Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
Para ilmuwan di University College London (UCL), Inggris menemukan bahwa efek perlindungan kognitif dari olahraga dapat berkurang bagi orang yang tidak cukup tidur.
Peneliti menilai fungsi kognitif selama rentang satu dekade di antara 8.958 orang dewasa yang lebih tua (usia 50 tahun ke atas) di Inggris. Penulis studi ingin menilai bagaimana kombinasi kebiasaan tidur dan aktivitas fisik yang berbeda dapat memengaruhi fungsi kognitif dari waktu ke waktu.
Studi yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Healthy Longevity ini mengarah pada temuan bahwa mereka yang lebih aktif secara fisik tetapi memiliki durasi tidur yang lebih pendek (rata-rata kurang dari 6 jam) menunjukkan penurunan kognitif yang lebih cepat secara keseluruhan. Artinya, setelah 10 tahun berlalu, fungsi kognitif mereka hampir sama dengan teman seusianya yang kurang melakukan aktivitas fisik.
“Studi kami menunjukkan bahwa tidur yang cukup mungkin diperlukan bagi kita untuk mendapatkan manfaat kognitif penuh dari aktivitas fisik. Ini menunjukkan betapa pentingnya mempertimbangkan tidur dan aktivitas fisik secara bersamaan saat memikirkan kesehatan kognitif,” kata penulis utama Dr. Mikaela Bloomberg (UCL Institute of Epidemiology & Health Care), seperti dikutip dari Study Finds, Jumat (14/7).
Penurunan cepat ini terjadi di antara mereka yang berusia 50-an dan 60-an dalam kelompok ini, tetapi di antara orang dewasa yang lebih tua (usia 70+), manfaat kognitif yang terkait dengan olahraga tampaknya tetap ada, meskipun durasi tidurnya lebih pendek.
“Penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat melindungi fungsi kognitif di usia paruh baya dan lanjut, karena mereka dapat memperpanjang tahun kesehatan kognitif kita dan bagi sebagian orang, menunda diagnosis demensia,” jelas rekan penulis studi Profesor Andrew Steptoe (UCL Institute of Epidemiology & Health Care).
Untuk melakukan penelitian ini, tim di UCL menggunakan data dari studi longitudinal tentang penuaan, sebuah studi kohort yang mewakili populasi Inggris secara nasional. Peserta ditanya berapa lama mereka biasanya tidur pada malam hari dan kemudian dipisahkan menjadi tiga kelompok tidur yaitu pendek (kurang dari 6 jam), optimal (6 sampai 8 jam), dan panjang (lebih dari 8 jam).
Peserta juga diberi skor berdasarkan frekuensi dan intensitas aktivitas fisik yang dilaporkan sendiri, dan kemudian dibagi menjadi salah satu dari dua kelompok yaitu lebih aktif secara fisik (sepertiga pencetak skor teratas) dan kurang aktif secara fisik (dua pertiga lainnya).
Fungsi kognitif, sementara itu, diukur berdasarkan tes memori episodik (peserta diminta untuk mengingat daftar 10 kata, baik segera dan kemudian setelah penundaan) dan tes kefasihan verbal (peserta diminta untuk menyebutkan hewan sebanyak mungkin dalam 60 detik).(M-3)
Merasa terganggu dan takut kehilangan kewarasan, wanita tersebut mencari bantuan psikiater, Dr. Ikechukwu Obialo Azuonye.
Gagal ginjal sering berkembang tanpa gejala di tahap awal. Kenali tanda-tanda seperti kelelahan, edema, hingga perubahan urine untuk penanganan sedini mungkin.
Daftar 20 makanan tinggi antioksidan versi USDA, dari blueberry hingga kacang merah. Bantu lawan radikal bebas dan cegah penyakit kronis.
Berdasarkan filosofi keseimbangan Yin dan Yang, jamur kuping dipercaya mampu mengembalikan harmoni organ tubuh yang terganggu akibat penyakit.
Selain hipertensi, diabetes dan influenza juga menduduki posisi teratas dalam daftar keluhan kesehatan di posko pemantauan mudik.
Sakit tenggorokan saat bangun tidur bisa disebabkan dehidrasi, alergi, hingga GERD. Kenali 6 penyebab paling umum dan cara mencegahnya sebelum kondisi semakin parah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved