Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SEIRING dengan percepatan laju perkembangan teknologi, dunia perbankan dihadapkan pada tantangan digitalisasi yang semakin masif. Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja menyebut dampak paling signifikan dari hal tersebut bagi dunia perbankan ke depan ialah dalam hal transaksi.
Menurutnya, transaksi ini akan lebih didominansi oleh digital dan teknologi.
"Ke depan kita bayangkan, dengan teknologi yang berkembang demikian luas, maka yang paling terjadi revolusi adalah dalam transaksi," ujar Jahja pada acara Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019 di Hotel Fairmont Jakarta, Rabu (6/11).
"Sekarang QRIS sudah dilauch oleh BI. Mungkin sekarang masih terbiasa pakai uang tunai. Itu yang akan terjadi (perubahan) paling drastis," imbuhnya.
Namun, ia meyakini bisnis perbankan secara keseluruhan, serta bisnis korporasi dan UKM masih tetap membutuhkan transaksi konvensional.
"Hanya mungkin dari processing-nya di bank itu akan sangat cepat memproses," tuturnya.
Baca juga: Perusahaan Digital Siap Bantu Kembangkan UKM
Di sisi lain, untuk masuk ke era digitalisasi juga diperlukan sumber daya manusia (man power) yang andal.
"Man power sekarang merupakan perebutan. Bukan hanya kita yang mau memiliki ahli-ahli data analisis, bukan hanya perbankan, melainkan juga dengan fintech bahkan dengan fintech-fintech di luar negeri," ungkapnya.
Secara umum, Jahja menggambarkan ke depan semuanya akan menjadi superdigital.
"Kita juga harus mempunyai super-apps yang bisa meng-handle segala macam, bukan hanya transaksi finansial tapi seluruh ekosistem yang ada itu bisa menjadi satu," katanya.
Menurutnya, itulah pola perbankan yang akan dilihat dalam beberapa tahun mendatang.
"Mungkin belum sampai 2025, mungkin dalam dua-tiga tahun sudah terjadi karena cepatnya transformasi dalam bidang teknologi," pungkasnya. (A-4)
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan giro sebesar 19,13%, tabungan 8,19%, dan deposito 14,28%.
PT Bank Negara Indonesia (BNI) dinilai berada pada posisi yang lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya.
Menurut Pramono, pencatatan saham Bank Jakarta di BEI tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga mendorong profesionalisme perusahaan.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku telah menarik dana pemerintah sebesar Rp75 triliun dari total penempatan Rp276 triliun Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sistem perbankan.
MANTAN Kepala PPATK Yunus Husein menilai pemajangan uang tunai hasil rampasan kasus korupsi dan sitaan negara oleh aparat penegak hukum tidak diperlukan dan cenderung tidak efisien.
PERUBAHAN status Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi persero dinilai memperkuat posisi bank tersebut, terutama dari sisi kredibilitas dan persepsi keamanan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved