Rabu 23 November 2022, 08:15 WIB

Jumlah Sperma Manusia di Dunia Menurun, Apa Dampaknya bagi Populasi?

Devi Harahap | Weekend
 Jumlah Sperma Manusia di Dunia Menurun, Apa Dampaknya bagi Populasi?

unsplash.com/Jacek Dylag
Jumlah sperma manusia turun lebih dari 50% di seluruh dunia. Hal ini bisa mempengaruhi populasi

 

Penelitian terbaru mengungkapkan selama 50 tahun terakhir, jumlah sperma manusia tampaknya telah turun lebih dari 50% di seluruh dunia. Jika penurunan terus berlanjut, hal itu bisa berdampak penting bagi reproduksi manusia di masa depan.

Meskipun temuan itu masih menjadi perdebatan di antara para ahli kesuburan pria, mereka mengatakan penurunan sperma juga akan menjadi pertanda penurunan kesehatan pada pria secara umum, karena kualitas air mani dapat menjadi penanda penting kesehatan secara keseluruhan.

Tinjauan, dan kesimpulannya, telah memicu perdebatan di antara para ahli kesuburan pria. Beberapa mengatakan temuan itu nyata dan mendesak, tetapi yang lain mengatakan mereka tidak yakin dengan data karena metode penghitungan sperma telah berubah begitu banyak dari waktu ke waktu sehingga tidak mungkin untuk membandingkan angka historis dan modern.

Akan tetapi, hampir semua abli setuju bahwa masalah ini membutuhkan studi lebih lanjut. "Saya pikir salah satu fungsi mendasar dari setiap spesies adalah reproduksi. Jadi saya pikir jika ada sinyal bahwa reproduksi sedang menurun, saya pikir itu adalah temuan yang sangat penting," ungkap Dr. Michael Eisenberg, ahli urolog dari Stanford Medicine yang tidak terlibat dalam pemeriksaan.

Tim peneliti memperbaharui ulasan yang diterbitkan di jurnal Human Reproduction Update pada 2017. Sebanyak tiga ribu jurnal yang mencatat jumlah sperma pria dan diterbitkan antara 2014-2020 disisir hingga mendapat 38 jurnal yang sesuai kriteria. Jumlah sperma ternyata menurun hampir 3% per tahun.

Mereka menemukan jumlah sperma turun lebih dari 1% per tahun antara 1973 dan 2018. Kemudian saat analisis dibatasi pada tahun-tahun tertentu, ternyata penurunan jumlah sperma kian cepat dari rata-rata 1,16 per tahun setelah 1973 lalu menjadi 2,64 per tahun setelah 2020.

“Sungguh luar biasa bahwa penurunannya justru meningkat,” kata penulis studi Dr. Hagai Levine, seorang ahli epidemiologi dan peneliti kesehatan masyarakat di Braun School of Public Health and Community Medicine seperti dilansir dari CNN, Minggu (20/11).

Pada tingkat populasi, jumlah sperma rata-rata turun dari 104 juta menjadi 49 juta per mililiter dari tahun 1973 hingga 2019. Jumlah sperma normal dianggap lebih dari 40 juta per mililiter.

"Ada hubungan yang kuat antara kesehatan reproduksi pria dan kesehatannya secara keseluruhan. Jadi itu juga bisa menunjukkan bahwa kita mungkin tidak sesehat dulu lagi," kata Eisenberg.

Faktor penyebab

Tim penelitian mengatakan mereka tidak memiliki cukup data dari berbagai daerah untuk mengetahui faktor penyebab penurunan sperma, apakah beberapa negara memiliki jumlah sperma rata-rata yang lebih rendah daripada yang lain atau apakah jumlah sperma menurun lebih cepat di daerah tertentu dari 53 negara yang dimasukkan dalam tinjauan. Levine mengungkap hal ini perlu dipelajari lagi.

Kendati demikian, riset lain telah menemukan beberapa faktor penyebab penurunan jumlah sperma. Salah satunya adalah gangguan kesehatan reproduksi pria sejak dalam kandungan.

"Kita tahu bahwa ibu yang stres, ibu yang merokok dan terutama paparan bahan kimia buatan manusia yang ada di dalam plastik, seperti phthalates, mengganggu perkembangan sistem reproduksi pria," kata Levine.

Sementara itu, peneliti menyebut jika penurunan terus berlanjut, hal ini bisa berdampak penting bagi reproduksi manusia. Dengan kata lain, penurunan sperma bakal berdampak pada kelangsungan manusia.

Temuan ini memicu perdebatan di kalangan ahli fertilitas pria. Namun hampir semua ahli setuju masalah ini perlu studi lebih lanjut.

"Saya pikir salah satu fungsi mendasar dari setiap spesies adalah reproduksi. Jadi saya pikir jika ada sinyal bahwa reproduksi sedang menurun, saya pikir itu adalah temuan yang sangat penting," kata Dr. Michael Eisenberg, ahli urologi dari Stanford Medicine yang tidak terlibat dalam studi.

Salah satu faktor yang dapat memainkan peran penting dalam produksi sperma adalah gaya hidup yang berdampak pada kesehatan. Kondisi seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan diet tinggi makanan ultraproses semuanya bisa menjadi penyebab penurunan sperma.

“Faktor yang sama yang merugikan kesehatan secara umum biasanya juga merusak kualitas air mani,” ujarnya.

Walaupun tidak menimbulkan kepanikan, karena jumlahnya pada umumnya masih normal, secara rata-rata ada risiko menjadi tidak normal di masa depan. Setiap pria harus mengenalinya dan mempelajarinya lebih lanjut.

"Makalah ini sangat kuat secara ilmiah atau statistik dan melakukan pekerjaan yang baik dalam meringkas data yang tersedia di bidang kami. Tetapi penting untuk menyadari bahwa data itu masih sangat terbatas dalam cara pengumpulan dan pelaporannya," kata Dr. Scott Lundy, ahli urologi di Cleveland Clinic yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut (M-3)

 

Baca Juga

Ashraf Shazly/AFP

Kepunahan Massal bisa Kembali Terjadi Jika Perubahan Iklim Kian Ekstrem

👤Devi Harahap 🕔Kamis 08 Desember 2022, 10:04 WIB
Kepunahan massal pertama bumi terjadi sekitar 550 juta tahun lalu selama periode Ediakars atau sebelum era...
123RF

Pohon Tua Lebih Toleran Terhadap Kekeringan

👤Nike Amelia Sari 🕔Rabu 07 Desember 2022, 22:34 WIB
Mempertimbangkan aspek usia hutan akan menjadi faktor penting dalam memitigasi dampak perubahan...
Dok Ist

Oki Setiana Dewi Luncurkan Busana untuk Muslimah Aktif

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 07 Desember 2022, 17:03 WIB
Oki Setiana Dewi luncurkan pakaian gamis dan produk mukena untuk muslimah yang memiliki mobilitas...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya