Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
HIDUP bersama penenun di Desa WatublapiNusa Tenggara Timur (NTT), memberikan banyak pelajaran bagi pendiri jenama Noesa, Annisa Hendrato dan Cendy Mirnaz. Salah satu yang menjadi hal penting dan diterapkan pada usahanya yakni meminimalkan adanya limbah produk.
Annisa yang merupakan Co-Founder Noesa menyebut awalnya mereka tidak peduli dengan persoalan limbah. Namun lama tinggal dengan warga desa membuatnya terpikir untuk menerapkan apa yang dilihatnya setiap hari.
"Ya mama-mama itu tidak membuang limbah. Pewarna yang mereka buat dari alam itu terus digunakan lagi tidak ada yang terbuang. Hidup mereka memang berkawan alam, alat tenun pun dibuat sendiri," ucap Annisa.
Perempuan lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara ini pun langsung menerapkan pada usahanya. Sebisa mungkin tidak ada limbah tekstil terbuang. Sisa potongan bahan disimpan dan diolah lagi menjadi barang bernilai guna.
"Perca dari kain-kain yang kami gunakan lalu dikumpulkan. Kami buat menjadi aksesori kecil, seperti anting-anting hingga pembatas buku. Kami sih tidak mengatakan zero waste, hanya menerapkan less waste," ungkap Nisa.
Baca juga: Ikut Program BRILianpreneur, Produk Noesa Sampai ke Prancis
Sementara terkait pemotongan motif di kain tenun, Nisa menyebut tak ada pakemnya karena produk Noesa lebih banyak menggunakan corak umum yang memang boleh dibagikan kepada khalayak. Ia tak menampik ada beberapa motif yang membuat kain tersebut tidak boleh diubah-ubah. Nisa dan Cendy pun urun desain pola yang kemudian diterima oleh mama-mama penenun dan segera dibuat.
Meski isu lingkungan menjadi hal yang sedang ramai diperbincangkan, akan tetapi tidak mudah membawa konsep tersebut dengan harapan bisa dibeli banyak orang. Karena, harga akan tetap selalu menjadi hal utama yang dilihat oleh sejumlah pembeli. Kini produk Noesa semakin beragam mulai dari pembatas buku, anting-anting hingga totebag. Noesa pun memiliki 22 penenun di Desa Watublapi.
Konsep less waste ini sejalan dengan yang diusung oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI pada program BRILianpreneur pada lini lingkungan. BRI mempertimbangkan aspek-aspek seperti environmental, social, governance. BRI sebagai role model penerapan prinsip-prinsip ESG juga mendorong pelaku UMKM untuk mampu tumbuh berkelanjutan. Implementasi prinsip ESG dalam proses produksi meliputi kegiatan pemberdayaan perempuan, pengelolaan limbah, dan inklusivitas.(M-4)
Peluang punya rumah lebih murah kini terbuka. Pelajari cara membeli properti dari lelang bank dengan BRI KPR Solusi dan nikmati berbagai keuntungannya.
Renovasi rumah tanpa menguras tabungan. Kenali BRI KPR Renovasi dengan cicilan fleksibel dan tenor panjang untuk wujudkan hunian lebih nyaman.
BRI berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp1.416,62 triliun atau tumbuh 5,97% secara tahunan (yoy), dengan dominasi kuat pada sektor UMKM yang mencapai 80,32% dari total kredit.
Dari sisi pendanaan, tren penurunan suku bunga acuan diperkirakan akan memperkuat likuiditas dan meningkatkan efisiensi struktur biaya dana.
Transfer Bank Jateng ke BRI mudah dan cepat! Panduan lengkap cara transfer, biaya, kode bank, serta tips agar transaksi berhasil. Klik di sini untuk info!
Cari tahu kode SWIFT Bank BRI terbaru untuk transfer internasional! Panduan lengkap & mudah. Temukan kode BIC BRI & cara menggunakannya di sini! Klik sekarang!
BSKDN Kemendagri menyoroti berbagai praktik baik (best practices) yang dilakukan pemerintah daerah dalam menurunkan tingkat pengangguran.
Kerja sama ini diwujudkan melalui kunjungan program Social Innovation Mission di Indonesia.
MOMENTUM libur Idulfitri 1447 H menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
100 mahasiswa lintas program studi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Cikarang bakal diterjunkan ke 38 desa pada pertengahan 2026 untuk mengikuti program BSI Explore 2026.
Ibu Irma, nasabah PNM Mekaar di Ciparay, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk produktif.
Program revitalisasi sekolah tak hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga menyerap 238 ribu tenaga kerja dan menggerakkan 58 ribu UMKM di daerah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved