Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
Tim gabungan dari Rumah Sakit Universitas Heidelberg dan Pusat Penelitian Kanker Jerman atau Deutsches Krebsforschungszentrum (DKFZ) mengembangkan metode baru untuk membaca gambar tumor otak. Metode itu memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menganalisis citra resonansi magnetik standar (MRI). Hasilnya, metode itu bisa menganalisa lebih tepat daripada metode radiologi yang selama ini digunakan dalam pengobatan tumor otak.
Glioma adalah tumor otak yang paling umum dan ganas. Setiap tahunnya, sekitar 4.500 warga di Jerman didiagnosis menderita glioma. Pengobatan tumor otak memerlukan analisa menyeluruh dengan menggunakan MRI. Hal itu juga dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan tumor. Seringkali tumor tidak dapat diangkat seluruhnya dengan operasi, sedangkan kemoterapi atau radioterapi hanya efektif sampai batas tertentu karena sifat tumor yang resisten.
Selain itu, pengukuran manual dalam scan MRI rentan terhadap kesalahan. Akibatnya, hasil pegukuran bisa berbeda.
"Ini dapat memiliki efek negatif pada penilaian respons terapi. Karenanya reproduksibilitas dan ketepatan harus berdasarkan pencitraan yang ilmiah," jelas Direktur Medis Departemen Neuroradiologi di Rumah Sakit Universitas di Heidelberg, Martin Bendszus.
Tim peneliti lalu menggembangkan kecerdasan buatan untuk melakukan pengukuran dalam pindai MRI. Mereka juga mengembangkan replika jaringan saraf untuk memvalidasi secara klinis respon terapeutik dari tumor otak.
Mereka menggunakan data referensi MRI dari hampir 500 pasien tumor otak di Rumah Sakit Universitas Heidelberg.
Dengan algoritma tertentu, jaringan saraf tiruan dapat secara otomatis mengenali dan melokalisasi tumor otak. Selain itu, algoritma itu didesain untuk mengukur secara volumetrik pada informasi pasien seperti edema peritumoral. Algoritma itu juga bisa menilai respon tumor terhadap terapi secara tepat.
BACA JUGA: Otak Perempuan Lebih Muda Daripada Milik Pria
"Evaluasi lebih dari 2.000 MRI dari 534 pasien glioblastoma dari seluruh Eropa menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komputer memungkinkan penilaian respons terapi yang lebih andal daripada metode pengukuran manual konvensional. Kami mampu meningkatkan keandalan penilaian hingga 36%`. Ini bisa menjadi penting untuk penilaian efikasi terapi berbasis gambar dalam uji klinis. Prediksi kelangsungan hidup secara keseluruhan juga lebih tepat dengan metode baru kami, "jelas ketua tim peneliti dari Departemen Neuroradiologi di Rumah Sakit Universitas Heidelberg, Philipp Kickingereder, sebagaimana dilansir dari Sciencedaily (3/4).
Tujuan dari penelitian ini adalah otomatisasi untuk mempertepat penilaian respon terapi tumor otak dan menciptakan standar dalam studi klinis. Para peneliti juga tengah merancang dan mengevaluasi perangkat lunak yang memungkinkan integrasi metode tersebut dengan alat radiologi.
"Dengan cara ini, kami menciptakan prasyarat pemrosesan otomatis, serta analisis scan MRI tumor otak dalam beberapa menit," jelas Klaus Maier-Hein.
Teknologi baru saat ini sedang berada dalam tahap evaluasi di National Center for Tumor Diseases (NCT) Heidelberg. "Dengan penelitian ini, kami dapat menunjukkan potensi besar jaringan saraf tiruan dalam diagnostik radiologis," pungkas Philipp Kickingereder. (M-2)
Apple resmi merilis iOS 26.2.1 Januari 2026. Simak panduan update, fitur AirTag 2, dan daftar iPhone yang kompatibel mulai iPhone 11 hingga iPhone 17.
SASE dapat dianalogikan sebagai “penjaga pintu digital” perusahaan.
Apple resmi merilis iOS 26.2.1. Cek apakah iPhone 13, 14, atau SE Anda masih kebagian update fitur AirTag 2 ini. Berikut daftar lengkap kompatibilitasnya.
Apple merilis iOS 26.2.1 dengan fokus utama dukungan AirTag 2 dan perbaikan bug aplikasi Wallet. Simak rincian lengkap pembaruannya di sini.
Bagi pengguna iPhone yang belum sempat melakukan update ke versi 26.2, pembaruan ini akan digabungkan (bundled) sehingga Anda langsung mendapatkan seluruh fitur baru.
PERDEBATAN tentang kecerdasan buatan kerap terjebak pada dua kutub ekstrem: optimisme teknologi yang nyaris tanpa syarat dan ketakutan apokaliptik yang berlebihan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved