Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
Anak-anak dikategorikan sebagai yang paling kuat menghadapi pandemi covid-19. Hampir di seluruh negara yang terserang pandemi, anak-anak di bawah 18 tahun menjadi kelompok yang paling minim terinfeksi.
Namun, di balik fakta menguntungkan tersebut, terdapat daftar panjang masalah pada kehidupan seorang anak karena pandemi. Dilansir dari bbc.com, Sabtu, (30/1), berikut beberapa masalah yang muncul pada anak-anak akibat pandemi covid-19.
1. Kehidupan Sosial Terganggu
Prof Russell Viner, Presiden Royal College of Paediatrics and Child Health, mengatakan bahwa kehidupan sosial anak secara otomatis terganggu akibat pandemi. Khususnya setelah sekolah-sekolah ditutup. Padahal, sosialisasi merupakan salah satu unsur pembentuk kepribadian dan kemampuan beradaptasi yang sangat penting pada anak.
2. Gangguan emosional
Survei dari The Mental Health of Children and Young People, di Inggris, menyatakan bahwa pada 2020 terdapat peningkatan signifikan jumlah anak berusia 5--16 tahun yang mengalami masalah mental. Mulai dari yang ringan hingga berat. Pandemi diduga menjadi pencetus utama peningkatan tersebut.
3. Keterlambatan perkembangan bayi
Alison Morton, Kepala Institute of Health Visiting, Inggris, mengatakan dua hingga tiga tahun pertama kehidupan manusia dinilai sebagai momen krusial. Harus selalu dilakukan pemantauan pada kondisi bayi agar dapat berkembang secara optimal.
Namun, pandemi membuat akses seorang bayi pada layanan kesehatan menjadi lebih sulit dan terbatas. Kekhawatiran juga membuat orang tua menunda mengecek kondisi bayi ketika merasa ada masalah. Akibatnya dikhawatirkan pada periode pandemi ini akan ada banyak bayi yang mengalami keterlambatan perkembangan dan masalah kesehatan tanpa tertangani dengan baik.
4. Anak disabilitas terabaikan
Dame Christine Lenehan, Direktur the Council for Disabled Children, Inggris, mengatakan bahwa pandemi membuat banyak anak berkebutuhan khusus terabaikan. Mereka terpaksa menunda melakukan terapi karena layanan yang dibatasi atau bahkan tutup. Mereka juga menjadi lebih sulit mendapat pendampingan dari tenaga kesehatan karena hampir semua tenaga kesehatan dan pusat kesehatan fokus pada penanganan pandemi.
5. Kekerasan tak terpantau
Anne Longfield, anggota Komisi Perlindungan Anak Inggris mengatakan isolasi dan karantina di rumah meningkatkan potensi kekerasan pada rumah tangga, termasuk pada anak. Aktivitas yang terbatas membuat banyak kasus kekerasan pada anak tidak terpantau dengan baik. (BBC/M-2)
Anak-anak harus dibekali dengan kemampuan untuk bersikap asertif. Hal ini bertujuan agar anak mampu menjaga batasan dirinya dalam relasi sosial.
Reaksi pertama orangtua saat mengetahui anak mereka dirundung akan sangat menentukan proses pemulihan mental sang anak.
Kesalahan nutrisi sering kali terjadi karena ketidaktahuan orangtua yang menganggap pola makan anak saat ini sebagai hal yang wajar.
Peristiwa tragis ini terjadi saat keduanya berada di dalam rumah ketika air sungai tiba-tiba meluap dan masuk ke pemukiman dengan cepat.
Obat pereda demam hanya diperlukan pada kondisi tertentu, terutama jika kondisi fisik anak mulai terganggu secara kenyamanan.
Durasi batuk merupakan indikator paling krusial dalam mendeteksi TB, terutama pada orang dewasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved