Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Musim Panen Raya Dihantui El Nino

Andhika Prasetyo
16/1/2019 19:49
Musim Panen Raya Dihantui El Nino
(ANTARA)

KEMENTERIAN Pertanian menargetkan produksi beras sebesar 10 juta ton atau setara 17 juta ton gabah kering giling (GKG) pada Januari sampai dengan Maret.

Target itu didasarkan pada hitungan luas panen yang ditaksir mencapai 3,3 juta hektare (ha), dengan produktivitas padi mencapai 5,1 ton GKG per ha. Secara rinci, Kementan memproyeksikan produksi beras pada Januari sebesar 2,2 juta ton, Februari 5,2 juta ton dan Maret 2,6 juta ton.

"Itu masih angka sementara, belum final dengan BPS. Panen raya itu tidak pernah berbarengan karena musim hujan selalu bergeser dari barat terus ke timur. Mulai bulan ini dan Februari kemungkinan panen raya akan ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ujar Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Sumardjo Gatot Irianto, Rabu (16/1).

Baca juga: Capres Harus Miliki Strategi Selamatkan Industri Ritel

Menanggapi hal itu, pengamat sekaligus praktisi pertanian Dwi Andreas menilai target tersebut terlalu ambisius. Pasalnya, musim tanam pada akhir tahun lalu bergeser sehingga membuat panen raya mundur. Produksi, lanjutnya, baru akan terlihat besar pada Maret dan puncaknya pada April.

"Kalau prediksi saya, Januari sampai Maret ini produksi tidak akan lebih dari enam juta ton," ujar Dwi.

Terlebih, ia mengatakan pada periode Desember 2018 hingga Maret 2019 terdapat potensi fenomena elnino hingga 80%.

"Itu sudah dirasakan di jaringan kami. Beberapa minggu terakhir, sudah dilaporkan sawah yang baru tanam tiba-tiba kering, terutama yang berada di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan sebagian besar Jawa," ucapnya.

Untuk lahan sawah yang memiliki sistem irigasi yang bersumber dari waduk dengan kapasitas air baik tidak akan menjadi masalah. Namun untuk sawah tadah hujan, situasi itu tentu menjadi persoalan.

"Jadi ini perlu diperhatikan bagaimana antisipasinya. Kalau dibiarkan, pasti akan mengganggu panen raya. Walaupun hujan tetap turun, intensitasnya akan berkurang karena ketika wilayah pasifik panas, sebagian air akan diserap ke sana," jelasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya