Senin 09 Desember 2019, 16:40 WIB

Disrupsi, Merekam Masyarakat Adat Mentawai Hari Ini

Irana Shalindra | Weekend
Disrupsi, Merekam Masyarakat Adat Mentawai Hari Ini

Dok. Rengga Saputra
Pameran Disrupsi akan berlangsung di M Bloc Space dari 8 sampai 15 Desember 2019.

Dunia mengenal masyarakat adat Mentawai sebagai produsen seni tato tertua di jagad raya, lebih tua 200 tahun dari tato mesir yang muncul pada 1300 SM. Masyarakat adat Mentawai juga dikenal sebagai satu dari sedikit masyarakat pemburu, peramu dan pengumpul tertua di dunia yang masih eksis hingga kini.

Namun kini, eksistensi itu kian terkikis. Modernisasi dan pembangunan yang digencarkan pemerintah memojokkan adat dan budaya Mentawai.

Hal tersebutlah yang kemudian hendak disampaikan oleh Rengga Satria dalam pameran fotonya yang bertajuk "Disrupsi". Pameran yang berlangsung di Matalokal art space, M Bloc Space Jakarta 8 Desember 2019 mendatang ini akan menampilkan 20 karya foto yang merepresentasikan kondisi masyarakat Mentawai hari ini.

"Di satu sisi kita gencar mempromosikan budaya sebagai jualan untuk mendatangkan devisa, namun di sisi lain pembangunan infrastruktur juga secara tidak langsung mengikis eksistensi budaya itu sendiri," ujar Rengga seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Media Indonesia.

Dalam pameran ini, Rengga juga menyoroti upaya pemerintah untuk memberangus kepercayaan masyarakat Adat Mentawai, Arat Sabulungan. Sejak Orde Lama, pemerintah telah melarang kepercayaan yang disebut sebagai “agama daun” ini lewat SK No.167/PROMOSI/1954.

“Arat Sabulungan adalah inti yang menjadi poros dari keluhuran budaya Mentawai. Tanpa kita sadari juga, kepercayaan ini menjadi sistem konservasi alami yang selama ribuan tahun melindungi hutan Mentawai. Sehingga hilangnya Arat Sabulungan bukan hanya bisa mengancam budaya Mentawai tetapi juga kelestarian hutan Mentawai,” lanjut Rengga.

Rencananya, pameran ini sendiri akan berlangsung hingga 15 Desember 2019. Selain pameran foto, akan diselenggarakan juga bedah buku foto "Disrupsi" dan diskusi "Why Print is Matter" dengan menghadirkan narasumber para penggiat penerbitan indie yang fokus pada ranah buku foto dan buku seni.

Para pnerbit media konvensional dewasa ini memang tengah berjuang agar tidak punah dengan terus merilis produk-produk fisik mereka. Di tengah masa-masa paceklik penerbitan konvensional ini pun muncul kejutan yang justru lahir dari ranah non mainstream. Dengan merk dagang yang terbilang baru, mereka cukup percaya diri untuk terus memproduksi rilisan cetak.

Gilanya lagi, kata Rengga, mereka berani menerbitkan produk-produk yang tidak populer di kalangan masyarakat luas. Sebut saja majalah indie, photo book, art book atau bahkan zine.

Apa yang melatarbelakangi kemunculan mereka? Visi yang mereka miliki, dan strategi mereka bertahan, menurutnya, akan dibahas dalam diskusi "Why Print is Matter" pada 12 Desember di Matalokal M Bloc Space, Jakarta. (RO/M-2)

Baca Juga

ANT/Rivan Awal Lingga

Kali Kedua Sejauh Mata Memandang jadi Dewi Fashion Knights

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 01 Desember 2020, 19:20 WIB
SMM mengusung koleksi yang terinspirasi dari proses daur dan memberi nafas baru untuk bahan kain yang tidak terpakai dan...
Omar HAJ KADOUR / AFP

Astronom Australia Berhasil Potret Jutaan Galaksi Baru

👤Bagus Pradana 🕔Selasa 01 Desember 2020, 15:15 WIB
Setelah melalui tahap analisis yang cukup panjang, para astronom mengungkapkan bahwa proyek ini berhasil memetakan total tiga juta galaksi...
Dok. Instangram @kinosaurusjakarta

Kinosaurus Tutup Ruang Putar Bioskopnya

👤Fathurrozak 🕔Selasa 01 Desember 2020, 14:45 WIB
Meski menutup ruang putar yang telah berjalan lima tahun, Kinosaurus akan terus ada dengan wujud...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya