Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
HANYA dalam tempo 24 jam setelah dirilis, akhir November 2018, trailer perdana The Lion King versi live action ditonton lebih dari 223 juta kali oleh warganet sedunia. Capaian itu menjadikannya sebagai salah satu trailer film yang paling banyak disaksikan, setelah Avengers: End Game, sekaligus membuktikan betapa tinggi antusiasme publik terhadap kehadiran warga Pride Rock.
The Lion King versi live action yang sebenarnya hidup karena roh CGI pekan ini mulai beredar di bioskop memang memiliki tampilan visual yang teramat impresif. Kisah singa muda, Simba, yang harus tersingkir dari Pride Rock menjadi terlihat lebih realistis dengan sentuhan photorealism.
Film animasi yang pertama rilis pada 25 tahun lalu itu mungkin akan jadi pengalaman baru bagi para generasi saat ini maupun sebelumnya, ketika menyaksikan kisah klasik dalam balutan visual realis. Begitu nyatanya seolah-olah kita memang tengah menonton singa tulen dan Pride Rock yang meski suatu tempat antah-berantah, kita akan teryakinkan ia berada di belahan Afrika.
Namun, keunggulan visual film besutan Jon Favreau itu, yang juga menggarap remake The Jungle Book, ternyata tidak cukup menjadikannya istimewa secara keseluruhan. Malah kelebihan tersebut menjadikan film terasa jomplang. Ironis.
Di luar aspek visual, terasa betapa lemahnya penggarapan ulang ini untuk mengantarkan ikatan emosi penontonnya pada jalan cerita. The Lion King terkesan hanya menuangkan ‘imajinasi’ visual tanpa membangun tulang punggung kisahnya secara kuat.
Narasi benar-benar hampir 90% sama dengan versi 1994. Tidak ada pembaruan menonjol dari segi jalan cerita, linear, dan amat patuh pada screenplay mula. Mungkin hal tersebut disengaja agar The Lion King 2019 tetap bisa dinikmati sebagai nostalgia bagi generasi lama.
Yang juga disayangkan ialah ketiadaan jejak ciri para aktor utama dalam gerak atau mimik karakter-karakter yang mereka suarakan, terutama Simba dan Nala. Tentu banyak penonton yang semula berharap lebih dengan melihat adanya Beyonce atau Donald Glover (Childish Gambino) yang tarian This is America-nya sukar kita lupakan.
Hampa
Untungnya, performa Seth Rogen dan Billy Eichner sebagai Pumbaa dan Timon yang cukup menghidupkan emosi dari para karakter The Lion King. Billy Eichner memberi interpretasi baru pada karakter Timon yang teatrikal itu. Kedua karakter yang dulunya memang diciptakan sebagai karakter tambahan untuk menambah kesan komikal, sukses menjadi scene stealer.
Dalam remake ini, duo karakter utama yang ada di Pride Rock malah terkesan tanpa emosi sebab hiperrealisnya. Kita hanya akan mendengar singa berbicara ala manusia, dengan suara Donald atau suara Beyonce. Namun, tidak dibarengi dengan emosi pada mimik maupun gestur halus para karakter yang menggetarkan emosi kita selaku penonton, sebagaimana dulu pernah dilakukan Simba dkk di 1994.
Favreau tampaknya hanya mengandalkan sisi kecanggihan visual tanpa membedah kembali cerita untuk memberi kekuatan plot. Alhasil, scene demi scene memang cukup memukau dengan gambar yang disajikan, tetapi menjadi terkesan cerita dibubuhkan ala kadarnya.
Tidak ada improvisasi signifikan, menjadikan kita hanya seolah-olah menonton dokumenter National Geographic atau Animal Planet dengan suara hewan yang di-dubbing manusia. (M-2)
DKI Jakarta menyelenggarakan doa bersama lintas agama dan hiburan lainnya termasuk konser.
MEMPERINGATI delapan dekade perjalanan organisasi, Pengurus Pusat Pemuda Katolik melaksanakan kunjungan kasih ke Panti Asuhan Pelayanan Kasih Bakti Mandiri, Sabtu (15/11).
Kolaborasi antara Loket, Indodana, dan TikTok dalam forum ini menegaskan pentingnya sinergi antara data, layanan finansial, dan pemasaran digital.
Tiga perangkat terbarunya yakni Xiaomi Watch S4, Xiaomi OpenWear Stereo Pro, dan Xiaomi Smart Band 10 Glimmer Edition
Kehadiran Pagaehun menjadikan Icon Bali sebagai mal pertama yang menghadirkan konser publik artis K-Pop Korea di Bali.
Lebih dari dua dekade perjalanan memperlihatkan konsistensi Muchtar P Simanjuntak dalam membangun visi besar. Ia tidak pernah berhenti menekankan pentingnya kolaborasi dan keberlanjutan.
Dengan mempertemukan lagi Tom Hanks dan Robin Wright, film Here sukses menampilkan eksperimen sinematik yang out of the box, tetapi sebaliknya dari sisi emosional.
Film ini berkisah tentang teror mengerikan yang terjadi di rumah tua milik kolektor bernama Risang Wisangko.
Kinds of Kindness terdiri atas tiga bagian cerita dibintangi oleh pemeran yang sama. Membawa kembali komedi gelap nan absurd sang sutradara.
Dalam catatan Koalisi Seni, sepanjang 2010-2023 ada 40 kasus pelanggaran kebebasan di sektor film. Terbanyak ketiga dari seluruh sektor kesenian.
Po karakter utama dalam franchise Kung Fu Panda melanjutkan petualangannya dalam Kung Fu Panda 4 yang rilis pada Minggu (3/3/24).
Ia pun merasa senang bisa memerankan karakter perempuan yang berani menyuarakan pendapat dan gagasannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved