Sabtu 10 September 2022, 21:15 WIB

Estetika Magis Ruwatan Sudamala

Fathurrozak | Weekend
Estetika Magis Ruwatan Sudamala

Dok. Titimangsa.
Adegan Pertunjukan Sudamala: dari Epilog Calonarang

 

Usai diguyur hujan sejak sore hingga malam di Jakarta Pusat, penonton bergegas mengisi kursi-kursi di area halaman belakang gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Alunan gamelan mengiringi terpenuhinya kursi-kursi di area panggung arena dengan wewangian dupa yang kembali dibakar.

Sekira pukul 21:00 WIB lewat, pertunjukan Jumat (9/9) malam itu dimulai. Dibuka dengan arak-arakan para pembawa payung, seserahan, pandita, serta barong. Semacam prosesi untuk memberikan selamat datang sebelum para pemain lakon Sudamala: dari Epilog Calonarang pentas dalam durasi dua jam ke depan.

Alur cerita dibuka dengan suasana tentram di Kerajaan Dirah, yang dipimpin oleh ratu Walu Nateng Dirah (Jro Mangku Serongga). Ia bukan lagi seorang Ratu yang murka dan gemar menebar teror. Suasana itu salah satunya karena kini akhirnya sang putri, Ratna Manggali (Ni K. Maskardenawangi), bakal dipersunting Mpu Bahula (I Kadek Budi Setiawan), putra Mpu Bharada (I Putu Wahendra), brahmana dari Pasraman Lemah Tulis.

Namun, seperti kebanyakan kisah-kisah dalam sastra klasik dan seni pertunjukan tradisi, pernikahan adalah salah satu jalan menuju penaklukan dan ada misi politis di baliknya. Mpu Bahula, diutus ayahnya untuk mencuri pusaka yang menjadi kesaktian sang ratu Ni Calonarang.

Ketentraman suasana hati Ni Calonarang hanya menetap sementara. Usai peristiwa pencurian itu, ia pun kembali murka dan menebar wabah dengan mengutus para sisya (murid), yang dipimpin Condong (Ni Made Astari). Para sisya menebar wabah mematikan ke warga, membuat banyak dari mereka tidak selamat dan meninggal. Mengingatkan pada pagebluk covid-19 yang menimpa dunia sejak dua tahun silam.

Pertempuran pun tak terhindarkan. Ni Calonarang tahu siasat Mpu Bharada. Keduanya pun lalu adu kesaktian hingga bertransformasi wujud. Ni Calonarang menjadi Rangda (sosok penjelmaan sifat angkara dari Durga) dan Mpu Bharada dalam wujud Barong (Banaspati Raja atau manifestasi Siwa).

Dari lakon yang berangkat dari sastra klasik dan salah satunya dipresentasikan lewat seni pertunjukan tradisi ini, pada bagian ini sebenarnya punya kedekatan dengan bentuk-bentuk yang dijumpai di karakter kultur pop seperti manga ciptaan Akira Toriyama Dragon Ball, saat para bangsa Saiyan bertransformasi mengubah kekuatan mereka, atau juga sosok Bijuu dalam manga Masashi Kishimoto, yang sebenarnya juga berakar dari dongeng legenda Jepang. Dalam tradisi Indonesia pun, termasuk Bali, bisa ditemukan hal serupa.

Pentas lakon Sudamala: dari Epilog Calonarang memberikan pengalaman yang lengkap. Memilih panggung arena, layaknya pada umumnya yang dilakukan pentas seni tradisi, juga hal yang sangat tepat untuk membangun nuansa dunia yang diceritakan di Sudamala. Barangkali, yang lebih spesialnya lagi karena dilakukan di Jakarta, yang secara gagasan tampaknya juga menjadi gugatan untuk bertanya: masihkah tersisa area luar ruang yang mampu mengakomodasi kerja budaya layaknya pentas seni tradisi? Di tengah pembangunan kota yang kerap kali menepikan kebutuhan ruang-ruang terbuka publik.

Pentas produksi Titimangsa dan www.indonesiakaya.com ini terasa paripurna karena mampu mengakomodasi semua pengalaman sensorik manusia. Mulai dari aksi panggung dan tata cahaya yang memberikan suguhan visual, alunan gamelan yang memberikan spektrum bunyi bagi telinga, suhu luar ruang setelah hujan yang memberikan kesejukan berbeda dibanding pendingin ruangan, hingga aroma yang menguar di area pertunjukan. Hal terakhir, boleh jadi suatu kelangkaan yang ada dalam suatu suguhan pertunjukan. Yang absen, mungkin adalah pengalaman mengecap.

Sekumpulan pengalaman sensorik tersebut membentuk persepsi dari dunia dan cerita yang dibangun di Sudamala. Peran tata cahaya sangat sentral di pentas ini, yang memberikan spektrum dimensi suasana serta latar tempat meski hanya mengandalkan artistik minim. Bangunan artistik lebih difungsikan sebagai latar panggung dan menjadi pintu keluar-masuk para pemeran.

Aksi panggung Jro Mangku Serongga, yang juga menjadi sutradara di pementasan ini, sangat memukau. Sebagai pemeran utama, Jro mampu mengartikulasikan karakterisasi Ni Calonarang lewat gerak dan olah tubuhnya yang bervariatif. Mulai bagaimana saat ia menunjukkan welas asihnya pada sang putri Ratna Manggali, hingga kemurkaannya terhadap ulah Mpu Bahula dan Mpu Bharada. Dari gerak-gerak kecil hingga aksi besar tubuhnya, dilakukan dengan intensitas tinggi.

Tiga Bahasa

Penerjemahan lakon Sudamala yang dimampatkan ke dalam durasi dua jam (dari yang biasanya berlangsung selama empat jam lebih), menjadi cara untuk mengakomodasi ke dalam bentuk lebih modern. Selain itu, di samping penggunaan Bahasa Kawi, Jawa kuno, dan Bali, pentas ini juga membubuhkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang bisa mengantar ke penonton yang asing dengan ketiga bahasa tersebut. Hal itu dilakukan dengan menghadirkan Bondres (I Ketut Suanda), yang bertindak sebagai narator cerita, Condong, dan dua pengawal Mpu Bahula, Penasar (I Wayan Sudiana) dan Wijil (I Wayan Ariwibawa).

Tata busana yang dirancang A.A. NGR Anom Mayun Konta Tenaya dan Retno Damayanti juga mampu mendukung keutuhan cerita dan dunia Sudamala. Bagaimana Ni Calonarang didandani dengan beberapa lapis kain dalam nuansa yang menyeramkan, serta kontrasnya dengan Mpu Bharada, sebagai brahmana yang berupaya menaklukan keburukan Ni Calonarang.

Mengutip akademisi seni Prof. I Wayan Rai S. Calonarang merupakan karya sastra dari Jawa Timur dan dibawa ke Bali setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Transformasi karya sastra ke dalam seni pertunjukan Bali, menghasilkan seni pertunjukan yang mengandung makna penyucian (ruwatan) baik dalam bhuwana alit (mikrokosmos) maupun bhuwana agung (makrokosmos).

Pertunjukan Sudamala yang juga akan dipentaskan 10-11 September di ANRI Jakarta, mampu menunjukkan dunia serta energi magis dari mikrokosmos dan makrokosmos tersebut dari semua yang terpresentasi di atas panggung.(M-4)

Baca Juga

Unsplash/ Victor Rutka

Berapa Batas Aman Mengonsumsi Gula dalam Sehari?

👤Nike Amelia Sari 🕔Senin 26 September 2022, 15:30 WIB
Pria sebaiknya mengonsumsi tidak lebih dari 9 sendok teh (36 gram atau 150 kalori) gula tambahan per hari, sementara perempuan maksimal 6...
Dok. M Dafa/SMA Muhammadiyah Gisting Tanggamus

Merengkuh Energi Masa Muda

👤Hanna Syafira - SMA Muhammadiyah Gisting Tanggamus 🕔Senin 26 September 2022, 14:54 WIB
Kita sebagai remaja harus membantu bersama-sama untuk Indonesia pulih dan bahu membahu bangkit untuk Indonesia. Karena, kalau bukan kita,...
MI/Fathurrozak

Kembalinya Rumah Pencinta Sinema Ibukota

👤Fathurrozak 🕔Senin 26 September 2022, 10:36 WIB
Kini, Kineforum menempati gedung Planetarium, di lantai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya