Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
Kondisi pandemi korona (covid-19) telah membuat pelaku pasar lebih memerhatikan ekspektasi kinerja emiten pada 2020 dibandingkan laporan kinerja keuangan emiten di 2019.
Menurut analis Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, hal itu lantaran terdapat faktor psikologis pasar yang memengaruhi penurunan perdagangan saham. Karena itu, kata dia, emiten harus lebih fokus untuk memperbaiki kinerja di tahun ini dibandingkan merilis laporan keuangan di tahun lalu.
"Jadi orang itu lebih menginginkan ekspektasi ke depan. Kalau dilihat kan mulai Januari mulainya wabah ini, tapi kita kan belum bereaksi bahwa pemerintah ini masih menganggap covid-19 seperti flu biasa. Pelaku pasar juga belum terlalu pusing, karena mereka juga hanya melihat yang kena wilayah Tiongkok dan sekitarnya," ungkapnya kepada Media Indonesia, Selasa (31/3).
Lebih lanjut, William mengatakan bahwa karantina wilayah yang telah berlaku di beberapa daerah di Indonesia dan juga pemberlakuan work from home (WFH) telah menyebabkan penurunan produksi.
"Hal ini telah menjadi sesuatu yang lebih disasar pelaku pasar. Artinya ekspektasi pelaku produksi dalam 2 atau 3 bulan terakhir ini menjadi terhambat. Katakanlah bisanya 500 produk, tapi karena ada pembatasan jam kerja jadinya bisa 150 sampai 200. Belum lagi daya beli masyarakat cenderung turun. Terus demand pabrik berkurang. Artinya aktivitas produksi berkurang akan memengaruhi emiten," lanjut William.
Dia pun memprediksi pada Q1 (kuartal pertama) 2020 ini, kebanyakan pelaku pasar berkespektasi akan mengalami penurunan dan akan memengaruhi ekspektasi selama 2020. Hal inilah yang saat ini terjadi pada pelaku pasar yang tengah khawatir.
Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan hal senada. Menurut Lanjar, saat ini investor sedang dalam kondisi penentuan keputusan yang bukan didasari oleh fundamental pasar, tapi lebih kepada ekspektasi ke depan.
"Saat ini investor sedang dalam fase menentukan keputusan tidak berdasarkan fundamental perusahaan dan fase ini biasa terjadi di tengah gejolak ekonomi dan sentimen negatif tingkat global," pungkas Lanjar.
Hal ini pun menyebabkan lotensi koreksi selalu membayangi emiten, sehingga menuntut investor untuk meningkatkan manajemen risiko di tengah market yang bergerak fluktuatif. (E-3)
IHSG ditutup menguat 1,20% ke level 7.106 pada Selasa (17/3). Simak analisis pemicu reli bursa saham jelang libur panjang Nyepi dan Idul Fitri 2026 di sini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Selasa 17 Maret 2026.
IHSG dibuka menguat tajam 1,57% ke level 7.132 pada perdagangan Selasa (17/3). Tercatat 646 saham menguat dengan nilai transaksi Rp1,4 triliun.
IHSG ditutup anjlok 1,61% ke level 7.022 pada Senin (16/3/2026). Investor khawatir defisit fiskal melebar di atas 3% akibat tensi geopolitik & harga minyak.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin dibuka melemah seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan awal pekan, Senin (16/3), dibuka di zona merah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved