Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
RUPIAH berada di posisi 14.434 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (14/4). Angka tersebut melemah 0,8% dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin, Senin (13/4).
Berkaitan dengan itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan pelemahan rupiah bersama sebagian besar mata uang Asia dan mata uang utama dipengaruhi oleh memanasnya tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok setelah Jumat lalu pemerintah AS memberlakukan kenaikan tarif impor produk Tiongkok.
Berikutnya, pemerintah Tiongkok juga berencana melakukan aksi retaliasi untuk memberlakukan kenaikan tarif impor produk AS sebesar US$60miliar.
Hal tersebut kemudian mendorong pelemahan tajam mata uang Yuan Tiongkok di pasar offshore sebesar 0,97% ke level 6,9121 yang pada umumnya memberikan sentimen negatif pada seluruh mata uang Asia.
Baca juga: Rupiah Tertekan, Darmin Sebut Kondisi Eksternal tidak Kondusif
"Berlanjutnya perang dagang akan berpotensi mendorong perlambatan ekonomi global dan menekan laju pertumbuhan volume perdagangan global," kata Josua kepada Media Indonesia, Selasa (14/4).
Di sisi lain, dairi sisi domestik, keuangan terpengaruh oleh sentimen negatif di pasar negara berkembang sehingga JCI terkoreksi 1,19% ke level 6.135 dan yield SUN naik sekitar 4-7bps.
Pelemahan rupiah juga turut didorong oleh permintaan dollar AS di dalam negeri juga cenderung meningkat seiring mendekatnya jadwal pembayaran dividen beberapa perusahaan.
Namun begitu, Josua menyatakan sejauh ini pelemahan rupiah ini hanya bersifat sementara. Pasalnya, saat ini pelemahan tersebut didukung oleh faktor musiman permintaan dollar yang meningkat serta sentimen negatif dari eksternal.
"Rupiah akan cenderung menguat terhadap dollar AS ketika sentimen perang dagang mereda dan akan ditopang oleh perbaikan defisit transaksi berjalan pada tahun ini," tutup Josua. (OL-7)
KETUA Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Mukhamad Misbakhun meminta agar Bank Indonesia (BI) untuk menjaga nilai tukar rupiah pada angka-angka yang moderat.
RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 4,75 persen mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah
Ketua umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengaku sangat khawatir dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS yang semakin dalam pada akhir-akhir ini.
Selain faktor suku bunga, Deni menilai bahwa kondisi neraca pembayaran pemerintah juga turut memberikan tekanan.
NILAI tukar rupiah menguat 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.936 per dolar AS dari sebelumnya hampir Rp17.000 per dolar AS. Penguatan itu terjadi saat penutupan perdagangan 21 Januari 2026
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkap pelemahan rupiah dipicu tekanan global dan domestik, dengan modal asing keluar Rp25,1 triliun pada Januari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved