Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
BEBERAPA waktu lalu media sosial TikTok dan Instagram diramaikan oleh narasi mencekam yang menyebutkan bahwa Bumi akan kehilangan gravitasi selama tujuh detik pada 12 Agustus 2026. Meski telah dibagikan ratusan ribu kali, klaim ini dipastikan murni hoaks dan sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah.
Narasi viral tersebut mengeklaim bahwa NASA telah mengetahui fenomena ini melalui dokumen rahasia bocoran tahun 2024 berjudul “Project Anchor”. Proyek tersebut disebut-sebut menelan anggaran fantastis hingga 89 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.502 triliun untuk mengantisipasi jatuhnya puluhan juta korban jiwa saat gravitasi kembali normal.
Isu ini terasa meyakinkan bagi sebagian orang karena tanggal yang disebutkan, yakni 12 Agustus 2026, bertepatan dengan fenomena astronomi nyata: Gerhana Matahari Total. Fenomena ini akan melintasi wilayah Arktik hingga Spanyol.
Namun, para ahli menegaskan bahwa gerhana adalah peristiwa posisi benda langit yang rutin dan dapat diprediksi secara akurat. Menghubungkan gerhana dengan hilangnya gaya tarik bumi hanyalah taktik untuk menarik perhatian (clickbait) tanpa dasar fisika yang jelas.
Dalam narasi yang beredar, disebutkan bahwa pada detik ketiga hingga keempat, manusia akan melayang setinggi 15-20 meter sebelum akhirnya jatuh menghantam tanah di detik ketujuh. Namun, klaim dramatis ini langsung terbantahkan oleh hukum dasar fisika.
Berdasarkan Hukum Pertama Newton (Inersia), benda yang diam akan tetap diam kecuali ada gaya luar yang memengaruhinya. Jika gravitasi mendadak hilang, manusia tidak akan otomatis terlempar ke angkasa. Tanpa adanya gaya dorong yang kuat, seperti melompat, mustahil seseorang bisa melayang hingga puluhan meter dalam hitungan detik.
Penyebar hoaks juga mencatut istilah sains seperti "perpotongan dua gelombang gravitasi dari lubang hitam". Faktanya, gelombang gravitasi bersifat sangat lemah dan hanya bisa dideteksi oleh instrumen superpresisi seperti LIGO. Gelombang tersebut tidak memiliki kekuatan untuk membatalkan gaya tarik sebuah planet.
Secara sains, satu-satunya cara Bumi kehilangan gravitasi adalah jika seluruhsementara mulai dari inti hingga kerak bumi lenyap seketika. Selama Bumi masih ada sebagai planet bermassa, gravitasi akan tetap bekerja tanpa bisa "dimatikan" sementara.
Dapat dipastikan bahwa kabar Bumi kehilangan gravitasi pada 2026 adalah informasi palsu. Di tengah banjir informasi saat ini, masyarakat diimbau untuk lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang menyebarkan ketakutan tanpa bukti ilmiah yang valid.
Sumber: IFL Science
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved