Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Galaksi Hantu CDG-2 Ditemukan Hubble: 99 Persen Materi Gelap

Nadhira Izzati A
11/3/2026 22:39
Galaksi Hantu CDG-2 Ditemukan Hubble: 99 Persen Materi Gelap
Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA/ESA memperlihatkan galaksi CDG-2.(Dok. Nasa)

PARA astronom menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble milik NASA/ESA berhasil mengidentifikasi sebuah fenomena kosmik langka: sebuah galaksi yang hampir seluruhnya didominasi oleh materi gelap. Objek misterius ini diberi nama Candidate Dark Galaxy-2 (CDG-2).

Berbeda dengan galaksi pada umumnya yang bersinar terang dengan miliaran bintang, CDG-2 tampil sangat redup dan nyaris transparan. Penemuan yang dipublikasikan dalam The Astrophysical Journal Letters ini menyebutkan bahwa galaksi "hantu" tersebut terletak di gugus galaksi Perseus, sekitar 300 juta tahun cahaya dari Bumi.

Komposisi Ekstrem: 99 Persen Materi Gelap

Hal yang paling mencengangkan bagi para peneliti adalah komposisi massanya. Materi gelap pada CDG-2 menyumbang hingga 99 persen dari total massanya. Rasio ini dianggap sangat ekstrem karena pada galaksi standar, materi gelap biasanya hanya memiliki proporsi lima kali lipat lebih banyak daripada materi biasa.

Secara visual, CDG-2 hanya memiliki empat gugus bintang bola (globular cluster). Sebagai perbandingan, Galaksi Bima Sakti memiliki lebih dari 150 gugus serupa.

Cahaya dari CDG-2 pun sangat redup, hanya setara dengan sinar 6 juta bintang mirip Matahari, di mana 16 persen dari kecerahan tersebut berasal dari gugusan bola di dalamnya.

Statistik Kunci Galaksi CDG-2

  • Nama: Candidate Dark Galaxy-2 (CDG-2)
  • Lokasi: Gugus Galaksi Perseus
  • Jarak: 300 Juta Tahun Cahaya
  • Komposisi: 99% Materi Gelap
  • Jumlah Gugus Bola: 4

Metode Deteksi: Melacak Jejak yang Tak Terlihat

Materi gelap tidak memantulkan, memancarkan, atau menyerap cahaya, sehingga mustahil dilihat secara langsung. Tim peneliti yang dipimpin oleh David Li dari Universitas Toronto, Kanada, harus menggunakan teknik statistik canggih.

“Ini adalah galaksi pertama yang terdeteksi semata-mata melalui populasi gugus bintang bolanya,” ujar David Li dalam pernyataan resminya. Tim mencari pengelompokan ketat gugus bintang bola sebagai penanda keberadaan populasi bintang yang tersembunyi di bawah kegelapan.

Untuk mengonfirmasi temuan ini, para astronom mengerahkan kekuatan dari tiga observatorium sekaligus:

  • Teleskop Hubble: Mengungkap citra resolusi tinggi dari kumpulan gugus bintang.
  • Teleskop Euclid (ESA): Mengonfirmasi adanya cahaya difus (tersebar) yang sangat redup di sekeliling objek.
  • Teleskop Subaru (Hawaii): Memberikan data pendukung untuk validasi lingkungan galaksi tersebut.

Mengapa CDG-2 Kekurangan Bintang?

Para ilmuwan berteori bahwa minimnya bintang di CDG-2 disebabkan oleh lingkungan ekstrem di gugus Perseus. Sebagian besar materi normal seperti gas hidrogen, yang merupakan bahan baku pembentuk bintang, kemungkinan besar telah "terlucuti" akibat interaksi gravitasi dengan galaksi-galaksi tetangga yang lebih masif.

Namun, gugus bintang bola milik CDG-2 mampu bertahan karena memiliki kepadatan bintang yang sangat besar dan terikat erat secara gravitasi. Ketahanan terhadap gangguan pasang surut gravitasi inilah yang membuat gugusan tersebut menjadi "jejak" yang andal bagi para astronom untuk mengenali galaksi yang nyaris tak terlihat ini.

Penemuan CDG-2 membuka babak baru dalam pemahaman kita tentang bagaimana materi gelap membentuk struktur alam semesta dan bagaimana galaksi dapat bertahan hidup meski kehilangan hampir seluruh materi normalnya. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya