Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
PT Pegadaian (Persero) berhasil melampaui target nasabah. Hingga semester 1 2019, jumlah nasabah perseroan mencapai 12,1 juta. Capain itu didorong penggunaan aplikasi Pegadaian Digital Service (PDS), dan kerja sama dengan marketplace, seperti Tokopedia.
Namun, Komisaris Utama Pegadaian, Ina Primiana, menilai jumlah nasabah pegadaian relatif sedikit, dibandingkan jumlah penduduk Indonesia. Ina memandang pemasaran produk Pegadaian belum optimal.
Dia meminta manajemen Pegadaian meningkatkan target nasabah, lantaran peluang masih besar. Seperti diketahui, perseroan menargetkan 12 juta nasabah pada 2019.
"Jumlah nasabah Pegadaian masih terlalu sedikit. Pegadaian seharusnya meningkatkan jumlah nasabah hingga 10% dari jumlah penduduk Indonesia. Itu dengan menetapkan segmentasi konsumen untuk setiap produk, tingkatan layanan dan "distribution chanel"," kata Ina dalam media gathering di Yogyakarta, Jumat (26/7).
Dia pun menyoroti era disrupsi yang mendorong terjadinya pergeseran pola pikir dan model bisnis, dari "owning economic" menjadi "sharing economic". Perubahan itu bisa menghambat kinerja Pegadaian.
Menurutnya, perseroan harus melakukan inovasi dan memperluas kerja sama. Menyikapi perkembangan era industri 4.0, Pegadaian juga perlu menerapkan "digital product strategy" dan "product differentiation", untuk meningkatkan pelayanan dan jangkauan.
"Disrupsi bisa terjadi di berbagai lini perusahaan, termasuk sektor jasa keuangan. Jadi, industri keuangan, terutama Pegadaian, harus terus melakukan inovasi," pungkasnya.
Baca juga: Pegadaian Gencarkan Inovasi di Era Industri 4.0
Selain realisasi jumlah nasabah yang melampui target, Pegadaian mencatatkan total aset per semester I 2019 sebesar Rp56,1 triliun. Adapun capaian outsanding loan pada periode serupa, yakni Rp43,6 triliun.
Laba bersih yang diperoleh hingga semester I 2019 tercatat Rp1,5 triliun. Tahun lalu, Pegadaian memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara sebesar Rp2,8 triliun. Rinciannya, capain dividen Rp1,3 triliun dan pajak sebesar Rp1,4 triliun.
“Akhir 2018 Pegadaian sudah memberikan kontribusi kepada negara cukup besar, dan menjadi penyumbang pendapatan terbesar ke-7 di antara BUMN besar lainnya,” jelas Direktur Utama Pegadaian, Kuswiyoto, dalam kesempatan sama.
Lebih lanjut, dia menekankan Pegadaian dikelola secara sehat dan terukur. Hal itu tercermin dari capaian ROA 2018 sebesar 5,26% dan ROE sebesar 13,80%, berikut BOPO sebesar 68,30%. Selain itu, kata dia, perusahaan memiliki operasi bisnis yang efesien. Terlihat dari data BOPO 2018 yang mencapai 68%.
"Dengan berbagai pencapaian kinerja keuangan yang baik, banyak yang mendorong Pegadaian untuk IPO (Initial Public Offering," imbuh Kuswiyoto.
Kuswiyoto menambahkan untuk asesmen GCG (Good Corporate Governance), Pegadaian sudah mencapai 98,21%.
"Nilai ini sudah hampir sempurna. Penilaian GCG dihitung pihak independen, sebagaimana halnya rating Triple A yang dinilai Pefindo," ucapnya. (A-4)
Pegadaian berhasil meraih dua apresiasi sekaligus, yaitu sebagai Lembaga Pembiayaan dan Pergadaian dengan Program Literasi Keuangan Teraktif dan Juara 2 PUJK
Pegadaian melalui layanan Bank Emas Pegadaian menghadirkan promo spesial dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80.
Kepala Divisi Bisnis Bullion PT Pegadaian Kadek Eva Suputra menegaskan tengah menggenjot pemanfaatan emas idle atau emas yang dimiliki masyarakat namun tidak digunakan secara produktif.
Pengakuan internasional ini semakin memperkuat posisi Pegadaian sebagai perusahaan yang unggul dalam memberikan layanan prima berbasis customer-centric.
Tahun ini, Pegadaian Kanwil X Jawa Barat bekerja sama dengan Divisi Unit Usaha Syariah menyelenggarakan khitan massal gratis dengan total 320 anak dari kalangan nasabah dan masyarakat umum.
Barang yang banyak digadaikan berupa perhiasan emas. Emas merupakan kredit cepat dan aman (KCA) yang jika digadaikan lebih cepat dibandingkan barang lainnya.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved