Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Outlook Indonesia Turun, Ekonom : Prospek Pemulihan RI Lebih Baik

Despian Nurhidayat
19/4/2020 19:05
Outlook Indonesia Turun, Ekonom : Prospek Pemulihan RI Lebih Baik
Jejeran gedung di Jakarta. Prospek pemulihan ekonomi Indonesia lebih baik ketimbang negara lain.(MI/Sumaryanto)

Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia (RI) pada BBB (Investment Grade) namun merevisi outlook menjadi negatif.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede mengatakan bahwa peringkat kredit Indonesia yang tetap pada posisi BBB menunjukkan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap resilient di tengah risiko perlambatan ekonomi global.

"Hal ini didukung oleh respon kebijakan Pemerintah yang mampu menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung upaya penanggulangan masalah kesehatan akibat pandemi covid-19," ungkapnya kepada Media Indonesia, Minggu (19/4).

Lebih lanjut, Josua juga mengatakan bahwa Pemerintah mengeluarkan Perppu dalam rangka menetapkan langkah-langkah kebijakan Pemerintah, Bank Indonesia, OJK dan LPS dalam membatasi dampak negatif yang disebabkan oleh covid-19.

Dari sisi kebijakan fiskal, Pemerintah dengan mengambil kebijakan pelebaran batas defisit anggaran guna mengantisipasi peningkatan anggaran belanja dalam penanganan dampak covid-19.

"Kebijakan tersebut berimplikasi pada peningkatan beban APBN sebagai dampak dari bertambahnya kebutuhan pembiayaan melalui utang dan peningkatan beban utang," lanjut Josua.

Meskipun terdapat potensi peningkatan utang, Josua beranggapan profil utang pemerintah pusat cenderung manageable dalam beberapa tahun terakhir ini, di mana rasio utang terhadap PDB masih berada pada 29,9% PDB pada tahun lalu.

Sementara itu jika dilihat dari komposisi utang pemerintah pusat yang mencapai Rp4.948,18 triliun (per Februari 2020) terdiri dari 15,6% merupakan pinjaman sementara 84,4% merupakan penerbitan SBN. Selain itu, dilihat dari utang yang jatuh tempo pada tahun ini mencapai tenor nya, kepemilikan asing pada SBN cenderung terkonsentrasi mayoritas pada tenor  di atas 5 tahun yakni sekitar 67,70%.


Secara keseluruhan, pandemi covid-19 diperkirakan akan berdampak signifikan bagi perekonomian global sehingga penurunan outlook rating berpotensi juga terjadi pada sebagian besar negara di dunia baik negara maju dan negara berkembang.


Meskipun outlook rating Indonesia diturunkan, namun menurut Josua prospek pemulihan perekonomian Indonesia cenderung masih baik dibandingkan dengan negara lain mempertimbangkan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat.


"Selain itu, pelebaran defisit anggaran pemerintah Indonesia diperkirakan hanya berlaku pada tahun 2020 hingga 2022 dan pada tahun 2023 batas defisit fiskal akan kembali ditetapkan di level 3% terhadap PDB yang menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal serta pengelolaan utang Indonesia cenderung prudent dibandingkan banyak negara maju dan negara berkembang lainnya yang sudah memiliki rasio utang terhadap PDB yang sangat tinggi sebelum adanya covid-19," pungkas Josua. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Raja Suhud
Berita Lainnya