Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menyebut kenaikan defisit APBN pada November menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola penerimaan perpajakan. Menurutnya, penerimaan perpajakan perlu digenjot lagi.
"Kalau kita lihat penerimaannya perlu digenjot karena sekarang ini terutama dari income, dari PDB itu sendiri, pertumbuhannya turun ya. Begitu juga ekspor kita turun sehingga penerimaannya banyak berkurang," katanya saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (19/12).
Menurut Yose, salah satu hal yang bisa dilakukan pemerintah adalah memperbaiki tata kelola pajak di ranah e-commerce.
"Sebenarnya teknologi yang baru saat ini yang mengubah cara kita bertransaksi itu ternyata berpengaruh juga pada perpajakan. Contohnya e-commerce. Banyak e-commerce itu tidak membayar PPN. Jadi konsumsi kita mungkin masih kuat tapi PPN itu turun karena memang belum ada mekanisme untuk mengambil PPN dari e-commerce," jelasnya.
"Bukan dalam arti memajaki platform-nya tapi lebih transaksi itu diharuskan untuk membayar pajak yang memang diperlukan. Misalnya PPN, untuk pelakunya juga membayar PPH," imbuhnya.
Selain dari sisi penerimaan, pemerintah juga harus mengatasi hal-hal dari segi pengeluaran.
"Kalau dari sisi pengeluaran tetap juga harus ada berbagai hal yang bisa diatasi. Contohnya dana transfer ke daerah itu banyak yang ternyata tidak dipergunakan dan mengendap di bank. Hal-hal seperti itu dari sisi pengeluaran harus ada efisiensi," ungkapnya.
Ia melihat memang Kemenkeu memiliki tanggung jawab lebih banyak untuk penerimaan. "Tapi pengeluarannya sebenarnya mereka juga perlu untuk memikirkan supaya pengeluaran ini menjadi lebih efisien, lebih efektif," ungkapnya.
Ia menyarankan Kemenkeu memberikan sanksi-sanksi untuk pengeluaran yang sebenarnya tidak bisa digunakan.
"Kalau memang misalnya dana transfer daerah itu banyak yang hanya mengendap sampai ratusan triliun, mungkin harus ada sanksi. Misalnya di fiskal berikutnya tidak turun lagi, gak perlu lagi dikasih uang yang sama. Dan tentunya ini menghemat pengeluaran," pungkasnya.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir November 2019 mencapai Rp368 triliun atau 2,29% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka itu naik jika dibandikan dengan defisit Oktober 2019 yang tercatat Rp289,1 triliun atau 1,8% terhadap PDB. (OL-4)
Hingga akhir tahun 2025, penerimaan pajak baru mencapai 87,6% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.
Karena coretax berjalan belum sesuai perencanaan awal. Sehingga hal ini justru menyebabkan penerimaan pajak tersendat.
Kebijakan peningkatan belanja pada 2025 sudah berada di jalur yang tepat. Namun, tantangan besar ke depan adalah memastikan efektivitasnya.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bonus atlet SEA Games Thailand senilai Rp480 miliar bersumber dari APBN, bukan uang pribadi Presiden. Peraih emas terima Rp1 miliar.
DEFISIT fiskal Indonesia pada 2025 tercatat melebar melampaui target pemerintah, seiring percepatan belanja negara di penghujung tahun dan lemahnya kinerja penerimaan.
Suahasil menyebut bahwa realisasi PNBP 2025 yang mencapai Rp534,1 triliun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi PNBP 2024 tang mencapai Rp584,4 triliun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved