Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
Ekonomi dunia masih dibayangi tren penurunan pertumbuhan ekonomi. Sejumlah lembaga keuangan internasional seperti Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia terus menerus merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020.
Hal ini memicu kekhawatiran akan terjerambabnya banyak negara ke jurang resesi. Lalu bagaimana dengan ekonomi Indonesia?
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, situasi ekonomi dalam negeri saat ini jauh dari resesi. Pernyataannya itu dikuatkan dari hasil pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss beberapa waktu lalu.
Menurutnya, hampir seluruh perwakilan negara yang hadir di sana merasa optimis atas perkembangan perekonomian di negara masing-masing, tak terkecuali Indonesia.
"Amerika masih positif, kemudian juga di Eropa dan ketegangan yang terjadi di middle east tidak sedalam yang dipekrirakan. Kalau kita lihat secara keseluruhan negara maju masih tumbuh dan negara berkembang tumbuh di atas perekonomian dunia," ujar Airlangga dalam seminar nasional bertajuk 'Membangun Optimisme dan Peluang di Tengah Ketidakpastian' di Wisma Antara, Jakarta, Senin (3/2).
Hal yang menarik, imbuh dia, ialah negara-negara di Asean dikatakan sebagai wilayah yang mempertahankan multilateralisme. Selain itu, beberapa negara seperti Vietnam, Filipina, Thailand dan Indonesia relatif memliki kondisi ekonomi dan politik yang stabil.
"Asean dinilai bisa stabil karena Indonesia sangat humble sebagai market besar dan sangat toleran sehingga bisa menjaga situasi di Asean. Sehingga Asean tentu menjadi daerah yang menjadi perhatian di seluruh wilyah dan tentu mereka juga berharap bisa meningkatkan perdagangan dengan negara di Asean," jelas Airlangga.
Terlebih saat ini Indonesia tengah mengupayakan transformasi ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan dalam negeri dan daya saing melalui penyederhanaan regulasi di berbagai sektor.
Sekarang, kata Airlangga, merupakan waktu yang tepat untuk melakukan transformasi ekonomi. Pasalnya hal itu terakhir dilakukan pada 1998 pascakrisis moneter.
"Pasca-ferorm tersebut, itu belum ada lagi reformasi struktural. Oleh karena itu di periode Presiden Joko Widodo kedua ini, yang pertama dilakukan transformasi ekonomi melalui ombibus law," tutur Airlangga.
Transformasi yang kali ini dilakukan pemerintah difokuskan untuk memberikan nilai tambah pada perekonomian nasional. Peningkatan industri berbasis ekspor dan mengoptimalkan hilirisasi akan jadi tujuan utama dari transformasi itu. Penerapan B30 misalnya, dilakukan untuk memuluskan geliat industri kelapa sawit. Selain itu, dengan penggunaan B30 konsumsi bahan bakar minyak akan berkurang dan meminimalisasikan jejak karbon.
Selain itu, pemerintah juga mendorong gasifikasi batu bara, yang ditujukan pada peningkatan produksi dimetil eter. Dimetil eter dimaksudkan sebagai substitusi elpiji yang biaya subsidinya kian membengkak.
Terkait hilirisasi, pemerintah akan mengoptimalkan bauksit untuk diekspor. "Bauksit di Riau itu kemarin bahan bakunya yang kualitas utama sudah hampir habis karena diekspor dan nilainya sangat rendah yaitu US$30-40 per ton," imbuhnya.
"Kalau dia diubah jadi alumina, kapasitasnya akan mencapai 1 juta ton. Jadi itu nilai tambahnya sekitar US$1.900 per ton. Rasionya 2,5 ton bauksit jadi 1 ton alumina. Investasi yang dilakukan di Bintan dan di Kalimantan Barat akan berproduksi tahun ini," jelasnya.
Menyoal proyek strategis nasional (PSN) yang terkait dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dari 223 proyek diperkirakan nilai investasinya mencapai Rp4.183 triliun, vila itu terpenuhi, impian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% bisa terlampaui. "Untuk kita mendorong perekonomian rerata 6% kita butuh investasi sebesar 7% atau setara Rp2.300 triliun. Jadi pengembangan PSN atau kerja sama privat dan pemerintah itu diperlukan," pungkas Airlangga. (Mir/E-)
Purbaya menjelaskan bahwa meskipun kondisi global penuh ketidakpastian, permintaan domestik masih menjadi mesin utama penggerak ekonomi.
LPEI memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia masih diperkirakan tumbuh 4-5 persen dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan perdagangan global dengan catatan
Batam mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,76% secara tahunan (year-on-year) pada 2025. Angka itu menjadikannya sebagai yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
UBS menggelar UBS OneASEAN Summit untuk ke-14 kalinya dengan menghadirkan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri dari berbagai negara.
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
Gubernur BI Perry Warjiyo proyeksikan pertumbuhan ekonomi RI triwulan I 2026 tetap kuat di tengah tantangan global. Simak faktor pendorong dan analisisnya.
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved