Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
BEBERAPA perusahaan menangguhkan iklan pada platform media sosial Facebook lantaran konten kebencian. Perusahaan-perusahaan itu pun turut dalam kampanye ‘Stop Hate for Profit’. Kini, Facebook menghadapi penjedaan iklan dari merek besar seperti The North Face, REI, dan Patagonia. Mereka bahkan berikrar untuk tidak membayar iklan di Facebook. Selain itu, masih ada beberapa perusahaan besar seperti Upwork dan Mozilla juga bergabung dalam gerakan tersebut.
Kampanye ‘Stop Hate for Profit’ diprakarsai oleh beberapa kelompok advokasi, di antaranya Anti-Defamation League (ADL), the NAACP , dan the Color Of Change. Gerakan itu meminta pengiklan menekan raksasa teknologi itu untuk mengadopsi kebijakan yang lebih ketat terhadap konten rasis dan kebencian. Para pengiklan juga diminta untuk menghentikan semua belanja iklan mereka di Facebook untuk bulan Juli.
Kampanye itu mengungkapkan Facebook menghasilkan US$70 miliar atau sekitar Rp 99triliun dari iklan dalam setahun. Bersamaan dengan pendapatan iklan, Facebook malah memperkuat pesan supremasi kulit putih dan mengizinkan hasutan untuk melakukan kekerasan.
"Kami telah lama melihat bagaimana Facebook mengijinkan beberapa elemen terburuk masyarakat ke dalam rumah dan kehidupan kita," kata chief executive officer Anti-Defamation League, Jonathan Greenblatt, seperti dilansir The Guardian.
“Organisasi kami mencoba secara individu maupun kolektif untuk mendorong Facebook agar platform mereka lebih aman, tetapi mereka telah berulang kali gagal mengambil tindakan berarti. Kami berharap kampanye ini akhirnya menunjukkan kepada Facebook seberapa banyak pengguna dan pengiklan mereka ingin mereka membuat perubahan serius menjadi lebih baik," tambah Jonathan
Facebook juga merupakan platform media sosial tempat sebagian besar warga Amerika ( 55% ) dilaporkan mengalami pelecehan dan sasaran kebencian, menurut survei ADL pada 2019.
Sebelumnya, Facebook diminta untuk mengatasi konten kebencian dan informasi yang tidak benar dalam beberapa bulan terakhir. Facebook diharapkan mengikuti langkah Twitter yang bersikap terhadap konten kebencian Donald Trump. Sayangnya, CEO Facebook, Mark Zuckerberg, menolak permintaan tersebut. (M-4)
Sinopsis film A Time to Kill (1996), drama hukum tentang rasisme, keadilan, dan perjuangan seorang ayah. Ulasan singkat & fakta menarik.
Buntut kasus rasisme Prestianni-Vinicius, Presiden FIFA Gianni Infantino usulkan aturan tegas. Pemain yang menutup mulut saat konfrontasi harus diusir keluar lapangan.
Gianluca Prestianni dilarang bertanding oleh UEFA selama proses penyelidikan terkait dugaan aksi rasismenya terhadap penyerang Real Madrid Vinicius Junior berlangsung.
Arne Slot menekankan bahwa tanggung jawab insan sepak bola jauh lebih besar dibanding masyarakat awam dalam menangani isu diskriminasi.
SUDAH sejak 1993 kampanye antirasisme di sepak bola digaungkan.
Benfica membela pemain mereka Gianluca Prestianni, yang kini berada di bawah penyelidikan UEFA atas dugaan pelecehan rasisme terhadap bintang Real Madrid, Vinicius Junior.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved