Rabu 27 Januari 2021, 20:54 WIB

Survei PBB: Dua Pertiga Dunia Menganggap Saat ini 'Darurat Iklim’

Adiyanto | Weekend
Survei PBB: Dua Pertiga Dunia Menganggap Saat ini

AFP
Grafik yang menunjukkan persentase orang dari negara tertentu yang menganggap perubahan iklim sebagai "darurat global"

HAMPIR dua pertiga dari 1,2 juta orang yang disurvei di seluruh dunia mengatakan, saat ini umat manusia menghadapi keadaan darurat iklim. Demikian menurut survei PBB belum lama ini. Para peneliti di Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Universitas Oxford melaporkan, dari semua responden di 50 negara yang menampung lebih dari setengah populasi global, tua dan muda, kaya maupun miskin, juga memilih dari sejumlah pilihan kebijakan dalam kuisioner yang mereka berikan, untuk mengatasi masalah ini (perubahan iklim).

Temuan itu menunjukkan bahwa gerakan iklim global di akar rumput yang menglobal pada 2019, sebagian dipelopori remaja berusia 16 tahun asal Swedia, Greta Thunberg, masih mendapatkan momentum.

"Kekhawatiran tentang keadaan darurat iklim jauh lebih luas daripada yang kita ketahui sebelumnya," kata Stephen Fisher, sosiolog di Oxford yang membantu merancang survei dan memproses data, kepada AFP dalam sebuah wawancara, Rabu (27/1)

"Dan sebagian besar dari mereka yang menyadari keadaan darurat iklim menginginkan tindakan yang segera dan komprehensif."

Survei singkat yang memanfaatkan inovasi teknologi ini muncul seperti iklan di aplikasi gim ponsel, sehingga memberi kesempatan peneliti terhadap akses ke demografi yang mungkin tidak menanggapi jajak pendapat publik yang umumnya dilakukan selama ini.

Kesenjangan gender  

Di tingkat nasional, sekitar 80% orang di Inggris, Italia, dan Jepang mengungkapkan kekhawatiran serius tentang dampak perubahan iklim, yang telah secara nyata meningkatkan intensitas gelombang panas, kekeringan dan curah hujan yang menyebabkan banjir, serta badai yang semakin merusak dengan naiknya permukaan air laut. (lihat grafik di atas)

Prancis, Jerman, Afrika Selatan dan Kanada berada di urutan berikutnya, dengan lebih dari tiga perempat dari mereka yang disurvei menggambarkan ancaman tersebut sebagai "darurat global".

Di belasan negara lainnya, termasuk Amerika Serikat, Rusia, Vietnam, dan Brasil,  dua pertiga responden memandang hal itu dengan cara yang sama.

Sementara itu, hampir 75% penduduk di negara-negara pulau kecil,  beberapa menghadapi kemungkinan kehilangan Tanah Air mereka karena naiknya air laut,  menganggap ancaman iklim sebagai keadaan darurat.

Disusul negara-negara berpenghasilan tinggi (72%), negara-negara berpenghasilan menengah (62%), dan negara-negara tertinggal (58%).

Distribusi di antara kelompok usia dari mereka yang merasa kondisi saat ini sebagai "darurat iklim" berkisar dari 69% di antara mereka yang di bawah 18 tahun, hingga 66% di kelompok usia 36-59 tahun. Hanya untuk orang berusia 60 tahun ke atas, angka tersebut turun sedikit di bawah 60%.

Anehnya, 11% dan 12% lebih banyak wanita daripada pria menyatakan kekhawatiran tinggi tentang pemanasan global di Amerika Serikat dan Kanada. Sedangkan secara global, disparitas itu menyusut rata-rata menjadi 4% di antara 50 negara yang disurvei.

"Tindakan iklim yang mendesak mendapat dukungan luas di antara orang-orang di seluruh dunia, lintas kebangsaan, usia, jenis kelamin dan pendidikan," kata ketua UNDP Achim Steiner.

"Tapi lebih dari itu, jajak pendapat ini mengungkapkan bagaimana orang ingin pembuat kebijakan mereka mengatasi krisis ini."

Solusi paling populer di antara yang ditawarkan adalah melindungi hutan dan habitat alam, yang dipilih oleh 54% responden.

Solusi lainnya yang dipilih antara lain,  pengembangan tenaga surya, angin, dan bentuk lain dari tenaga terbarukan, penggunaan teknik pertanian yang ramah iklim, dan berinvestasi lebih banyak dalam bisnis dan pekerjaan ramah lingkungan.

Di daftar terbawah, yang mendapatkan dukungan hanya dari 30%, adalah promosi pola makan tanpa daging, dan penyediaan asuransi yang terjangkau.

Hasil survei ini memperkuat studi terbaru yang menunjukkan bahwa beberapa negara, dan mungkin masyarakat global, bisa menggaungkan opini publik yang akan mendorong percepatan transisi ke dunia yang bebas  karbon.

"Mencapai dekarbonisasi global yang cepat untuk menstabilkan iklim sangat bergantung pada mengaktifkan proses perubahan sosial dan teknologi yang menular dan cepat menyebar," kata para peneliti dari Institut Potsdam yang dipimpin oleh lona Otto dan Hans Joachim Schellnhuber, dalam jurnal ilmiah PNA,  tahun lalu.

“Sama seperti penyebaran penyakit menular, gerakan sosial yang positif, apakah melarang perbudakan, atau menerapkan demokrasi,  kemungkinan tidak dapat dicegah dan sulit dihentikan begitu mereka melewati ambang tertentu,” catat mereka.

"Ada bukti anekdot baru-baru ini bahwa protes,  seperti pemogokan iklim #FridaysForFuture, protes Extinction Rebellion, dan inisiatif seperti Green New Deal di AS, mungkin menjadi indikator perubahan norma dan nilai yang terjadi saat ini. " (AFP/M-4)

Baca Juga

Emmanuel DUNAND / AFP

Baterai ini cuma Butuh 5 Menit untuk Mengisi Daya Mobil Listrik

👤adiyanto 🕔Minggu 07 Maret 2021, 13:16 WIB
Inovasi tersebut bisa memangkas waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ulang mobil...
Roman Stetsyk/123RF

Banyak Manfaat, Yuk Kenalkan Anak dengan Puisi

👤Putri Rosmalia 🕔Minggu 07 Maret 2021, 12:15 WIB
Puisi dapat dikenalkan sedari anak usia nol sampai lima...
Dok. Afina Mahardhikaning Emas dan Faris Alaudin

Menyintaskan Nini Thowong

👤Afina Mahardhikaning Emas dan Faris Alaudin 🕔Minggu 07 Maret 2021, 09:20 WIB
Boneka bambu yang ujungnya diberi batok kelapa dan batangnya di lilit jerami ini disebut Nini...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya