Penguatan Investasi Atasi Defisit Neraca Perdagangan

Penulis: */E-3) Pada: Sabtu, 18 Mei 2019, 06:20 WIB Ekonomi
Penguatan Investasi Atasi Defisit Neraca Perdagangan

MI/Panca Syurkan
Darmin Nasution i

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengingatkan perlunya kegiatan investasi berbasis ekspor dan substitusi impor yang bisa mengatasi persoalan defisit neraca perdagangan.

“Kami mendorong investasi tak hanya untuk ekspor, tapi juga sub­stitusi impor,” kata Darmin di Jakarta, Jumat (17/5)

Darmin mengatakan kinerja per­dagangan nasional saat ini terdam­pak oleh ketidakpastian global akibat tingginya tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok.

Untuk itu, penguatan investasi ter­utama yang berbasiskan pada industri pengolahan menjadi penting lantaran dapat memberikan kontribusi dalam mendorong ekspor dan menekan impor.

Pembenahan kinerja ekspor melalui penguatan investasi selama ini juga sudah dilakukan pemerintah melalui pendirian sistem layanan perizinan terintegrasi (OSS) untuk kemudahan berusaha.   

Perbaikan birokrasi yang disertai pemberian insentif perpajakan itu diharapkan mampu meningkatkan investasi berbasis ekspor dan substitusi impor. “Kami ingin ekspor meningkat dan mendorong investasi substitusi impor untuk bahan baku seperti besi baja dan petrokimia. Itu umumnya berkapasitas besar,” terang Darmin.

Pemerintah juga mulai meng­identifikasi barang ekspor nonmigas unggulan yang bisa berdampak kepada pembenahan neraca perdagangan dalam waktu dekat.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada April 2019 tercatat defisit US$2,5 miliar. Kinerja ekspor April masih tertahan tren penurunan vo­lume permintaan ekspor dari mitra dagang, seperti Tiongkok, AS, Jepang, dan India.

Itu juga salah satunya disebabkan neraca perdagangan mi­nyak dan gas (migas) yang defisit US$1,49 miliar dengan jumlah ekspor US$741,9 juta dan impor US$2,23 miliar pada April 2019.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar menambahkan defisit neraca migas pada April lalu disebabkan kenaikan volume impor bahan bakar minyak (BBM). “Impor BBM kita naik untuk menjaga ketahanan stok Ramadan dan Lebaran,” kata dia.

Selain volume impor meningkat, harga minyak mentah atau crude oil juga naik sehingga memperparah defisit neraca perdagangan.

Arcanda memprediksi impor BBM akan turun pada Juni 2019 seiring dengan berakhirnya Ramadan dan momen Lebaran. (*/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More