Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronom berhasil memetakan sebuah "jalan tol magnetik" raksasa yang memicu pembentukan bintang secara masif dan angin galaksi dahsyat berkecepatan 1,1 juta mil per jam (sekitar 500 kilometer per detik). Menggunakan teleskop Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA), tim peneliti internasional menghasilkan peta magnetik paling detail yang pernah dibuat dari sistem galaksi yang sedang menyatu, Arp 220.
Arp 220 terletak sekitar 250 juta tahun cahaya dari Bumi. Sistem ini merupakan galaksi inframerah yang sangat terang, bersinar setara dengan seratus galaksi Bimasakti, yang terbentuk dari tabrakan dua galaksi spiral. Karena diselimuti debu tebal, Arp 220 menjadi laboratorium alami bagi para ilmuwan untuk mempelajari proses pembentukan galaksi yang terjadi lebih dari 10 miliar tahun lalu di alam semesta awal.
"Kami menggunakan ALMA untuk memetakan orientasi dan kekuatan medan magnet di galaksi kembar tersebut," kata pemimpin tim, Enrique Lopez-Rodriguez dari University of South Carolina.
Pengamatan terbaru ini menunjukkan medan magnet memegang peran sentral dalam melontarkan dan membentuk angin kencang yang keluar dari inti kembar Arp 220. Angin ini bergerak 1.500 kali lebih cepat dari kecepatan suara, membawa gas, debu, logam, hingga sinar kosmik jauh ke luar galaksi.
Sebelumnya, kekuatan pendorong di balik aliran keluar (outflow) tersebut dianggap murni berasal dari pembentukan bintang yang intens atau aktivitas lubang hitam. Namun, teknologi resolusi tinggi ALMA berhasil mengungkap struktur magnetik yang sangat terorganisir di sepanjang aliran gas tersebut.
"Ini mengungkap detail yang sebelumnya tidak terlihat tentang inti Arp 220 yang tertutup debu dan aliran keluar molekulernya," jelas Josep Miquel Girart, peneliti dari Institut de Ciencies de l'Espai.
Di bagian inti barat Arp 220, para ilmuwan menemukan struktur magnetik yang memandu dan mempercepat material yang meluncur keluar. Sementara di inti timur, terdapat pola magnetik berbentuk spiral yang tertanam di dalam piringan gas yang berputar.
Penemuan paling menarik adalah adanya "jembatan" debu terpolarisasi yang menghubungkan kedua pusat galaksi tersebut. Jembatan magnetik ini berfungsi menyalurkan material di antara dua inti yang sedang menyatu. Pengukuran menunjukkan bahwa kekuatan medan magnet di area ini mencapai ratusan hingga ribuan kali lebih kuat daripada yang biasanya ditemukan di Bimasakti.
"Saat Arp 220 diamati secara utuh, ini adalah salah satu tempat terbaik di alam semesta bagi para astronom untuk mempelajari bagaimana gravitasi, pembentukan bintang, dan angin kencang bekerja sama dengan medan magnet yang kuat untuk membentuk kembali sebuah galaksi," tambah Lopez-Rodriguez.
Penemuan ini menunjukkan medan magnet yang kuat dan terorganisir kemungkinan besar umum terjadi pada galaksi-galaksi purba di awal terbentuknya alam semesta. Melalui pengaturan angin galaksi, magnetisme berperan besar dalam menentukan kapan sebuah galaksi berhenti membentuk bintang dan bagaimana mereka menyebarkan material ke ruang antargalaksi.
Hasil penelitian ini telah diterbitkan pada 2 Januari dalam jurnal The Astrophysical Journal Letters. (Space/Z-2)
Astronom berhasil abadikan fase 'remaja' sistem planet yang penuh kekacauan menggunakan teleskop ALMA. Temuan ini jelaskan asal-usul Bulan dan Sabuk Kuiper.
Melalui teleskop ALMA, ilmuwan berhasil menangkap gambar detail jet bintang muda SVS 13 di Nebula NGC 1333. Penemuan ini mengungkap sejarah ledakan energi pembentukan bintang.
Astronom mengamati bintang raksasa merah DFK 52 di galaksi Bima Sakti yang melepaskan awan gas dan debu terbesar yang pernah ditemukan.
Astronom dari Chalmers University menemukan awan gas dan debu terbesar yang pernah diamati mengelilingi bintang raksasa merah Stephenson 2 DFK 52.
Hasil pengamatan ini membuka babak baru dalam pemahaman ilmiah tentang bagaimana planet-planet terbentuk dan berevolusi dari cakram gas dan debu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved