Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional Arif Budimanta mengatakan, pemerintah perlu menggenjot ekspor untuk menekan defisit neraca perdagangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, defisit neraca perdagangan April 2019 tercatat 2,5 miliar dollar Amerika Serikat, lebih lebar dari defisit April 2018 sebesar 1,66 miliar dollar AS.
"Untuk menekan defisit neraca dagang dapat dilakukan dengan mendorong ekspor," kata Arif dalam diskusi, di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (17/5).
Dalam menggenjot ekspor, Arif menilai harus ada peningkatan nilai tambah dari produk unggulan ekspor berbasis dalam negeri.
Indonesia, kata dia, tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor pada barang komoditas bahan mentah. Menurutnya, perlu ada nilai tambah dari komoditas ekspor Indonesia.
Baca juga : Pemerintah Dorong Investasi untuk Tingkatkan Neraca Dagang
Selama ini, kata Arif, komoditi utama yang diekspor Indonesia adalah sawit. Sayangnya, komoditas tersebut tidak memiliki nilai tambah.
Selain itu, harga komoditas sawit dalam tiga tahun terakhir ini mengalami penurunan yang cukup signifikan.
"Kalau kita mengarah ke (komoditi) yang bertambah nilai tinggi, misalnya minyak goreng yang merupakan produk turunan kedua, harganya relatif stabil," katanya.
Selain itu, kata Arif, komoditas yang memiliki nilai tambah dengan bahan baku impor juga harus bisa diekspor. Dalam hal ini, maksud dia, impor bahan baku harus yang memiliki orientasi ekspor.
"Selama ini, ekspor barang Indonesia selalu mampu jadi buffer dalam aktivitas perdagangan dan neraca transaksi berjalan. Kalau dalam jangka menengah dan panjang tidak ada perubahan strategi, maka ini akan berlanjut terus menerus," katanya.
Defisit neraca perdagangan, kata Arif, berpotensi menekan neraca transaksi berjalan.
"Kalau kita ingin perbaiki current account, maka faktor fundamental, faktor struktural itu yang harus dituju," pungkasnya. (OL-8)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2025 dengan kinerja positif, menguat tipis sebesar 2,68 poin.
Anjloknya harga emas pada perdagangan hari ini memberikan tekanan langsung terhadap sentimen saham-saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG mengakhiri perdagangan Selasa sore di zona merah. Tekanan jual muncul seiring investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menjelang libur dan cuti bersama Natal.
Sektor non-migas menjadi pendorong utama surplus perdagangan Batam pada September 2025, dengan mesin dan peralatan listrik (HS 85) mendominasi ekspor dengan nilai US$831,02 juta.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan pentingnya dukungan terhadap investasi asing sebagai bagian dari upaya mempercepat kemakmuran nasional.
Indonesia mendorong penyelesaian perundingan reviu ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA) pada akhir 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved