Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
SEIRING dengan percepatan laju perkembangan teknologi, dunia perbankan dihadapkan pada tantangan digitalisasi yang semakin masif. Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja menyebut dampak paling signifikan dari hal tersebut bagi dunia perbankan ke depan ialah dalam hal transaksi.
Menurutnya, transaksi ini akan lebih didominansi oleh digital dan teknologi.
"Ke depan kita bayangkan, dengan teknologi yang berkembang demikian luas, maka yang paling terjadi revolusi adalah dalam transaksi," ujar Jahja pada acara Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019 di Hotel Fairmont Jakarta, Rabu (6/11).
"Sekarang QRIS sudah dilauch oleh BI. Mungkin sekarang masih terbiasa pakai uang tunai. Itu yang akan terjadi (perubahan) paling drastis," imbuhnya.
Namun, ia meyakini bisnis perbankan secara keseluruhan, serta bisnis korporasi dan UKM masih tetap membutuhkan transaksi konvensional.
"Hanya mungkin dari processing-nya di bank itu akan sangat cepat memproses," tuturnya.
Baca juga: Perusahaan Digital Siap Bantu Kembangkan UKM
Di sisi lain, untuk masuk ke era digitalisasi juga diperlukan sumber daya manusia (man power) yang andal.
"Man power sekarang merupakan perebutan. Bukan hanya kita yang mau memiliki ahli-ahli data analisis, bukan hanya perbankan, melainkan juga dengan fintech bahkan dengan fintech-fintech di luar negeri," ungkapnya.
Secara umum, Jahja menggambarkan ke depan semuanya akan menjadi superdigital.
"Kita juga harus mempunyai super-apps yang bisa meng-handle segala macam, bukan hanya transaksi finansial tapi seluruh ekosistem yang ada itu bisa menjadi satu," katanya.
Menurutnya, itulah pola perbankan yang akan dilihat dalam beberapa tahun mendatang.
"Mungkin belum sampai 2025, mungkin dalam dua-tiga tahun sudah terjadi karena cepatnya transformasi dalam bidang teknologi," pungkasnya. (A-4)
OJK mencatat ketahanan permodalan berada pada level yang sangat kuat, memberikan ruang ekspansi sekaligus bantalan risiko yang memadai
Pentingnya penerapan prinsip pengenalan nasabah yang mendalam.
KEPALA Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menegaskan kinerja intermediasi perbankan tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga.
Bank Mandiri menilai perpanjangan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh Kementerian Keuangan dapat memperkuat likuiditas perbankan.
Di tengah persaingan industri perbankan yang semakin kompetitif, program loyalitas menjadi salah satu strategi utama untuk mempertahankan dana pihak ketiga.
Meningkatnya ancaman kejahatan daring seperti phishing, social engineering, dan serangan siber lainnya mendorong perusahaan perbankan untuk terus memperkuat sistem keamanannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved