Sabtu 24 Juli 2021, 07:09 WIB

Mengintip Arsitektur Budaya Peranakan Tionghoa di Desa Parakan, Temanggung

Lidya Tannia Bangguna | Weekend
Mengintip Arsitektur Budaya Peranakan Tionghoa di Desa Parakan, Temanggung

MI/Lidya Tannia Bangguna
Rumah peranakan. Kiri kondisi aslinya dan yang kanan yang telah direstorasi

BUDAYA peranakan Tionghoa di Indonesia adalah hasil dari proses yang terjadi selama ratusan tahun. Proses kebudayaan ini terbentuk akibat akulturasi dan asimilasi dari hasil kawin silang antara orang Tionghoa dengan pribumi yang dimulai sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, yang akhirnya menghasilkan perpaduan budaya Tionghoa, budaya Lokal, dan budaya Belanda.

Budaya peranakan tersebut telah memperkaya khasanah budaya Indonesia.

“Kebudayaan ini membentuk suatu budaya yang sangat unik. Buat saya justru sangat eksotis,” ujar Arsitek dan Kolektor Seni Chris Dharmawan dalam Obrolan Heritage “Parakan Living Heritage” yang diadakan Ikatan Arsitek Indonesia dan Universitas Trisakti, Jumat (23/7).

Baca juga: Pandemi Tidak Mematahkan Semangat Selina Mengajar Anak Kolong Jembatan

Dalam acara tersebut, ia juga menunjukkan beberapa barang, model rumah, dan arsitektur yang khas dengan budaya ini.

Kuda-kuda rumah dan motif rumah peranakan Tionghoa memiliki bentuk yang mirip dengan batik Pekalongan. Selain itu, terdapat unsur-unsur Eropa yang membuat budaya ini unik.

Namun sayang, budaya tersebut perlahan dimakan waktu. Seiring globalisasi, budaya tersebut sudah jarang sekali dipraktikkan lagi.

Menurut Dharmawan, banyak anak muda Tionghoa yang tidak lagi melestarikan budaya tersebut, bahkan mungkin tidak tahu.

“Budaya tionghoa seperti kehilangan identitas,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Dharmawan bersama Sutrisno Murtiyoso dan Lily Wibisono menyusun dan menulis buku yang berjudul “Parakan Living Heritage” yang menampilkan ekspresi budaya peranakan Tionghoa, beserta arsitektur dan pernak perniknya di Kota Parakan, Temanggung.

“Waktu saya ke Parakan, bangunan-bangunannya masih bagus, masyarakatnya ramah, tapi anak-anak mudanya tidak ada, pada kemana ya anak-anak mudanya?” ujar Feri Latief selaku moderator di acara tersebut sambil tertawa.

“Ternyata anak-anak mudanya semua pergi ke kota, jadi hanya tersisa orang-orang tua saja,” tambahnya.

Dharmawan dan rekannya berupaya terus melestarikan budaya peranakan Tionghoa, salah satunya dengan melakukan konservasi bangunan peninggalan orang Tionghoa.

“Konservasi bangunan adalah upaya pelestarian suatu bangunan. Caranya dengan mengganti barang-barang yang rusak dengan material-material asli saat bangunan itu dibangun,” jelas Dharmawan.

Ia berharap semakin banyak orang yang menyadari untuk terus melestarikan budaya Peranakan Tionghoa dan mengingat betapa beragamnya budaya di Indonesia, terutama anak-anak muda keturunan Tionghoa. (OL-1)

Baca Juga

MI/Furqon Ulya Himawan

Edukasi Gaya Hidup Sehat

👤MI 🕔Minggu 26 September 2021, 06:45 WIB
DENGAN keberhasilan angka penurunan kasus covid-19 di Tanah Air dan kondisi global, sejak awal...
MI/Furqon Ulya Himawan

Sebarkan Narasi yang Merekatkan Bangsa

👤Furqon Ulya Himawan 🕔Minggu 26 September 2021, 06:30 WIB
MINGGU lalu sebuah video yang menunjukkan sejumlah santri menutup kuping saat mendengar musik,...
MI

Sudoku edisi 26 September 2021

👤MI 🕔Minggu 26 September 2021, 06:20 WIB
SUDOKU atau di kenal juga dengan tebak angka (number...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Cegah Konflik di Myanmar semakin Memburuk

Bentrokan antara pasukan perlawanan bersenjata dan militer dalam beberapa hari terakhir telah mendorong gelombang evakuasi baru di wilayah barat laut

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya