Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SEPERTI di belahan dunia lainnya, perusahaan pers di Amerika Latin, khususnya media cetak terpukul dengan merosotnya penjualan maupun pendapatan iklan. Menghadapi hal ini, mereka mengoptimalkan layanan digital berlangganan. Namun, upaya ini pun semacam gambling (perjudian) yang belum tentu berhasil.
Selain menyebabkan merosotnya iklan, krisis ekonomi yang disebabkan pandemi virus korona juga turut memangkas pendapatan/gaji calon pembaca sehingga kemampuan mereka untuk membayar konten pun, berkurang.
Ini adalah dilema yang dihadapi media di seluruh dunia karena model iklan cetak yang sudah berusia puluhan tahun, merupakan sumber utama pendapatan surat kabar untuk menggaji karyawan. Selain itu mereka pun mesti bertarung dengan media online.
"Media tradisional besar memiliki struktur yang seringkali tidak efisien, ditopang oleh bisnis yang sangat sukses dan menguntungkan yang sekarang sudah selesai," kata Diego Salazar, jurnalis asal Peru dan penulis buku tentang kemerosotan bisnis jurnalisme, seperti dikutip AFP, Selasa (26/1).
Tahun lalu, menurunnya jumlah pembaca memaksa harian Diario Colatino di El Salvador pindah ke format digital dan menutup versi cetaknya. Gaji sepertiga dari karyawan mereka juga dipotong setengahnya. "Ini krisis terburuk dalam 130 tahun," kata manajer surat kabar itu, Francisco Valencia.
Dengan menyusutnya ruang redaksi karena pemotongan biaya besar-besaran, PHK pun tak terhindarkan. Para pengelola surat kabar kini berupaya meyakinkan pembaca mereka bahwa jurnalisme berkualitas layak dibayar, bahkan secara online.
"Di Amerika Latin, ada orang yang menginginkan dan membutuhkan informasi yang berkualitas dan dapat membayarnya. Saya optimis," kata Jan Martinez Ahrens, direktur untuk wilayah Amerika yang bekerja di harian Spanyol, El Pais.
Tetapi Diego Morales, seorang ilmuwan komputer Meksiko berusia 49 tahun, termasuk di antara mereka yang melihat hambatan pembayaran sebagai berita buruk. "Dengan menagih kami, mereka membatasi akses ke informasi," kata Morales, yang secara teratur membaca berita tetapi tidak berencana untuk berlangganan edisi digital.
Eduardo Garces, manajer umum El Espectador di Kolombia, yang meluncurkan model langganannya pada 2018, yakin bahwa pembaca secara bertahap akan terbiasa membayar berita berkualitas, seperti yang telah mereka lakukan untuk menonton musik dan hiburan.
Sebuah survei oleh organisasi swasta Luminate yang dilakukan pada pertengahan 2020 di Argentina, Brasil, Kolombia, dan Meksiko menemukan, bahwa 13% pembaca berita digital yang disurvei sudah membayar untuk berlangganan.
Menurunnya kepercayaan
Meski rendah, angka ini menunjukkan kesediaan yang lebih besar untuk membayar daripada di beberapa negara Eropa. Menurut penelitian, di benua biru itu, sembilan dari 10 pembaca ogah untuk membayar biaya berlangganan.
“Tantangannya adalah untuk meyakinkan pembaca bahwa informasi yang dikumpulkan dengan hati-hati, jujur, terverifikasi, dan disajikan dengan baik, sangatlah berharga," kata Mario Dorantes, wakil direktur konten pemberitaan surat kabar Meksiko El Universal.
Ironisnya, alih-alih memperbaiki mutu, sejumlah surat kabar justru beralih menyajikan berita seputar seks, sensasi, dan daur ulang video viral dari jejaring sosial untuk memikat pembaca. "Demi rebutan klik, banyak prestise media menurun."
Selain krisis seputar model bisnis, tantangan lainnya adalah adanya ketidakpercayaan yang meningkat terhadap pers.
Menurut laporan global tahun lalu dari Reuters Institute, yang meneliti di 40 negara termasuk Cile, Argentina, Brasil, dan Meksiko, rata-rata hanya 38% responden yang biasanya mempercayai berita dari media konvensional. Angka ini turun dari 42% pada 2019.
Di Argentina dan Cile, kepercayaan terhadap media hanya sekitar 30-33%, dibandingkan dengan 51% di Brasil.
Meskipun langganan digital telah berkembang secara global, kebanyakan orang tetap puas dengan berita gratis. Martinez Ahrens yakin jawabannya adalah fokus pada pembaca, bukan algoritme yang mendorong pencarian internet. Artinya, berita yang disajikan mesti bermutu tidak sekadar mencari click bait.
"Saya lebih suka menanggapi pembaca yang marah karena kualitas artikel yang buruk, atau yang percaya bahwa kami telah menyimpang dari tujuan kami, daripada bergantung pada Google dan algoritmanya," katanya. (AFP/M-4)
.
ISRA Mikraj merupakan salah satu momentum paling penting dalam sejarah Islam.
Konten di media sosial bisa berupa teks, foto, video, suara, atau siaran langsung, dan interaksi dilakukan melalui like, komentar, share, atau pesan.
Pemahaman terhadap regulasi media sosial di Arab Saudi menjadi hal penting yang wajib ketuhui, baik oleh petugas maupun jemaah haji.
Kemkomdigi bergerak cepat merespons keresahan publik terkait isu dugaan kebocoran data pengguna Instagram dan keamanan fitur reset kata sandi.
Sedang mencari kata kata gamon yang mewakili perasaanmu? Temukan kumpulan caption gagal move on paling menyentuh dan aesthetic untuk media sosial di sini.
DENSUS 88 Antiteror mengidentifikasi sekitar 70 anak di Indonesia terpapar ideologi kekerasan ekstrem.
Dengan pulihnya akses komunikasi, diharapkan koordinasi distribusi bantuan, pendataan korban, dan pelayanan dapur umum dapat berjalan lebih efektif.
Studi terbaru menemukan pola bunyi mirip vokal dalam klik komunikasi paus sperma di Dominika.
KOMUNIKASI publik pemerintah kini memegang peran sangat vital dalam menjaga legitimasi dan kepercayaan masyarakat di tengah derasnya arus informasi dan disinformasi.
Hasan yang kini merupaka Komisaris PT Pertamina itu memeprtanyakan arah dan tujuan dari gaya komunikasi Purbaya.
Musik, film, dan konten digital kini tidak hanya menjadi ruang ekspresi juga berperan sebagai medium advokasi sosial.
Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, strategi komunikasi tidak lagi bisa dilakukan secara asal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved