Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
Bagi sebagian besar orang, musik telah menjadi bagian yang amat penting di setiap rutinitas, tak terkecuali ketika berolahraga. Barangkali itu pula yang selama ini menjadi alasan pelari, pendayung, atau binaragawan selalu mengenakan perangkat jemala atau telinga saat latihan.
Dengan mendengarkan musik, mereka biasanya akan merasa lebih semangat dan mendapatkan energi. Akan tetapi, pernahkan terpikir seperti apa persisnya manfaat yang mereka dapatkan ketika mendengarkan musik sambil berolahraga?
Pertanyaan demikian telah diurai Costas Karageorghis. Psikolog Olahraga dan Kesehatan, Brunel University London, Inggris itu sebelumnya selalu menitikberatkan amatan pada genre musik moderen seperti rock, dance, hip-hop, dan R&B. Akan tetapi baru-baru ini ia mencoba menelaah bagaimana manfaat yang didapat ketika mendengar musik klasik saat berolahraga.
Mendengarkan musik saat berolahraga, kata Karageorghis, umumnya akan memberikan 'efek disosiatif'. Artinya, musik dapat membantu mengalihkan pikiran dari gejala internal yang berhubungan dengan kelelahan. Meskipun musik tidak dapat mengurangi persepsi pengerahan tenaga pada intensitas kerja, akan tetapi ia dapat memengaruhi suatu area pada otak yang terkait dengan suasana hati.
"Jadi karya yang indah secara estetika seperti 'William Tell Overture: Final' tidak akan memengaruhi apa yang Anda rasakan saat paru-paru 'terbakar' di atas treadmill, tetapi mungkin akan memengaruhi perasaan Anda. Intinya, musik yang menyenangkan bisa mewarnai interpretasi seseorang tentang kelelahan dan meningkatkan pengalaman berolahraga," katanya, seperti dilansir dari Independent, Kamis, (18/2).
Namun, Karageorghis juga menjelaskan pengaruh musik tidak hanya berhenti pada perasaan dan persepsi saja. Musik dapat memberikan efek 'ergogenik' atau meningkatkan intensitas kerja.
Merujuk penelitian psikolog Maria Rendi, Karageorghis menjelaskan tempo lambat dan cepat dalam pemutaran 'Beethoven's Symphony No 7 in A mayor (op 92)' rupanya telah memengaruhi performa pelari cepat (sprint). Tempo cepat (144 bpm) menghasilkan peningkatan kinerja sebanyak 2%, sementara yang lambat (76 bpm) menghasilkan peningkatan sebanyak 0,6%.
"Beberapa anggota tim kami juga sering mendengarkan musik klasik dalam rutinitas berlari sehari-hari. Kami menemukan musik klasik rupanya telah menyalakan imajinasi dan umumnya menambah pengalaman berlari, terutama bila dinikmati bersama lanskap yang menginspirasi," imbuhnya.
Karageorghis menambahkan musik klasik barangkali akan memberikan efek yang lebih kuat jika didengarkan tepat sebelum atau setelah berolahraga. Sebelum olahraga ia berfungsi untuk membangun energi, membangkitkan citra positif, dan menginspirasi gerakan. Karya seperti 'Chariots of Fire' dari Vangelis, yang familiar dengan 'kejayaan' dapat memengaruhi intensitas kerja dengan sangat baik.
Untuk aplikasi pascaolahraga, musik klasik akan menjadi penenang dan merevitalisasi atau mempercepat proses kembalinya tubuh dalam keadaan istirahat. Pola dasar solo piano Erik Satie dalam 'Gymnopédie No 1' akan menjadi 'gelombang kejut (pijatan sonik)' untuk otot pendengar yang lelah.
Karageorghis juga punya rekomendasi daftar putar musik klasik yang dapat didengarkan saat olahraga. Berikut adalah daftar tersebut, yang ia susun bersama asisten penelitian, Luke Howard:
- 'Boléro' karya Maurice Ravel: Diputar dengan tempo rata-rata 70bpm, sangat bagus untuk persiapan mental sebelum berolahraga.
- 'Juba Dance - Symphony No 1 in E minor' karya Florence Price: Simfoni yang lembut dalam lagu ini akan meningkatkan detak jantung selama fase pemanasan.
- 'Part IV Finale Allegro Assai, Symphony No 40 in G minor' karya Wolfgang Amadeus Mozart: Musik yang meriah untuk segmen latihan dengan intensitas rendah hingga sedang.
- 'Prélude to Act 1 of Carmen' karya Georges Bizet: Temponya yang menderu-deru (128bpm) cocok menjadi teman latihan dengan intensitas tinggi. Fitur melodi dan harmoni yang indah dari karya ini dapat membantu pendengar melepaskan diri dari rasa sakit (lelah).
- 'Concerto No 1 in E Major, Op 8, La Primavera' karya Antonio Vivaldi: Sangat bagus untuk pemanasan dan menjaga langkah untuk kembali ke kondisi istirahat secara bertahap.
(TheIndependent/M-2)
Orang dewasa yang aktif antara pukul 07.00–08.00 pagi mencatatkan kemungkinan terendah terkena penyakit arteri koroner.
Peneliti Duke University mengungkap fakta mengejutkan, pembakaran kalori saat olahraga tidak otomatis menambah total pembakaran harian karena tubuh melakukan kompensasi.
Di dalam tubuh manusia, terdapat hormon tertentu yang bertugas mengatur nafsu makan, rasa kenyang, hingga rasa lapar.
Kurang berolahraga dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Aktivitas fisik penting untuk menjaga fungsi organ, kebugaran, dan keseimbangan metabolisme.
Pemenuhan gizi tidak bisa disamaratakan bagi setiap orang. Strategi nutrisi yang efektif harus menyesuaikan dengan profil fisik dan usia individu.
Berdasarkan laporan Strava Year in Sport Trend Report 2025, keterlibatan perempuan dalam olahraga angkat beban tercatat 21% lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Profesor dari Indiana University, Gabriel Filippelli, mengungkapkan bahwa terdapat bukti dengan menggunakan sepatu di dalam rumah dapat meningkatkan penyebaran kuman di rumah.
Pelayaran jarak jauh ini bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan ujian nyata bagi kesiapan teknis kapal KRI Canopus-936 dalam menghadapi berbagai kondisi laut internasional.
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup pelaksanaan penelitian bersama dalam bidang lingkungan hidup dan transisi energi serta program pemagangan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan ITY.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Para ilmuwan dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, berhasil mendemonstrasikan bahwa kera besar memiliki kapasitas kognitif untuk "bermain pura-pura" (play pretend).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved