Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
ASOSIASI Pengusaha Indonesia (Apindo) menyarankan pemerintah untuk megendalikan impor dengan menggenjot industri substitusi agar defisit neraca perdagangan tak terjadi lagi di kuartal II-2019.
Seperti diketahui, Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan hingga 2,5 miliar dollar Amerika Serikat pada April lalu. Ketua Umum Apindo Haryadi B Sukamdani mengatakan, sebenarnya kebijakna impor Indonesia sudah bagus dengan memprioritaskan barang modal,
"Tapi bagaimanapun juga kita harus mengupayakan sebisa mungkin ada substitusinya bisa menggantikan impor itu dengan produksi di dalam negeri," kata Hariyadi kepada Media Indonesia, Sabtu (18/5).
Hariyadi menilai, harus dilakukan inovasi dan terobosan baru agar barang-barang berpotensi yang sebelumnya diimpor, dapat diproduksi di dalam negeri.
"Misalnya kayak garam industri lah, itu harusnya kan bisa gitu ya diproduksi sendiri di dalam negeri," terangnya.
Baca juga : Penguatan Investasi Atasi Defisit Neraca Perdagangan
Di samping mengendalikan impor dengan industri substitusi, Hariyadi melihat adanya peluang ekspor yang besar di kawasan ASEAN.
Selain itu, Australia juga turut menjadi pasar ekspor yang menjanjikan, terutama setelah Indonesia dan negeri Kanguru tersebut meneken kerja sama Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA -CEPA) beberapa waktu lalu.
"Untuk ekspornya itu sebenarnya kita peluangnya masih besar terutama di kawasan ASEAN yang belum tergarap dengan optimal dan juga Australia. Australia kan kita juga CEPA-nya sudah kita tanda tangan itu," imbuhnya.
Haryadi menambahkan, Indonesia harus dapat menajamkan daya saing dan menciptakan inovasi-inovasi baru terutama yang dapat menyaingi produk milik Tiongkok.
"Tiongkok saingan kita kalau soal ekspor. Menurut saya semuanya punya peluang ekspor bahkan industri kreatif juga sekarang sudah mulai bagus," tandasnya. (OL-8)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2025 dengan kinerja positif, menguat tipis sebesar 2,68 poin.
Anjloknya harga emas pada perdagangan hari ini memberikan tekanan langsung terhadap sentimen saham-saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG mengakhiri perdagangan Selasa sore di zona merah. Tekanan jual muncul seiring investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menjelang libur dan cuti bersama Natal.
Sektor non-migas menjadi pendorong utama surplus perdagangan Batam pada September 2025, dengan mesin dan peralatan listrik (HS 85) mendominasi ekspor dengan nilai US$831,02 juta.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan pentingnya dukungan terhadap investasi asing sebagai bagian dari upaya mempercepat kemakmuran nasional.
Indonesia mendorong penyelesaian perundingan reviu ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA) pada akhir 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved