Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
EKSPOR minyak kelapa sawit pada Februari mengalami pelemahan dari bulan sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor komoditas utama itu pada bulan kedua di 2019 sebesar 1,19 juta ton, turun 15% dari Januari yang mencapai 1,41 juta ton.
"Penurunan terjadi karena berkurangnya permintaan dari India. Selain itu, negara-negara Eropa seperti Belanda, Spanyol, dan Italia juga mengurangi impor mereka," ujar Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Jumat (15/3).
Pelemahan ekspor sawit dikhawatirkan akan terus berlangsung ke depan. Pasalnya, Uni Eropa tiada henti melakukan upaya pelarangan penggunaan minyak nabati berbasis kelapa sawit di Benua Biru.
Yang teranyar, Rabu (13/3) lalu, Komisi Uni Eropa menentukan kriteria baru penggunaan minyak nabati untuk bahan baku produksi biodiesel.
Baca juga: Produk Tembakau Alternatif Perlu Dapat Perhatian
Dalam aturan baru itu, minyak sawit dikategorikan sebagai komoditas yang tidak berkelanjutan lantaran dianggap mengakibatkan deforestasi berlebihan.
Dengan demikian, minyak sawit tidak diizinkan digunakan sebagai komponen bahan baku.
Kriteria tersebut disusun dalam rangka pembentukan undang-undang Renewable Energy Directive II (RED II) untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan menjadi 32 persen pada tahun 2030.
Pemerintah dan Parlemen Uni Eropa memiliki waktu dua bulan untuk memutuskan apakah akan menerima atau memveto keputusan Komisi.
Ketentuan baru itu jelas mengancam industri minyak sawit Tanah Air. Komoditas tersebut menyumbang 12,9% dari total ekspor nonmigas.
Bila ditinjau dari total ekspor secara keseluruhan, kontribusi minyak sawit terhadap ekspor dua bulan pertama 2019 mencapai 11,14%. (OL-2)
Dengan mengurangi harga barang yang dilaporkan, maka bea masuk yang dibayarkan juga akan berkurang dan hal tersebut sangat merugikan ekonomi dari sisi pendapatan negara.
Purbaya mengingatkan, ke depan pihaknya tidak akan memberikan kesempatan perusahaan-perusahaan kelapa sawit untuk bisa kembali melakukan praktik under invoicing.
KSPSI menekankan pentingnya standar hubungan industrial yang setara dan berkeadilan di sektor perkebunan kelapa sawit.
Siklon tropis Senyar yang membawa curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu utama banjir. Namun, menurutnya, faktor manusia dan aktivitas industri juga perlu dikaji lebih serius.
PT Astra Agro Lestari Tbk menegaskan konsistensinya dalam menjalankan kebijakan keberlanjutan, termasuk Nol Deforestasi, yang telah menjadi bagian dari operasional perusahaan sejak 2015.
Bencana banjir bandang yang terjadi di tiga provinsi di Pulau Sumatera, bukan hanya karena faktor alam, tapi akibat penebangan hutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved