Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Rupiah Tertekan, BI Sebut Hanya Bersifat Jangka Pendek

Nur Aivanni
06/5/2019 17:36
Rupiah Tertekan, BI Sebut Hanya Bersifat Jangka Pendek
Layanan tukar menukar valuta Asing(Antara/Puspa Perwitasari)

NILAI tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) beberapa waktu belakangan ini terus mengalami tekanan.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), mata uang garuda hari ini (6/5) berada di angka Rp14.308 per dolar AS.

Sebelumnya, berturut-turut Rupiah juga mengalami tekanan, yaitu Rp14.282 per dolar AS (3/5), Rp14.245 per dolar AS (2/5) dan Rp14.215 per dolar AS (30/4).

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan, dinamika global terus bergerak.

Secara global, diakuinya, dolar AS menguat dengan adanya pernyataan Gubernur The Fed Jeremy Powell bahwa The Fed tidak akan menaikkan atau menurunkan suku bunganya tahun ini.

Sementara itu, sambung Nanang, pasar justru berekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan diturunkan tahun ini.

Baca juga : Trump Ancam Tiongkok, Rupiah Melemah

"Ini ada perbedaan dalam melihat arah suku bunga ke depan, antara ekspektasi pasar dan Gubernur The Fed," kata Nanang kepada awak media di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (6/5).

Selain itu, kata Nanang, pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan dagang AS-Tiongkok pun membuat dolar kemudian menguat.

"Yang bersangkutan mengancam akan menaikkan tarif terhadap produk Tiongkok, itu menyebabkan agak surprise bagi market. Tadinya ekspektasi dolar melemah, dengan adanya statement itu membuat semuanya berbalik," tuturnya.

Nanang menilai bahwa dinamika yang disebabkan oleh statement biasanya bersifat jangka pendek. Pasalnya, menurut dia, statement akan berubah dalam waktu singkat.

"Statement-statement yang disampaikan Presiden AS jangan dilihat sebagai faktor yang berpengaruh sifatnya jangka panjang. Ini dinamika jangka pendek yang harus kita sikapi sebagai sebuah fluktuasi yang biasa, tidak perlu terlalu banyak dicemaskan," paparnya.

Dari sisi domestik sendiri, Nanang menilai rilis pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2019 oleh Badan Pusat Statistik sebesar 5,07% memang di bawah ekspektasi pasar.

Hanya saja, menurut dia, pertumbuhan ekonomi tersebut masih cukup solid dibandingkan negara-negara lain. Ia pun meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi di Kuartal II 2019 akan meningkat dengan didorong kegiatan ekonomi yang lebih dinamis.

"Dibandingkan negara lain, angka 5% itu masih relatif cukup solid. Jadi, kalau kita lihat dampaknya tadi, pengaruh terbesar dari pergerakan kurs hari ini adalah faktor global dari statement Presiden Trump yang menyebabkan hampir seluruh harga saham dunia rontok, terutama Tiongkok," tandasnya. (OL-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya