Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
Di Penghujung Januari 1969, The Beatles menggelar konser di atap Gedung Apple Corp di London. Acara yang menghebohkan dan membuat macet jalan itu, ternyata menjadi penampilan terakhir John Lennon dkk di muka publik. Pada April 1970, band legendaris Inggris itu resmi bubar.
Periode itu merupakan masa-masa kelam The Beatles. Konflik hubungan antarpersonel band tersebut kian panas, terutama friksi antara John Lennon dan George Harrison kontra Paul McCartney. Sementara posisi Ringo Starr, sang drummer, cenderung netral. Pangkal masalahnya pada ego mereka. Sepeninggal Brian Eipstein, sang manajer, The Beatles ibarat ayam kehilangan induk.
Uniknya, di periode kritis itu, mereka masih sempat melahirkan satu album penutup yang cukup brilian, Let it Be. Kendati dalam proses rekaman George sempat pergi meninggalkan studio, album tersebut akhirnya rampung. Lennon menyebut hubungan mereka saat itu seperti neraka.
Semua kisah ini, terangkum dalam buku terbaru yang akan diluncurkan Agustus tahun depan. Buku berjudul Get Back (diambil dari salah satu lagu di album Let it Be) ini, merupakan buku pertama yang resmi diterbitkan band ini, setelah mereka terakhir kali merilis buku Anthology pada 2000 atau 20 tahun silam.
Buku ini menceritakan kisah seputar proses pembuatan album Let It Be. Materinya dicomot dari percakapan selama 120 menit yang ditranskrip dari sesi studio. Sebuah film dokumenter karya Peter Jackson dengan judul yang sama, juga akan dirilis bersamaan dengan buku itu.
Semula Get Back hendak dijadikan judul album tersebut. Tapi, entah mengapa akhirnya diubah menjadi Let It Be. Album yang dirilis pada Mei 1970 itu merupakan lanjutan album Abbey Road yang dilepas ke pasaran pada September 1969. Let it be dirilis sebulan setelah kepergian McCartney yang memicu perpecahan band tersebut.
Dalam kata pengantarnya di buku ini, Hanif Kureishi mendeskripsikan periode tersebut sebagai momen produktif The Beatles, saat mereka menciptakan beberapa karya terbaiknya. “Dan di sinilah kami medapat hak istimewa untuk menyaksikan draf awal mereka, kesalahan, penyimpangan, kebosanan, jamming yang menggembirakan, dan inovasi yang mengarah pada karya yang sekarang kami kenal dan kagumi, ” ujarnya seperti dilansir The Guardian, Rabu (17/9).
Buku itu juga akan menampilkan ratusan foto karya Ethan Russell dan mendiang istri Paul, Linda McCartney, yang tidak pernah dipublikasikan. Sedangkan editor The Guardian, John Harris mengedit transkrip percakapan tersebut.
Buku Get Back diterbitkan oleh perusahaan milik The Beatles, Apple Corps, bekerja sama dengan Callaway Arts and Entertainment. Pendiri Callaway, Nicholas Callaway mengatakan “Kreativitas dan inspirasi yang diekspresikan dalam buku dan dalam film Peter Jackson ini sama pentingnya dan relevan untuk saat ini."
The Beatles memang telah purna. Anggota band ini tinggal menyisakan McCartney dan Ringo Starr. Lennon dan Harrison telah lebih dulu mangkat. Lennon tewas ditembak penggemarnya pada Desember 1980. Sementara kanker paru merenggut nyawa Harrison pada November 2001. Kendati demikian, karya-karya mereka tak pernah mati dan diterus dikenang orang. Entah sampai kapan. (M-4)
Lewat buku Swipe Therapy, Mira merangkum fase paling rapuh dalam hidupnya, mulai dari rencana pernikahan yang batal hingga kembali menavigasi labirin dunia dating apps.
Total nilai dari ketiga jam tangan yang biasa dikenakan Bill Gates sehari-hari hanya mencapai US$124 atau sekitar Rp2,1 juta saja.
BBW Surabaya 2026 akan diselenggarakan di Convention Hall, Tunjungan Plaza 3, Lantai 6, mulai dari 29 Januari hingga 8 Februari 2026.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Buku Tumpeng Indonesia: Dari Dapur Tradisional Menuju Meja Bangsa disusun untuk memberikan perspektif luas mengenai tumpeng sebagai bagian dari kebudayaan.
Dalam memoarnya, Aurelie Maoeremans menceritakan bahwa pertemuannya dengan sosok "Bobby" terjadi saat ia masih berusia 15 tahun di sebuah lokasi syuting iklan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved