan keberlanjutan, termasuk Nol Deforestasi, yang telah menjadi bagian dari operasional perusahaan sejak 2015.
ADA dilema kelembagaan bank tanah dalam mewujudkan keadilan sosial agraria di tengah gencarnya arus investasi.
Transformasi digital di sektor perkebunan nasional mendapat dorongan baru melalui kolaborasi antara Subholding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo, dan Fakultas Vokasi USU.
Upaya tegas pemerintah dalam memberantas mafia sawit dan menata ulang tata kelola sumber daya alam (SDA) dinilai sebagai langkah strategis dan berani.
PEMERINTAH menggelontorkan anggaran sebesar Rp9,95 triliun atau hampir Rp10 triliun untuk mencapai hilirisasi sektor perkebunan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved