Sabtu 23 April 2022, 07:10 WIB

Melihat Perjalanan Twitter Incaran Elon Musk

Putri Rosmalia | Weekend
Melihat Perjalanan Twitter Incaran Elon Musk

AFP/OLIVIER DOULIERY
Layar ponsel menampilkan akun Twitter Elon Musk dengan foto dirinya ditampilkan di latar belakang.

 

DIDIRIKAN sejak 2006, Twitter memang selalu memiliki tempat tersendiri di hati pengguna media sosial global. Meski berbagai aplikasi media sosial lainnya terus bermunculan, Twitter dapat bertahan dan tetap memiliki pengguna setianya hingga saat ini.

Dilansir dari britanica.com, Kamis (21/4), ide membuat Twitter awalnya dicetuskan oleh pakar IT, Jack Dorsey. Kala itu Dorsey memiliki ide untuk membuat layanan pesan singkat yang dapat dikirim secara terbuka lewat sebuah aplikasi.

Ide itu disambut tiga pendiri perusahaan podcast, Odeo. Ketiganya ialah Evan Williams, Biz Stone, dan Noah Glass. Mereka kemudian membuat aplikasi Twitter pada 2006. Awalnya Twitter hanya digunakan secara internal oleh karyawan Odeo dengan nama Twttr. Melihat potensinya, mereka akhirnya meluncurkan Twitter secara resmi untuk publik pada 2007.

Sejak saat itu Twitter menjadi platform mikroblog pertama yang popularitasnya terus melejit. Dorsey menjadi CEO pertama Twitter yang bermarkas di California, AS, tersebut. Sejak saat itu kepemimpinan Twitter sempat beberapa kali berganti, hingga akhirnya Dorsey memutuskan keluar dari Twitter pada akhir 2021.

Pada awal diluncurkan, Twitter dihadirkan dengan membatasi jumlah karakter pada setiap unggahan atau cicitan sebanyak 140 karakter. Seiring berjalannya waktu, batas maksimal karakter dalam setiap cicitan bertambah jadi 280 pada 2018.

Perubahan itu diduga dilakukan karena Twitter terus mengalami penurunan popularitas sejak sekitar 2016. Saat itu nilai saham Twitter terus mengalami penurunan. Pergantian kepemimpinan yang sering dilakukan menjadi salah satu penyebab berkurangnya kepercayaan publik pada perusahaan tersebut.

Grafik jumlah cicitan di Twitter berdasarkan data dari internetlivestats.com, terus mengalami peningkatan sejak pertama berdiri hingga 2013. Dari awalnya hanya berjumlah sekitar 5.000 cicitan per hari, jumlahnya melesat jadi mencapai sekitar 500 juta cicitan per hari pada 2013.

Pada 2018, pihak Twitter menyebutkan rata-rata pengguna harian mereka ialah 126 juta per hari. Sejak saat itu, meski tetap mengalami peningkatan, grafik peningkatannya tak lagi secepat sebelum 2013. Dari pihak Twitter, mereka terbilang tak pernah merilis data pasti berapa jumlah pengguna Twitter dari tahun ke tahun.

Namun, pada Juli 2021 Twitter akhirnya secara resmi merilis angka pengguna Twitter secara global. Pada periode tersebut Twitter mencatat memiliki sebanyak sekitar 206 juta pengguna aktif harian.

Indonesia menjadi negara dengan jumlah pengguna Twitter terbanyak keenam di dunia. Sebanyak 15,7 juta akun Twitter yang aktif digunakan di Indonesia hingga pertengahan 2021.

Di atas Indonesia secara berurutan ada Amerika Serikat yang menempati pertama dengan jumlah akun aktif sebanyak 73 juta. Selanjutnya, di posisi kedua hingga kelima ada Jepang, India, Britania Raya, dan Brasil.

Untuk mempertahankan eksistensinya, Twitter terus melakukan berbagai pembaruan fitur dan layanan. Salah satunya dengan menghadirkan pilihan berlangganan bernama Twitter Blue. Twitter Blue diluncurkan sejak 2021. Pemilik akun harus membayar biaya sekitar Rp50 ribu setiap bulan untuk bisa mengakses fitur-fitur di Twitter Blue.

Beberapa fitur di Twitter Blue di antaranya kemampuan untuk meng-undo cicitan yang telanjur dibuat. Terdapat pula fitur bookmark untuk mengumpulkan cicitan favorit dan mengelompokkannya dalam folder. Pelanggan juga bisa mengubah tampilan Twitter di gawai sesuai keinginan dengan pilihan tema yang dihadirkan.

Fitur lain yang juga menjadi gebrakan di Twitter ialah Spaces. Spaces memungkinkan pengguna Twitter membuat sebuah ruangan untuk melakukan diskusi audio virtual. Sama halnya dengan layanan yang dihadirkan oleh aplikasi Clubhouse. Spaces cukup mendapat sambutan positif dari pengguna Twitter. Salah satunya karena pengguna dapat mengakses Spaces secara gratis.

Namun, beberapa kali Twitter juga mendapat kritikan dalam menghadirkan fitur barunya. Salah satunya fitur tampilan cicitan acak di halaman utama. Banyaknya protes membuat pihak Twitter mengembalikan tampilan utama dengan menggunakan kronologi waktu, bukan tampilan secara acak berdasarkan algoritma minat pemilik akun.

Meski mengalami pasang surut popularitas, Twitter masih menjadi media sosial yang diandalkan masyarakat untuk membagi dan mencari informasi. Sosok-sosok terkenal dan ternama dunia juga masih kerap menggunakan Twitter untuk membagikan pendapatnya.

Diincar Elon Musk

Salah satu figur terkenal yang sangat aktif di Twitter ialah Elon Musk. Seakan tak ada habisnya memancing perdebatan, kali ini Elon Musk berhasil menjadi perhatian karena niatnya untuk menguasai seluruh saham Twitter. Musk mengaku memiliki rancangan besar untuk melakukan berbagai perubahan mendasar pada media sosial berlambang burung biru tersebut.

Sebagai informasi, Musk telah membeli saham Twitter sebesar 9,1% pada awal bulan ini. Angka itu membuat Musk menjadi pemilik saham terbesar Twitter saat ini. Namun, seakan tak puas dengan kepemilikan sahamnya, Musk menawarkan diri untuk membeli seluruh saham Twitter.

Tak tanggung-tanggung, pendiri SpaceX itu menawarkan dana sebesar lebih dari Rp600 triliun untuk memborong seluruh saham Twitter. Ia terus-menerus menyampaikan keinginannya itu di berbagai kesempatan meski hingga saat ini belum ada jawaban persetujuan atas tawaran tersebut dari CEO atau pemegang saham Twitter lainnya.

Musk mengatakan keinginannya membeli seluruh saham Twitter bukan semata-mata demi mendapatkan keuntungan. Ia mengatakan keinginan itu muncul akibat keresahannya karena belum adanya platform publik yang bisa dijadikan sebagai jembatan aspirasi masyarakat global secara masif.

Pemilik Tesla itu mengatakan ketika nantinya bisa membeli Twitter sepenuhnya, ia ingin mengubah Twitter menjadi perusahaan tertutup alias sahamnya tak akan lagi melantai di bursa. Ia percaya itu ialah cara terbaik membuat Twitter menjadi platform yang independen.

“Saya berinvestasi di Twitter karena saya yakin akan potensinya sebagai platform yang bisa menaungi kebebasan berpendapat di tingkat global. Saya percaya kebebasan berpendapat itu ialah hal yang sangat fundamental untuk demokrasi,” ujar Musk.

Hingga saat ini Musk masih menunggu jawaban dari para pemegang saham Twitter atas tawarannya tersebut. Namun, ia mengatakan kalau penawarannya ditolak, ia akan mempertimbangkan ulang apakah akan mempertahankan kepemilikan sahamnya di Twitter sebesar 9,1% saat ini.

Sementara itu, setelah memiliki kuasa di Twitter, Musk sepertinya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan gebrakan dan pembaruan di Twitter. Meski belum mengumumkan secara resmi perubahan apa saja yang akan ia lakukan, Musk secara berkala mulai membocorkan rencana-rencananya lewat serangkaian unggahannya di Twitter.

Hal pertama yang dibahas Musk ialah soal fitur berlangganan di Twitter, Twitter Blue. Ia mengatakan harus ada peningkatan layanan terhadap fitur tersebut.

“Orang yang membayar US$3 per bulan untuk Twitter Blue setidaknya harus mendapat tanda otentifikasi,” ujar Musk, dalam akun @elonmusk, Minggu (10/4).

Ia juga mengatakan fitur yang ada di Twitter Blue seperti waktu penundaan unggahan selama 20 detik tidak terlalu berfungsi. Ia juga mengkritisi sistem pembayaran fitur berlangganan yang disediakan Twitter saat ini.

Ia mempertimbangkan untuk menyertakan pilihan mata uang kripto sebagai salah satu alat pembayaran fitur langganan Twitter. Dogecoin menjadi salah satu yang ia pertimbangkan untuk digunakan.

Ide unik lain yang juga dilontarkan Musk ialah rencananya mengubah kantor pusat Twitter di San Francisco, AS, sebagai tempat penampungan tunawisma. Rencana itu ia lontarkan dalam sebuah survei di Twitter. Hasilnya ia mendapat dukungan sebanyak lebih dari 90% pengguna Twitter untuk mewujudkan rencananya tersebut.

Musk juga berencana memberikan tanda pembeda antara akun seorang figur publik dengan akun resmi sebuah lembaga, pemerintahan, atau perusahaan. Selama ini semua akun terverifikasi hanya ditandai dengan lambang ceklis yang sama.

Sementara itu, berbagai pendapat dan pro-kontra atas keinginan Musk menguasai Twitter juga bermunculan dari para pemerhati internet dan media sosial. Salah satunya dari Profesor Kebijakan Publik, University of California at Berkeley, AS, Robert Reich.

Dilansir dari theguardian.com, Kamis (21/4), Reich meragukan tujuan Musk untuk menjadikan Twitter sebagai sarana kebebasan berpendapat akan terwujud sebagaimana mestinya jika ia nantinya jadi pemilik tunggal Twitter. Hal itu menjadi diragukan karena Musk akan menjadi penguasa penuh tanpa perlu mendengar masukan atau negosiasi tentang bagaimana Twitter akan berjalan.

“Saya rasa ini bukan tentang kebebasan berpendapat, melainkan kekuasaan. Sebagai salah satu orang terkaya di dunia, Musk tentu akan sangat diuntungkan jika dapat mengontrol salah satu platform penyampai informasi terbesar di dunia saat ini,” ujar Reich.

Reich juga mengatakan berbagai kebijakan dan penggunaan algoritma di akun sebesar Twitter tetap dibutuhkan dalam rangka menjaga keamanan dan kondusifnya keamanan global. Hal itu hanya dapat dilakukan jajaran direksi dan pemegang saham yang dapat saling bernegosiasi, bukan keputusan pribadi. (M-2)

 

 

Baca Juga

MI/adiyanto

FIB UI Gelar Seminar dan Pameran Foto Keberagaman dan Toleransi Masyarakat Singkawang

👤Adiyanto 🕔Rabu 25 Mei 2022, 20:31 WIB
Seminar ini kelanjutan penerbitan buku “Memoar Orang-Orang Singkawang” yang diterbitkan pada 15 Februari 2022 , bertepatan...
Dok. Instagram @javajazzfest

Ini Syarat Baru Nonton Java Jazz 2022

👤Fathurrozak 🕔Rabu 25 Mei 2022, 19:05 WIB
Java Jazz 2022 akan dihelat pada 27-29 Mei di JIExpo Kemayoran,...
Unsplash/ Myles Tan

Ini Pentingnya Bermain di Ruang Terbuka Bagi Anak

👤Devi Harahap 🕔Rabu 25 Mei 2022, 15:25 WIB
Bergembira di luar ruangan memberikan kontribusi positif bagi kesehatan mental dan kesejahteraan emosional...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya