Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SAAT ini jumlah penduduk dunia berkisar 8 miliar. Banyak yang mengkhawatirkan jumlah itu terlalu berlebihan untuk planet ini. Namun, menurut para ahli, permasalahannya bukan di situ. Hal yang harus difokuskan, kata mereka, bukan soal meningkatnya populasi melainkan pada pola konsumsi berlebihan terhadap sumber daya yang terdapat planet ini, terutama oleh orang terkaya.
"Delapan miliar orang, ini adalah tonggak penting bagi kemanusiaan," kata Kepala Dana Kependudukan PBB Natalia Kanem, seperti dikutip AFP, Senin (7/11). Ia memuji meningkatnya harapan hidup dan semakin rendahnya tingkat kematian ibu dan anak.
"Namun, saya menyadari momen ini mungkin tidak dirayakan oleh semua orang. Beberapa menyatakan keprihatinan bahwa dunia kita kelebihan penduduk. Saya di sini untuk mengatakan dengan tegas bahwa banyaknya populasi manusia bukanlah alasan untuk takut," imbuh Kanem.
Joel Cohen, pakar demografi dari Laboratorium Populasi Universitas Rockefeller berpendapat sama. "Terlalu banyak untuk siapa, terlalu banyak untuk apa? Jika Anda bertanya kepada saya, apakah populasi saat ini terlalu banyak? Saya rasa tidak," katanya kepada AFP.
Namun, dia mengingatkan bahwa Bumi pun memiliki kemampuan terbatas, sedangkan umumnya sifat manusia adalah serakah.
Langkah yang kita pilih, kata dia, mengakibatkan manusia mengonsumsi jauh lebih banyak sumber daya hayati, seperti hutan dan tanah, daripada yang dapat diregenerasikan oleh planet ini setiap tahun. Konsumsi bahan bakar fosil yang berlebihan, misalnya, juga menyebabkan lebih banyak emisi karbon dioksida, yang bertanggung jawab atas pemanasan global.
Menurut Jaringan Jejak Global dan LSM WWF kita akan membutuhkan biokapasitas 1,75 Bumi untuk memenuhi kebutuhan populasi saat ini secara berkelanjutan. Untuk diketahui biokapasitas adalah kapasitas ekosistem untuk menghasilkan material-material biologi yang berguna dan kapasitas untuk menyerap material buangan (limbah) yang dihasilkan oleh kegiatan manusia dengan menggunakan cara pengelolaan dan teknologi yang dikuasai saat ini.
Laporan iklim terbaru PBB menyebut pertumbuhan penduduk sebagai salah satu pendorong utama peningkatan gas rumah kaca. Namun, peran faktor itu lebih kecil jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi. "Kita bodoh. Kita tidak memiliki pandangan jauh ke depan. Kita serakah. Kita tidak menggunakan informasi yang kita miliki. Di situlah pilihan dan letak masalahnya," kata Cohen.
"Dampak kita di planet ini jauh lebih didorong oleh perilaku daripada jumlah populasi kita," kata Jennifer Sciubba, seorang peneliti di lembaga think tank Wilson Center, menambahkan.
Ia menyoroti perilaku orang-orang di negara-negara kaya yang paling banyak mengonsumsi sebagai penyebab kesengsaraan yang terjadi di planet ini.
"Sungguh, ini tentang kita. Ini tentang aku dan kamu. AC yang aku nikmati, kolam renang yang kumiliki, dan daging yang aku makan di malam hari yang menyebabkan lebih banyak kerusakan di planet ini," ujarnya.
Hak perempuan
Salah satu pertanyaan tersulit yang muncul ketika membahas kependudukan adalah tentang pengendalian fertilitas atau tingkat kesuburan. Bahkan, mereka yang percaya bahwa kita perlu menurunkan populasi bumi bersikukuh untuk tetap melindungi hak-hak perempuan.
Robin Maynard, direktur eksekutif dari NGO Population Matters, mengatakan perlu ada penurunan populasi, tetapi hanya melalui cara yang positif, sukarela, serta menghormati hak individu dan bukan dengan pemaksaan.
"Populasi yang lebih kecil dengan tingkat konsumsi yang berkelanjutan akan mengurangi permintaan energi, transportasi, material, makanan, dan sistem alam."
Vanessa Perez dari World Resources Institute setuju bahwa setiap orang yang lahir di planet ini berkontribusi memberikan beban tambahan pada planet ini. "Ini adalah masalah yang sangat pelik," katanya.
Dia percaya debat yang paling menarik bukanlah tentang jumlah orang tetapi "distribusi dan pemerataan."
Cohen menunjukkan bahwa meskipun saat ini kita menghasilkan cukup makanan untuk 8 miliar orang, masih ada 800 juta orang yang kurang gizi secara kronis. (AFP/M-3)
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Studi terbaru mengungkap bagaimana pemanasan global di zaman Paleogen mengubah pola hujan menjadi tidak menentu. Apakah ini gambaran masa depan Bumi?
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Panas ekstrem juga bisa merusak sistem aliran air di dalam pohon. Udara dapat masuk ke saluran air tanaman, sehingga aliran air terhambat.
Riset terbaru mengungkap ekspansi titik panas laut dalam memicu munculnya badai monster di atas Kategori 5. Ilmuwan usulkan klasifikasi baru "Kategori 6".
Di tengah arus globalisasi dan penetrasi teknologi digital, muncul kekhawatiran baru, apakah anak-anak Indonesia masih tumbuh dengan akar budaya, alam, dan kearifan lokalnya sendiri?
Dalam kuliah umumnya Prof Connie Rahakundini Bakrie mengingatkan bahwa generasi muda sekarang adalah generasi yang hidup di masa penuh pilihan tapi juga penuh ujian.
Ia menilai sistem global saat ini dikuasai kepentingan negara-negara adidaya, sementara Indonesia kerap terjebak sebagai pasar, bukan subjek yang berdaulat.
Kebudayaan sesungguhnya bisa menjadi jawaban dalam menjawab berbagai tantangan mulai pudarnya ikatan kebangsaan yang kita miliki.
Pelajari faktor pendorong perdagangan internasional! Analisis ekonomi mendalam untuk bisnis global yang sukses dan berkelanjutan.
MENGHADAPI era digitalisasi global, Indonesia harus berbenah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved