Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Teleskop Hubble Deteksi Tabrakan Asteroid di Sistem Bintang Muda Fomalhaut

Abi Rama
22/12/2025 22:15
Teleskop Hubble Deteksi Tabrakan Asteroid di Sistem Bintang Muda Fomalhaut
Teleskop Hubble merekam cincin puing serta awan debu di sekitar bintang Fomalhaut.(Doc NASA)

TELESKOP Luar Angkasa Hubble mendeteksi jejak tabrakan besar antar benda langit di sistem bintang muda Fomalhaut, yang berjarak sekitar 25 tahun cahaya dari Bumi. Mengutip dari laman Space, pengamatan tersebut menjadi bukti pertama tumbukan antar objek berukuran besar yang berhasil diidentifikasi di sistem planet di luar Tata Surya.

Fenomena ini terungkap melalui kemunculan awan debu terang yang teramati pada 2004 dan kembali terdeteksi pada 2023. Para peneliti menyimpulkan awan debu tersebut merupakan sisa tabrakan dua planetesimal, yakni benda langit berukuran lebih kecil dari planet katai. Tabrakan tidak diamati secara langsung, tetapi dampaknya terlihat dari debu yang memantulkan cahaya bintang induknya.

“Kami tidak melihat langsung dua objek yang bertabrakan, tetapi kami mengamati dampak dari peristiwa tersebut,” kata pemimpin tim peneliti Paul Kalas dari University of California, Berkeley, dalam pernyataannya seperti dikutip dari laman Space.

Fomalhaut diperkirakan berusia sekitar 440 juta tahun, tergolong sangat muda dalam skala astronomi. Sistem bintang muda seperti ini diketahui masih aktif secara dinamis dan kerap mengalami tumbukan antar batuan angkasa, proses yang diyakini berperan penting dalam pembentukan planet.

Penelitian terhadap Fomalhaut telah dilakukan sejak 1993 untuk mencari sisa material pembentuk planet. Melalui pengamatan Hubble, para astronom menemukan piringan puing atau protoplanetary disk di sekitar bintang tersebut. Pada 2008, sebuah titik terang di dalam piringan itu sempat diidentifikasi sebagai planet dan diberi nama Fomalhaut b. Namun, riset terbaru menunjukkan objek tersebut bukan planet.

“Ini merupakan fenomena baru, berupa sumber cahaya yang muncul di sistem planet lalu perlahan menghilang selama lebih dari satu dekade. Objek ini tampak seperti planet karena planet juga terlihat sebagai titik cahaya kecil yang mengorbit bintang,” kata Kalas. 

Berdasarkan tingkat kecerlangannya (seberapa terang objek tersebut), para peneliti memperkirakan planetesimal yang bertabrakan memiliki diameter sekitar 60 kilometer atau lebih. Ukuran ini setidaknya empat kali lebih besar dibandingkan asteroid Chicxulub yang menghantam Bumi 66 juta tahun lalu.

Anggota tim peneliti Mark Wyatt dari University of Cambridge mengatakan sistem Fomalhaut memberikan peluang langka untuk mempelajari proses pembentukan planet. 

“Sistem ini menjadi laboratorium alami untuk memahami bagaimana planetesimal berperilaku saat mengalami tabrakan dan apa saja material penyusunnya,” ujarnya.

Tim peneliti memperkirakan terdapat sekitar 300 juta planetesimal berukuran serupa di wilayah sekitar Fomalhaut. Deteksi gas karbon monoksida sebelumnya di sistem tersebut juga mengindikasikan bahwa objek-objek itu kaya akan zat volatil, seperti hidrogen, nitrogen, oksigen, dan metana, yang umum ditemukan pada komet es.

Pengamatan lanjutan akan dilakukan menggunakan Teleskop Hubble dan James Webb Space Telescope untuk memantau perkembangan awan debu yang terdeteksi pada 2023. Hingga pengamatan terakhir pada Agustus 2025, awan tersebut dilaporkan masih terlihat dan sekitar 30 persen lebih terang dibandingkan awan debu yang diamati sebelumnya.

Sumber: Space



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik