Selasa 26 Januari 2021, 10:05 WIB

Konten Digital Berbayar, Pertaruhan bagi Media di Amerika Latin

Adiyanto | Weekend
Konten Digital Berbayar, Pertaruhan bagi Media di Amerika Latin

CLAUDIO CRUZ / AFP
Penjual koran di Meksiko. Merosotnya oplah dan iklan membuat sejumlah media cetak di Amerika Latin terancam bangkrut

SEPERTI di belahan dunia lainnya, perusahaan pers di Amerika Latin, khususnya media cetak terpukul dengan merosotnya penjualan maupun pendapatan iklan. Menghadapi hal ini, mereka mengoptimalkan layanan digital berlangganan. Namun, upaya ini pun semacam gambling (perjudian) yang belum tentu berhasil.

Selain menyebabkan merosotnya iklan, krisis ekonomi yang disebabkan pandemi virus korona juga turut memangkas pendapatan/gaji calon pembaca sehingga kemampuan mereka untuk membayar konten pun, berkurang.

Ini adalah dilema yang dihadapi media di seluruh dunia karena model iklan cetak yang sudah berusia puluhan tahun, merupakan sumber utama pendapatan surat kabar untuk menggaji karyawan. Selain itu mereka pun mesti bertarung dengan media online.

"Media tradisional besar memiliki struktur yang seringkali tidak efisien, ditopang oleh bisnis yang sangat sukses dan menguntungkan yang sekarang sudah selesai," kata Diego Salazar, jurnalis asal Peru dan penulis buku tentang kemerosotan bisnis jurnalisme, seperti dikutip AFP, Selasa (26/1).

Tahun lalu, menurunnya jumlah pembaca memaksa harian Diario Colatino di El Salvador pindah ke format digital dan menutup versi cetaknya. Gaji sepertiga dari karyawan mereka juga dipotong  setengahnya. "Ini krisis terburuk dalam 130 tahun," kata manajer surat kabar itu, Francisco Valencia.

Dengan menyusutnya ruang redaksi karena pemotongan biaya besar-besaran, PHK pun tak terhindarkan. Para pengelola surat kabar kini berupaya meyakinkan pembaca mereka bahwa jurnalisme berkualitas layak dibayar, bahkan secara online.

"Di Amerika Latin, ada orang yang menginginkan dan membutuhkan informasi yang berkualitas dan dapat membayarnya. Saya optimis," kata Jan Martinez Ahrens, direktur untuk wilayah Amerika yang bekerja di harian Spanyol, El Pais.

Tetapi Diego Morales, seorang ilmuwan komputer Meksiko berusia 49 tahun, termasuk di antara mereka yang melihat hambatan pembayaran sebagai berita buruk. "Dengan menagih kami, mereka membatasi akses ke informasi," kata Morales, yang secara teratur membaca berita tetapi tidak berencana untuk berlangganan edisi digital.

Eduardo Garces, manajer umum El Espectador di Kolombia, yang meluncurkan model langganannya pada 2018, yakin bahwa pembaca secara bertahap akan terbiasa membayar berita berkualitas, seperti yang telah mereka lakukan untuk menonton musik dan hiburan.

Sebuah survei oleh organisasi swasta Luminate yang dilakukan pada pertengahan 2020 di Argentina, Brasil, Kolombia, dan Meksiko  menemukan, bahwa 13% pembaca berita digital yang disurvei sudah membayar untuk berlangganan.

Menurunnya kepercayaan

Meski rendah, angka ini menunjukkan kesediaan yang lebih besar untuk membayar daripada di beberapa negara Eropa.  Menurut penelitian, di benua biru itu, sembilan dari 10 pembaca ogah untuk membayar biaya  berlangganan.

“Tantangannya adalah untuk meyakinkan pembaca bahwa informasi yang dikumpulkan dengan hati-hati, jujur, terverifikasi, dan disajikan dengan baik, sangatlah berharga," kata Mario Dorantes, wakil direktur konten pemberitaan surat kabar Meksiko El Universal.

Ironisnya, alih-alih memperbaiki mutu, sejumlah surat kabar justru beralih menyajikan berita seputar seks, sensasi, dan daur ulang video viral dari jejaring sosial untuk memikat pembaca. "Demi rebutan klik, banyak prestise media menurun."

Selain krisis seputar model bisnis, tantangan lainnya adalah adanya ketidakpercayaan yang meningkat terhadap pers.

Menurut laporan global tahun lalu dari Reuters Institute, yang meneliti di 40 negara termasuk Cile, Argentina, Brasil, dan Meksiko, rata-rata hanya 38% responden yang biasanya mempercayai berita dari media konvensional. Angka ini turun dari 42% pada 2019.

Di Argentina dan Cile, kepercayaan terhadap media hanya sekitar 30-33%, dibandingkan dengan 51% di Brasil.

Meskipun langganan digital telah berkembang secara global, kebanyakan orang tetap puas dengan berita gratis. Martinez Ahrens yakin jawabannya adalah fokus pada pembaca, bukan algoritme yang mendorong pencarian internet. Artinya, berita yang disajikan mesti bermutu tidak sekadar mencari click bait.

"Saya lebih suka menanggapi pembaca yang marah karena kualitas artikel yang buruk, atau yang percaya bahwa kami telah menyimpang dari tujuan kami, daripada bergantung pada Google dan algoritmanya," katanya. (AFP/M-4)

.

Baca Juga

Dok. Instagram @rinasonline

Brit Awards Ubah Aturan Berkat Musisi Ini

👤Fathurrozak 🕔Sabtu 27 Februari 2021, 16:10 WIB
Musisi Jepang yang telah tinggal 26 tahun di Inggris, Rina Sawayama, berhasil mengubah aturan Brit...
Rudall30/123RF

Hoaks Vampir dan Ikan Lele di Masa Pandemi

👤Galih Agus Saputra 🕔Sabtu 27 Februari 2021, 15:05 WIB
Minimnya pengetahuan akan informasi yang valid dapat memperburuk kondisi...
Jim Watson/AFP

Akibat Rasisme, Stevie Wonder Pindah ke Ghana

👤Fathurrozak 🕔Sabtu 27 Februari 2021, 14:05 WIB
Stevie Wonder menyatakan akan menetap secara permanen di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya