Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Tren Pariwisata 2026: Mengapa Regenerative Hospitality Menjadi Standar Baru dan Bagaimana Garrya Bianti Yogyakarta Beradaptasi

Media Indonesia
10/2/2026 19:30
Tren Pariwisata 2026: Mengapa Regenerative Hospitality Menjadi Standar Baru dan Bagaimana Garrya Bianti Yogyakarta Beradaptasi
Istilah sustainable tourism kini mulai berevolusi menjadi regenerative hospitality.(Dok. Garrya Bianti Yogyakarta)

INDUSTRI pariwisata Indonesia memasuki babak baru di tahun 2026. Istilah sustainable tourism kini mulai berevolusi menjadi regenerative hospitality, sebuah konsep di mana pelaku industri tidak hanya berusaha meminimalisasi dampak negatif, tetapi juga secara aktif memulihkan dan membangun kembali ekosistem sosial-ekonomi di sekitarnya.

Menjawab Tantangan “Conscious Traveler”

Wisatawan modern kini semakin kritis dalam memilih akomodasi. Mereka mencari bukti nyata bagaimana sebuah bisnis berkontribusi pada kemanusiaan dan kesejahteraan lingkungan secara menyeluruh. Tren ini memaksa industri perhotelan untuk melakukan transformasi besar, mulai dari manajemen energi hingga transparansi rantai pasok.

Garrya Bianti Yogyakarta menjawab tantangan global tersebut dengan mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam operasional hotel. Salah satu manifestasi nyatanya adalah penguatan kedaulatan pangan dan restorasi ekonomi di tingkat akar rumput melalui inisiatif unit peternakan etis.

Sinergi Ekonomi Sirkular sebagai Pilar Regeneratif

Sebagai bagian dari strategi besarnya, Garrya Bianti Yogyakarta baru saja meresmikan unit cage-free farm ketiga di Seyegan, Sleman. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi strategis dengan Pusat Pengembangan Ternak Fakultas Peternakan UGM.

Dengan investasi senilai Rp 160 juta, hotel ini memfasilitasi 24 perempuan yang tergabung dalam KWT Tangguh untuk beralih menjadi peternak mandiri. “Bisnis tidak boleh berdiri sebagai ‘menara gading’. Di Garrya Bianti Yogyakarta, kami mengadopsi model di mana pertumbuhan hotel secara langsung memulihkan kesejahteraan komunitas,” jelas Ridwan Heriyadi, General Manager Garrya Bianti Yogyakarta.

Senada dengan visi tersebut, Dr. Ir. Muhsin Al Anas dari PPT Fakultas Peternakan UGM menambahkan, “Dari segi teknis, kami mendampingi agar Ibu-Ibu KWT mampu mengelola manajemen kesehatan ayam dan bio sekurit yang ketat. Dengan sistem cage-free, kita tidak hanya bicara soal etika, tapi juga kualitas produk telur yang sehat bagi konsumen.”

Dampak Holistik: Sosial, Ekonomi, dan Etika

Implementasi ini memberikan dampak pada tiga lini sekaligus:

  • Ekonomi: Hotel bertindak sebagai off-taker tetap, menjamin pendapatan bagi warga desa.
  • Sosial: Pemberdayaan kelompok wanita tani meningkatkan peran perempuan dalam ekonomi keluarga.
  • Etika & kualitas: Pendampingan teknis dari UGM memastikan standar kesejahteraan hewan (animal welfare) yang tinggi, menghasilkan produk pangan yang lebih sehat bagi tamu.

Langkah di Seyegan, Sleman ini memperkuat ekosistem kemitraan yang sebelumnya telah dibangun bersama KWT Rejo Arum dan KWT Jaya Mandiri Abadi. Dengan mengintegrasikan komunitas ke dalam sistem hotel, Garrya Bianti tidak hanya menjual kamar, tetapi juga menawarkan narasi tentang keberpihakan pada lokalitas.

Keberhasilan model ini membuktikan bahwa di tahun 2026, daya saing pariwisata tidak lagi hanya terletak pada fasilitas bintang lima, melainkan pada kemampuan sebuah hotel untuk beregenerasi bersama lingkungannya. Melalui langkah ini, Garrya Bianti Yogyakarta memposisikan diri sebagai katalisator pariwisata yang lebih memanusiakan manusia dan menjaga alam secara berkelanjutan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya