Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Lakon Sudamala: dari epilog Calonarang, menceritakan kisah Walu Nateng Dirah, perempuan yang memiliki kekuatan dan ilmu luar biasa besar serta ditakuti banyak orang. Termasuk membuat resah raja yang berkuasa saat itu, Airlangga.
Hal ini pula yang menyebabkan tidak banyak pemuda yang berani mendekati putri semata wayangnya, yang bernama Ratna Manggali. Walu Nateng Dirah sangat kecewa dan mengekspresikan kepedihannya dengan menebar berbagai wabah. Luka hatinya itu akhirnya sementara terobati, setelah Ratna Manggali menikah dengan Mpu Bahula.
Kehidupan pernikahan ini ternyata dicederai Mpu Bahula. Ia yang ternyata adalah utusan pendeta kepercayaan Raja Airlangga, mengambil pustaka sakti milik Walu Nateng Dirah yang akhirnya jatuh ke tangan Mpu Bharada. Walu Nateng Dirah kecewa dan murka, kemurkaannya lalu menimbulkan wabah yang menyengsarakan banyak orang. Setelah Mpu Bharada mengenali ilmu yang dimiliki Walu Nateng Dirah, ia lantas menantang Walu Nateng Dirah untuk beradu ilmu, agar dapat menuntaskan bencana dan wabah yang melanda.
Narasi di atas adalah sekilas sinopsis lakon Sudamala: dari Epilog Calonarang yang akan dipentaskan oleh kelompok seni Titimangsa Foundation pada 10-11 September di Gedung Arsip Nasional RI (ANRI), Jakarta. Pementasan ini memang terinspirasi dari tradisi Bali yang berakar pada karya sastra.
Kali ini, Happy Salma (Titimangsa Foundation) akan memproduseri pertunjukan bersama Nicholas Saputra. Dengan produser pendamping Cokorda Gde Bayu Putra. Sudamala akan disutradarai Jro Mangku Serongga (I Made Mertanadi), yang juga akan memerankan tokoh Walu Nateng Dirah. Dengan dramaturgi oleh Wawan Sofwan.
Pentas ini telah dipersiapkan sejak akhir tahun lalu. Pementasan ini juga melibatkan kolaborasi antara 80 orang seniman dan maestro Bali juga dari kota lainnya. Ini akan menjadi pentas seni tradisi pertama Titimangsa yang dipentaskan di area terbuka di tengah hiruk pikuk kota Jakarta. Pada 2021, Titimangsa menyelenggarakan pementasan Taksu Ubud di Bali.
“Apa yang akan ditampilkan di Jakarta akan sesuai dengan tradisi kuno yang sudah berlangsung ratusan tahun di Bali, namun dengan tampilan dan sentuhan teknologi modern serta tokoh Bondres yang akan menyampaikan kisah dalam bahasa Indonesia. Pementasan ini juga berkolaborasi dengan seniman-seniman seni pertunjukan luar Bali untuk memberikan perspektif dan cara pandang dari kacamata luar Bali,” kata sutradara Sudamala, I Made Mertanadi dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, Kamis, (25/8).
Ia melanjutkan, Sudamala berasal dari kata śuddha yang berarti bersih, suci, atau bebas dari sesuatu. Sementara mala bersinonim dengan cemar, kotor, atau tak-murni. Maka, Sudamala merupakan upaya untuk menghilangkan yang cemar dari subyek.
Ide pementasan Sudamala ini pun bermula seusai pentas Taksu Ubud, Cokorda Gde Bayu memperlihatkan katalog Exposition Coloniale Internationale Paris 1931. Pada perhelatan yang diselenggarakan kaum kolonial itu, Calonarang tampil di Paris selama enam bulan bersama Legong dan Janger. Hal tersebut semakin memantik keberanian Happy dan Nico untuk melangkah lebih jauh. Dengan bimbingan dari budayawan Tjokorda Raka Kerthyasa yang juga adalah ayah mertua Happy Salma, mereka pun diarahkan bertemu dengan beberapa maestro seni tradisi dan pertunjukan di Bali.
“Dilihat dari sisi tradisi maupun dari seni pertunjukan: dramaturgi, gerak penari, kostum dan topeng yang dikenakan, serta gamelan yang mengiringi, semua dikreasi dengan detail yang mengagumkan,” kata Nicholas Saputra, produser Sudamala: dari Epilog Calonarang.
Dalam pentas ini, Titimangsa pun akan menggubah durasi yang biasanya pentas seni tradisi berlangsung berjam-jam antara enam-delapan jam, menjadi lebih singkat.
“Untuk membawa seni tradisi keluar dari Bali, membagi pengalaman yang kami rasakan kepada penonton di Jakarta misalnya, bukan hal yang mudah. Kami ingin menghadirkan pentas seni tradisi namun dengan tampilan dan bahasa yang universal. Ini juga tantangan bagi kami untuk membuat formula baru dengan durasi yang jauh lebih pendek,” tambah produser Happy Salma.
Nama lain yang juga terlibat dalam produksi ini adalah Iskandar Loedin (pemimpin artistik), I Wayan Sudirana dan Gamelan Yuganada (musik), Anak Agung Ngurah Anom Mayun K. Tenaya, dan Retno Ratih Damayanti (penata kostum), dan Pradetya Novitri (pimpinan produksi).(M-4)
YOON Suk-hwa, tokoh besar dalam kancah teater modern Korea, meninggal dunia pada Selasa pagi di usia 69 tahun setelah berjuang melawan tumor otak. Ia mengembuskan napas terakhir di Seoul
Anak-anak itu tampil percaya diri, berani, dan menyebarkan semangat positif melalui penampilan mereka yang dihiasi senyuman di atas panggung Red Nose
Bagi Slank, pementasan ini bukan hanya bentuk refleksi, tetapi pengingat perjalanan panjang yang tidak mudah.
Festival Teater Indonesia (FTI) hadir sebagai titik pertemuan lintas kota serta ruang berekspresi bagi ekosistem teater tanah air.
Resital Kelas Akting Titimangsa 2025 menghadirkan empat pertunjukan yang semuanya bersifat absurd namun dengan ciri absurd yang berbeda.
Festival Teater Indonesia (FTI) digagas oleh founder Titimangsa Happy Salma dan Direktur Titimangsa Pradetya Novitri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved