Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Penelitian terbaru membuktikan aktivitas berkebun merupakan salah satu cara tepat untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Kajian tersebut menunjukkan berkebun juga memiliki manfaat yang lebih luas.
Seperti dilansir dari Neuro Science News pada Minggu (8/1), kajian terbaru yang diterbitkan di The Lancet Planetary Health oleh tim peneliti dari University of Colorado Boulder, Amerika Serikat menunjukkan adanya keterkaitan antara aktivitas berkebun dengan kesehatan fisik serta mental.
Penelitian tersebut didasarkan pada hasil uji coba yang dilakukan secara acak dan terkontrol terhadap kegiatan komunitas berkebun. Peneliti menemukan bahwa orang yang ikut komunitas berkebun akan makan lebih banyak serat dan melakukan lebih banyak aktivitas fisik, sehingga bisa mengurangi risiko kanker dan penyakit kronis serta menurunkan tingkat stres dan kecemasansecara signifikan
"Temuan ini memberikan bukti nyata bahwa aktivitas berkebun bisa memainkan peran penting dalam mencegah kanker, penyakit kronis dan gangguan kesehatan mental," jelas penulis senior Jill Litt, profesor di Departemen Studi Lingkungan di CU Boulder.
Beberapa studi penelitian dari skala kecil juga menemukan bahwa orang yang berkebun cenderung makan lebih banyak buah dan sayuran dan memiliki berat badan yang lebih sehat. Namun, belum jelas apakah orang yang lebih sehat cenderung berkebun, atau berkebun yang memengaruhi kesehatan.
Sebagai bagian dari penelitian ini, tim peneliti merekrut 291 orang dewasa yang tidak berkebun, rata-rata berusia 41 tahun. Para peserta berasal dari daerah Denver dengan lebih dari sepertiga orang Hispanik dan lebih dari setengahnya berasal dari rumah tangga yang dianggap berpenghasilan rendah.
Setelah musim semi, setengah peserta ditugaskan ke kelompok berkebun masyarakat dan setengahnya lagi ke kelompok kontrol yang diminta menunggu satu tahun untuk mulai berkebun. Kelompok berkebun menerima sebidang kebun komunitas gratis, beberapa benih dan bibit, dan kursus berkebun pengantar melalui program nirlaba Denver Urban Gardens dan mitra studi.
Untuk mengumpulkan data, kedua kelompok menyelesaikan survei berkala tentang pola makan dan kesehatan mental mereka. Para peneliti memonitor aktivitas mereka dan dan mengukur kondisi fisik peserta. Hasilnya menunjukkan pada musim gugur, kelompok berkebun rata-rata mengonsumsi 1,4 gram lebih banyak serat per hari dibandingkan kelompok kontrol, peningkatan sekitar 7%.
Tim menjelaskan bahwa serat memberikan efek mendalam pada respons peradangan dan kekebalan, memengaruhi berbagai hal seperti cara tubuh memetabolisme makanan hingga seberapa sehat mikrobioma usus hingga seberapa rentan tubuh terhadap diabetes dan kanker tertentu. Diperkirakan rata-rata orang dewasa di AS mengonsumsi kurang dari 16 gram serat sehari, di bawah rekomendasi dokter yaitu 24 - 38 gram.
"Peningkatan satu gram serat dapat memiliki efek positif yang besar pada kesehatan," ujar rekan penulis dan direktur program pencegahan dan pengendalian kanker University of South Carolina, James Hebert.
Kegiatan berkebun juga meningkatkan tingkat aktivitas fisik sekitar 42 menit per minggu. Sebagaimana badan kesehatan masyarakat merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas fisik per minggu, namun rekomendasi tersebut hanya dipenuhi oleh seperempat populasi AS.
Peserta studi juga melaporkan tingkat stres dan kecemasan mereka menurun, dengan mereka yang datang ke studi paling stres dan cemas melihat penurunan terbesar dalam masalah kesehatan mental. Studi juga menegaskan tukang kebun pemula pun dapat memperoleh manfaat kesehatan terukur dari hobi di musim pertama mereka karena memiliki pengalaman dan menikmati hasil yang lebih besar.
Litt berharap temuan ini akan mendorong para profesional kesehatan, pembuat kebijakan, dan perencana lahan untuk melihat ke kebun komunitas, dan ruang lain yang mendorong orang untuk berkumpul di alam. Hal in sebagai bagian penting dari sistem kesehatan masyarakat, apalagi buktinya susah jelas. (M-3)
Kemampuan motorik berhubungan erat dengan pencapaian akademik, khususnya dalam berhitung dan membaca.
Temuan ini mengindikasikan bahwa varian gen tertentu yang cukup umum di masyarakat dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terserang ME/CFS.
Orang depresi dalam kondisi relapse bisa sangat sulit untuk membuka mata, apalagi berinteraksi atau melakukan aktivitas.
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menilai seringnya ruang sidang DPR sepi jadi bukti malasnya anggota DPR dalam bekerja.
Zodiak pertama adalah Scorpio yang memiliki kepintaran alami. Mereka seakan sudah pintar dari lahir, karena tanpa belajar pun Scorpio bisa menjawab pertanyaan.
Susan Solomon, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan kepada AFP bahwa penelitian ini harus dilihat dari sudut pandang bahwa "beberapa tahun terakhir ini sangat tidak biasa".
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia.
Talentlytica bersama Unit Usaha Akademik Unpad akan menggelar Workshop Pauli Reimagined pada 4 Oktober mendatang di Bandung, Jawa Barat
Penggunaan pacar AI di platform seperti Character.AI makin populer, tetapi pakar memperingatkan risikonya.
Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga ilmiah. Pelajari efek hormon ini saat jatuh cinta dan patah hati.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved