Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Lawan Arus, TikTok Tolak Gunakan Enkripsi End-to-End demi Keamanan Pengguna

Thalatie K Yani
04/3/2026 10:01
Lawan Arus, TikTok Tolak Gunakan Enkripsi End-to-End demi Keamanan Pengguna
Berbeda dengan WhatsApp dan Instagram, TikTok resmi menolak fitur enkripsi end-to-end (E2EE) dengan alasan keamanan anak di bawah umur dan akses penegak hukum.(Unsplash)

TIKTOK secara resmi mengumumkan tidak akan menerapkan fitur enkripsi end-to-end (E2EE) pada layanan pesan langsungnya. Keputusan ini menjadikan TikTok sebagai anomali di tengah tren platform raksasa lain seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan X yang justru berlomba-lomba memperketat privasi melalui teknologi tersebut.

Enkripsi end-to-end adalah sistem keamanan yang memastikan hanya pengirim dan penerima yang dapat membaca isi pesan. Namun, TikTok berargumen fitur ini justru membuat pengguna, terutama anak muda, menjadi kurang aman karena membatasi kemampuan platform dan penegak hukum dalam memantau konten berbahaya.

Dalam pengarahan keamanan di kantor London, TikTok menyatakan bahwa langkah ini adalah keputusan sengaja untuk membedakan diri dari para pesaingnya. Platform milik ByteDance ini menegaskan komitmen mereka untuk melindungi pengguna dari risiko pelecehan dan konten ilegal.

Keamanan Proaktif vs Privasi Absolut

Analis industri media sosial, Matt Navarra, menilai langkah TikTok ini sebagai strategi yang cerdas namun berisiko secara citra.

"Risiko grooming (pendekatan untuk pelecehan) dan pelecehan di pesan langsung sangat nyata. TikTok kini dapat berargumen secara kredibel mereka memprioritaskan 'keamanan proaktif' di atas 'privasi absolut'," ujar Navarra kepada BBC.

Meski begitu, Navarra memperingatkan keputusan ini membuat TikTok tidak sejalan dengan ekspektasi privasi global dan mungkin memperkuat kekhawatiran publik terkait kepemilikan perusahaan oleh pihak Tiongkok, mengingat E2EE sebagian besar dilarang di negara tersebut.

Dukungan dari Organisasi Perlindungan Anak

Keputusan TikTok mendapat sambutan positif dari berbagai lembaga perlindungan anak di Inggris, termasuk NSPCC dan Internet Watch Foundation (IWF). Mereka khawatir enkripsi total akan menghambat deteksi eksploitasi seksual anak secara daring.

Rani Govender dari NSPCC menyatakan, "Kami tahu betapa berisikonya platform terenkripsi end-to-end bagi anak-anak, karena mencegah deteksi pelecehan seksual dan eksploitasi anak."

Senada dengan hal tersebut, Dan Sexton dari IWF menyebut keputusan TikTok sebagai preseden penting di tengah terburu-burunya platform lain menerapkan enkripsi tanpa memikirkan implikasinya.

Standar Keamanan Tetap Terjaga

Meski menolak E2EE, TikTok menjamin bahwa semua pesan langsung tetap dilindungi dengan enkripsi standar, serupa dengan layanan seperti Gmail. TikTok menegaskan bahwa hanya karyawan resmi yang memiliki akses untuk melihat pesan, itu pun hanya dalam situasi tertentu seperti permintaan hukum yang sah atau laporan perilaku berbahaya dari pengguna.

Langkah ini dipandang oleh para pengamat industri sebagai upaya TikTok untuk tetap kooperatif dengan regulator dan penegak hukum, terutama dalam menjaga basis pengguna mereka yang didominasi oleh kalangan muda di seluruh dunia. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya