Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
TAICHING: Banyak pemilih muda yang belum mendapatkan informasi tentang pemilu. Sudah saatnya bangkit dan cari tahu.
DI salah satu sudut kawasan wisata Kota Tua Jakarta, Ratu Anisa Lestari, siswi kelas SMKN 2 Jakarta berbincang dengan salah satu pedagang yang tengah mangkal. Perbincangan mereka, seputar pesta demokrasi yang menghitung hari bergulir. Ratu memang belum punya hak untuk memilih, tetapi apa yang ia cari?
Cara itu dilakukan Ratu sebagai medium diskusi dan cara mencari tahu kesiapan warga menyambut pesta demokrasi. Ratu bukan satu-satunya anak muda yang serius membahas tema proses demokrasi itu.
Kyrei Vixy Chika Dimarsha, siswi SMA 87 Jakarta yang baru saja menjalankan ujian nasional, tidak mau ketinggalan. Kyrei, tahun ini menjadi pemilih pemula. Dari jauh hari sudah fokus pada isu ini dan punya cara melacak para calon yang menjadi representasinya di lembaga legislatif.
"Aku nyari tahu dari berbagai paltform berita, bukan hanya media sosial, seperti Twitter atau Instagram. Berbagai material yang bergambar itu bikin fun untuk baca infonya dan bantu banget pemilih baru kayak aku. Di beberapa kanal ada yang menyediakan rekam jejak para calon yang akan mewakili kita, membahas caleg, dan banyak partainya," ungkapnya.
Kyrei pun antusias mendapatkan edukasi politik melakui kegiatan Aku Cinta Indonesia dengan tajuk Gue Pilih Peduli. Kegiatan itu dibuat lembaga nirlaba Yayasan Bela Negara (Beneran) Indonesia, bentukan pasangan Avia Destimianti dan Angsoka Yorintha Paundralingga, yang berlatar belakang disiplin ilmu kewarganegaraan (civic education).
Mereka ingin kegiatan itu menjadi media bagi anak muda memahami perbedaan dan membentuk sikap peduli. Apalagi jelang pemilu, pendidikan politik penting bagi pembelajaran bagi siswa SMA yang kebanyakan pemilih pemula.
"Kami ingin tunjukan pendidikan kewarganegaraan secara relevan, pendidikan baru nyangkut dan relevan kalau ada tujuannya. Anak-anak melihat relevan itu juga ber-rate kalau pendidikannya nyantol, berkenaan dengan hidup mereka. Makanya kami gunakan metode permainan interaktif, bukan kuno, tapi juga bisa dengan pendekatan kekinian," ungkap Avi, pendiri Beneran Indonesia, di sela kegiatan Gue Pilih Peduli, di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Sabtu (6/4).
Lebih lanjut, Avi mengungkapkan, banyak guru pendidikan kewarganegaraan yang kreatif, hanya tangan mereka terbatas. Di samping itu, pendidikan politik bukan hanya peran sekolah, melainkan juga perlu peran keluarga dan komunitas.
Ia menambahkan, pemilu seharusnya menjadi pesta demokrasi yang menyenangkan. Ia melihat banyak anak-anak yang mulai apatis, melihat pemilu menjadi momok. Untuk itu, Beneran Indonesia ingin tunjukan sikap peduli bisa bermula dari pemilu.
Memulai dari Tangan Sendiri
Saat pemilu, kata Avi, anak muda bisa berkontribusi dan peduli tanpa harus dengan cara yang muluk-muluk. "Kami selalu bilang, mulai dengan yang ada di tangan, sebagian di kegiatan ini ada pemilih pemula dan banyak yang belum memilih. Banyak cara bisa dilakukan untuk mereka yang belum punya hak suara dengan membaca isu, ikut datang ke tempat pemungutan suara, foto hasil penghitungan suara, untuk membuat pemilu ini tetap akuntabel. Itu bisa jadi sedikit kontribusi mereka, termasuk bisa ambil foto penting peristiwa pemilu, mulai dari yang di tangan."
Program Officer Beneran Indonesia Yessica Hannauli, menyebut cara yang dilakukan bukan mendikte para pemilih pemula, melainkan sebagai medium edukasi politik.
"Tujuan kami ingin generasi muda bukan cuma nyinyir, melainkan juga memikirkan permasalahan secara konkret, punya thinking tools, kalau diterapkan dalam kehidupan sebagai warga negara itu kayak gimana sih," tambah Yessica.
Selain berkegiatan dengan permainan yang memantik refleksi pada tiap diskusi, Beneran Indonesia melakukan edukasi politik ke berbagai sekolah, seperti simulasi pemilihan, dimulai dengan mengenalkan kertas suara dan tata caranya.
"Lewat kegiatan ini, aku tahu bagaimana cara melihat teman, cara pandang mereka meski belum memilih, bagaimana aplikasinya dalam memilih, langkahnya, cara menanggapi isu, dan belajar sudut pandang orang lain, jadi enggak close minded. Di sekolah perlu banget ada edukasi konkret seperti simulasi pemilihan karena banyak pemilih baru, termasuk aku," ungkap Kyrei.
Jadi, bagaimana Muda? Tahun ini kamu sudah bisa gunakan hak suara? Memilih peduli itu, bisa dimulai dari yang ada di tangan kita, seperti memahami perbedaan sudut pandang teman kita. (M-3)
How To
Muda sudah punya hak suara untuk menentukan pilihan? Bila kamu gunakan hak suara kamu, ada baiknya perlu perhatikan beberapa kiat ini ya!
1. Pastikan terdaftar sebagai DPT
Sebelum memilih, pastikan kalau nama Muda sudah ada di Daftar Pemilih Tetap (DPT) ya. Kamu bisa mengeceknya di situs Komisi Pemilihan Umum (KPU). Bukan hanya itu, cek juga Muda terdaftar di tempat pemungutan suara (TPS) mana yang sesuai dengan lokasi kamu.
2. Kenali calon representasi kamu
Anak-anak muda tentu punya caranya sendiri dong dalam menentukan pilihan. Pemilihan umum bukan hanya memilih kepala negara dan wakilnya, melainkan juga memilih representatif di parlemen. Nah, calon yang maju itu enggak sedikit lo! Ada banyak banget! Biar enggak bingung, coba cari rekam jejak calon legislatif daerah pilih kamu, bisa lewat media sosial yang dimiliki si calon atau juga melalui kanal-kanal yang menyediakan informasi lebih mendetail tentang para caleg. Muda juga bisa menelusuri profil partai pengusungnya. Ingat, pilihlah yang mewakili representasi kamu ya, termasuk isu yang kamu fokuskan!
Ratu Anisa Lestari
Kelas X SMKN 2 Jakarta
Saya belum punya hak suara. Namun, saya ini perlu dipersiapkan dari jauh hari terkait dengan pendidikan politik. Pendidikan kewarganegaraan di sekolah memang sudah bagus, banyak materi yang mengandung dan membahas tema politik, hanya waktunya terbatas dengan kurikulum sehingga guru juga enggak mungkin memberikan materi sampai akarnya.
Kyrei Vixy Chika Dimarsha
Kelas XII SMAN 82 Jakarta
Aku punya Twitter juga untuk memantau isu politik, seru lihat up and down partai, dan merespons isu negara ini. Aku juga punya konsen ke isu agama, SARA, banyak banget sikap intoleransi, bahkan dari siswa sudah mulai muncul.
Aku juga sempat nanya orangtua. Mereka enggak memaksakan, jadi free will mau pilih apa saja, partai ini plus-minusnya, dijelaskan. Mereka juga kasih edukasi, tapi enggak mungkin aku terima mentah-mentah. Aku juga cari referensi. Pendidikan politik di sekolah ya lewat kewarganegaraan, cuma ikutin silabus guru-guru. Jadi, membahas isunya masih sedikit, misal bagaimana memilih sudut pandang, itu belum terbentuk.
Bagas Fadhil Saputra
Kelas XII SMKN 44 Jakarta
Dahulu punya pikiran, buat apa sih pilih caleg? Enggak penting. Ujungnya bakal korupsi juga. Namun, aku juga mulai mencari informasi termasuk lewat media sosial tentang pentingnya anggota legislatif. Sejauh ini proses edukasi politik di sekolah, ya lewat pemilihan OSIS.
Rio Lambardo
Kelas XI SMAN 27 Jakarta
Aku menilainya untuk menentukan pilihan di pesta demokrasi harus bener hati-hati karena salah memilih risikonya lima tahun ke depan. Bagaimana melihat calon dengan teliti, bisa dari situs web KPU, karakter para calon, dan melihat latar belakang serta rekam jejak mereka
KPK menetapkan Hasto Kristiyanto sebagai tersangka suap terkait buronan Harun Masiku. Hasto disebut aktif mengupayakan Harun memenangkan kursi anggota DPR pada Pemilu 2019.
Bagi Mahfud, batalnya memakai kemeja putih tersebut lima tahun lalu menyimpan pesan tersendiri.
KPID Sulawesi Selatan mengaku belum bisa menindak caleg dan parpol yang mulai mencuri start pada Pemilu 2024.
PENDUKUNG Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kini berbalik mendukung calon presiden (capres) Prabowo Subianto jelang Pilpres 2024.
Beberapa upaya dari KPU untuk mencegah terjadinya kembali korban jiwa dari petugas KPPS.
"Mas Ganjar kan enggak nyapres, enggak nyapres beliau," kata Immanuel di Jakarta, Minggu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved