Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
Manifestasi dari rasa malu tiap orang berbeda. Bagi sebagian orang, itu mungkin berarti emosi yang muncul dalam situasi sosial tertentu. Bagi yang lain, mungkin rasa malu menjadi bagian dari sifat dasar atau kepribadian mereka
Sebuah tim dari Universitas McMaster, Kanada berupaya memahami mengapa banyak anak sering kali menjadi pemalu dalam lingkungan sosial mereka. Untuk menyelidiki hal tersebut, tim mempelajari 152 anak berusia antara tujuh dan delapan tahun, serta orangtua mereka. Sembilan dari 10 pengasuh adalah ibu, sedangkan 10% sisanya adalah ayah.
Anak-anak dilengkapi dengan elektrokardiogram rawat jalan dan menyelesaikan percobaan di sebuah ruangan di sebelah orangtua mereka. Orangtua menyelesaikan kuesioner daring terkait dengan karakterputra-putri mereka sambil memantau di monitor yang tidak bersuara.
Dalam penelitian ini, anak-anak harus menyiapkan pidato dua menit tentang ulang tahun terakhir mereka untuk ditampilkan di video dan dicermin, dengan anggapan bahwa anak-anak lain akan menontonnya nanti. Para peneliti mengincar bagian terakhir untuk memicu respons stres.
Tim kemudian memantau perilaku mereka, mencatat penanda seperti kegugupan dan bagaimana pernapasan mereka. “Temuan menunjukkan bahwa sekitar 10% anak-anak dalam penelitian kami menunjukkan perilaku sosial reaktivitas stres dan memiliki pola rasa malu yang relatif lebih tinggi dan stabil yang dilaporkan orangtua sepanjang waktu. Ini memberikan bukti bahwa mereka dapat dicirikan sebagai pemalu secara temperamen," kata Kristie Poole, yang melakukan penelitian, seperti dikutip dari situs Study Finds, Selasa (25/4).
Hasil lainnya, sekitar 25% anak-anak menunjukkan pola reaktivitas stres sosial hanya pada tingkat afektif yaitu perasaan gugup atas situsiasi tertentu, dan tidak menunjukkan tingkat rasa malu yang dilaporkan yang relatif tinggi. (M-3)
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved