Jumat 06 Mei 2022, 09:32 WIB

Mengenal Solar Impulse 2, Pesawat Ramah Lingkungan yang dapat Terbang Berbulan-bulan

Devi Harahap | Weekend
Mengenal Solar Impulse 2, Pesawat Ramah Lingkungan yang dapat Terbang Berbulan-bulan

AFP
Pesawat Solar Impulse 2 saat terbang di atas Bandara Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 2016

 

Pesawat terbang itu tampak aneh karena diselubungi oleh lebih dari 17 ribu panel surya. Pesawat yang memiliki lebar sayap seperti Boeing 747 dan berat hanya sebesar SUV tersebut, mengelilingi Bumi berbulan-bulan tanpa memerlukan bahan bakar. Hal ini sekilas menunjukkan kepada khalayak luas mengenai wajah baru dari dunia penerbangan.

Peswat bernama Solar Impulse 2 itu adalah gagasan dari penjelajah Swiss Bertrand Piccard dan insinyur Swiss Bertrand Borschberg. Tujuan mereka membuat pesawat ini adalah untuk menunjukkan potensi energi terbarukan. Setelah memecahkan rekor penerbangan, akhirnya ia mendapat kesempatan untuk menunjukkan karyanya pada 2016 lalu.

Pada 2019, pesawat itu dibeli oleh Skydweller Aero, sebuah perusahaan rintisan Amerika Serikat (AS) dan Spanyol, yang bertujuan untuk mengubah pesawat menjadi "satelit semu" komersil pertama yang layak, fleksibel, dan mampu mengorbit pada satelit namun memiliki  sedikit dampak negatif terhadap lingkungan.

“Satelit semu adalah pesawat yang bisa melakukan pekerjaan satelis pada umumnya, katakanlah, tanpa batas waktu,” kata CEO Skydweller, Robert Miller, seperti dilansir dari CNN pada Kamis (5/5).

“Itu berarti 30, 60, 90 hari, mungkin setahun. Dan dengan demikian, pada dasarnya ia dapat melakukan apa pun yang Anda bayangkan dapat dilakukan oleh satelit,” jelasnya.

Manfaat yang dihasilkan dari dungsi satelit semu ini yakni dapat menyediakan telekomunikasi dan pencitraan Bumi, serta tanggap bencana dan pemantauan sumber daya alam.


Murah dan Ramah Lingkungan

Setelah membeli Solar Impulse 2, Skydweller menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memodifikasi dan menerbangkannya lagi untuk pertama kalinya pada November 2020. Sejak itu, ia telah menyelesaikan 12 penerbangan uji coba dalam cuaca cerah di bagian tenggara Spanyol.

“Kami sedang dalam proses mengubahnya menjadi drone,” kata Miller.

“Pilot masih ada di sana untuk memastikan keselamatan, tetapi saat ini kami memiliki kemampuan untuk menerbangkan pesawat sepenuhnya secara mandiri,” lanjutnya.

Lepas landas dan pendaratan masih ditangani oleh pilot, tetapi Miller mengatakan langkah selanjutnya adalah menambahkan sistem yang akan membuatnya bergerak secara otomatis.

“Setelah itu, kami bisa mengeluarkan pilot dari pesawat. Kami sedang dalam proses memulai pembangunan pesawat kedua yang tidak memiliki kokpit sama sekali,” tambahnya.

Menghapus pilot dan kokpit memberi ruang untuk muatan yang lebih besar, dan merupakan langkah yang diperlukan untuk memungkinkan pesawat terbang selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan berada di luar angkasa. Seperti diketahui penerbangan terlama Solar Impulse 2 hanya di bawah lima hari.

Miller mengatakan bahwa pesawat itu dapat dirilis pada awal 2023, dan dia yakin ribuan armada ini akan laris di pasaran. Perusahaan seperti Facebook dan Google telah menguji 'satelit semu' ini namun tidak pernah mengembangkannya menjadi produk komersial.

“Pasti akan ada peningkatan permintaan untuk jenis layanan yang disediakan Skydweller,” kata Jeremiah Gertler, seorang analis penerbangan di perusahaan analisis pasar kedirgantaraan dan pertahanan Teal Group.

Industri Telekomunikasi diprediksi akan menjadi penggunaan utama untuk Skydweller karena mereka menggunakan pesawat untuk menyediakan akses internet atau seluler yang akan memperbaiki perekonomian.

Skydweller juga dapat menawarkan keunggulannya saat berada di udara selama beroperasi dalam kondisi yang tidak biasa, misalnya saat kebakaran hutan, pesawat tetap fleksibilitas untuk dapat lepas landas dari bandara. Pesawat ini juga mampu terbang di malam hari dengan daya baterai yang diisi sebelumnya.

Namun, ada tantangan yang akan dihadapi Skydweller, yakni pesawat yang beroperasi akan membutuhkan sinar matahari dimana akan membatasi penggunaannya pada garis lintang tertentu, hal ini juga berpengaruh pada peraturan tentang pesawat tak berawak.

“Pemerintah belum memikirkan tentang kendaraan tanpa awak. Mengurus kebijakan tentang penerbangan atau wilayah udara untuk misi ketahanan panjang akan menjadi tantangan baru,” kata analis penerbangan, Gertler. (M-4)

Baca Juga

Christophe Archambault/ AFP

Givenchy dan Disney Segera Rilis Koleksi Kolaborasi

👤Putri Rosmalia 🕔Selasa 17 Mei 2022, 15:20 WIB
Beberapa tokoh Disney yang kemungkinan akan ditampilkan pada koleksi kolabirasi ini  di antaranya adalah Putri Elsa, Olaf,...
dok: Pixar

Elemental jadi film ke-27 Pixar, Terinspirasi dari Keluarga Sutradara

👤Fathurrozak 🕔Selasa 17 Mei 2022, 13:40 WIB
Ide cerita film ini terinspirasi dari masa kecil Sohn di New...
123RF

Ini Lo Manfaat Bermain Gim Terhadap IQ

👤Nike Amelia Sari 🕔Senin 16 Mei 2022, 21:49 WIB
Penelitian terhadap ribuan anak di AS melihat korelasi antara durasi bermain gim dan tingkat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya