Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

NASA Luncurkan AVIRIS-5, Sensor Canggih Pemburu Mineral Kritis di AS

Thalatie K Yani
26/12/2025 08:46
NASA Luncurkan AVIRIS-5, Sensor Canggih Pemburu Mineral Kritis di AS
NASA dan USGS menggunakan sensor AVIRIS-5 untuk memetakan mineral kritis di Amerika Barat guna memperkuat keamanan ekonomi dan teknologi nasional.(NASA)

NASA memperkenalkan teknologi sensor terbaru bernama AVIRIS-5 (Airborne Visible/Infrared Imaging Spectrometer-5) untuk mempercepat pencarian mineral kritis di wilayah Amerika Barat. Sensor berukuran oven mikrowave ini merupakan hasil pengembangan terbaru dari teknologi Jet Propulsion Laboratory (JPL) yang telah dirintis sejak dekade 1970-an.

AVIRIS-5 menjadi perangkat andalan dalam proyek riset gabungan antara NASA dan Survei Geologi AS (USGS) yang dinamakan GEMx. Alat ini dipasang pada bagian hidung pesawat riset dataran tinggi NASA, ER-2, untuk mendeteksi jejak mineral di permukaan bumi dari ketinggian.

Memburu "Sidik Jari Spektral"

Banyak mineral kritis memiliki struktur kimia unik yang memantulkan panjang gelombang cahaya tertentu. AVIRIS-5 bekerja dengan cara mendeteksi pantulan cahaya tersebut untuk mengungkap "sidik jari spektral" yang spesifik dari setiap mineral.

Wilayah gurun di Amerika Barat menjadi lokasi ideal untuk penelitian ini karena minimnya tutupan pohon yang dapat menghalangi pemindaian. Sejak 2023, tim gabungan GEMx telah memetakan wilayah seluas lebih dari 950.000 kilometer persegi.

Mineral yang menjadi target utama meliputi aluminium, litium, seng, grafit, tungsten, dan titanium. Berdasarkan definisi USGS, mineral-mineral ini memiliki dampak signifikan bagi keamanan ekonomi dan nasional karena merupakan komponen kunci dalam produksi semikonduktor, sistem tenaga surya, hingga baterai kendaraan listrik.

Keamanan Ekonomi dan Kedaulatan Energi

Langkah ini sejalan dengan ambisi pemerintah Amerika Serikat untuk meningkatkan kemandirian sumber daya. Pada Maret 2025, Gedung Putih meresmikan Perintah Eksekutif untuk menggenjot produksi mineral ini semaksimal mungkin. Kebijakan tersebut menyatakan keamanan nasional kini terancam ketergantungan pada produksi mineral dari kekuatan asing yang dianggap tidak bersahabat.

Selain berburu mineral di gurun, teknologi spektrometer serupa yang dirancang JPL juga telah digunakan dalam berbagai misi luar angkasa untuk mempelajari Mars, Merkurius, dan Pluto.

"Salah satunya sedang dalam perjalanan menuju Europa, bulan samudra milik Jupiter, untuk mencari bahan kimia yang dibutuhkan guna mendukung kehidupan," tulis juru bicara JPL dalam sebuah pernyataan.

Dana Chadwick, ilmuwan sistem Bumi dari JPL, menyatakan potensi AVIRIS-5 jauh melampaui urusan pertambangan. "Luasnya pertanyaan yang bisa dijawab dengan teknologi ini sangat menggembirakan, mulai dari manajemen lahan, sumber daya air pada tumpukan salju, hingga risiko kebakaran hutan," ujar Chadwick. "Mineral kritis hanyalah awal bagi AVIRIS-5." (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik